Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Bulan Madu


__ADS_3

Sore itu Nisa dan suaminya melakukan penerbangan ke pulau Kalimantan. Mereka akan berbulan madu di sebuah pulau kecil yang ada disana, Derawan Island.


Setelah melalui perjalanan darat yang lumayan melelahkan, akhirnya mereka tiba ditempat yang dituju. Rasa lelah yang mereka rasakan itu terbayarkan oleh pemandangan yang menakjubkan.


Karena hari sudah malam, mereka menuju penginapan disebuah resort yang berada tepat dipinggir pantai. Setelah check in mereka langsung beristirahat.


" Austin terima kasih banyak, karena sudah memenuhi keinginanku untuk datang kesini." ucap Nisa ketika berada diatas ranjang, usai percintaan panas yang tertunda pada malam pertama mereka setelah menjadi pasangan sah.


" Apapun itu sayang asal kamu bahagia, terima kasih juga sudah menjaga hatimu selama lima tahun ini." ujar Austin seraya mengecup puncak kepala istrinya yang sedang berada dalam dekapannya.


Nisa semakin erat memeluk suaminya, ia merasa sangat bahagia saat ini terlihat dari senyumnya yang terus mengembang.


" Sepertinya istriku ini sangat senang."


" Tentu saja dari dulu aku selalu membayangkan bisa kesini bersama orang yang aku cintai."


" Memangnya kamu pernah kesini sebelumnya ?"


" Pernah, beberapa tahun yang lalu waktu gathering bersama karyawan kantor." ucap Nisa sambil menutup mulutnya karena menguap lebar.


" Baiklah ayo tidur, besok kita pergi kemanapun kamu mau." ujar Austin seraya menyelimuti istrinya itu.


Keesokan harinya


Pagi ini sepasang suami istri itu sedang berjalan jalan dipinggir pantai, mereka sangat takjub dengan pemandangan alam yang berada didepan mata itu.


.



Setelah puas berjalan di pantai, Nisa mengajak suaminya naik sebuah perahu kecil untuk mengelilingi hutan mangrove yang ada disana.a



" Austin bagaimana kalau kita snorkling. Kamu tahu, pulau ini terkenal dengan ubur-uburnya." ujar Nisa.


" Enggak sayang, aku tidak bisa bayangin makhluk lembek itu akan menyengat kulitku."


" Kamu penakut sekali, ubur-ubur disini tidak menyengat. Ayolah temani aku." rengek Nisa.


" Baiklah nyonya Austin kamu selalu menang, tapi tidak gratis ya."


" Astaga, sama istri sendiri sangat perhitungan." Cebik Nisa."


" Kamu harus membayarnya nanti malam sayang." bisik Austin.


Beberapa saat kemudian setelah memakai perlengkapan untuk snorkling seperti kaca mata selam dan snorkel. Mereka memulai kegiatan menyelamnya.


Nisa merasa sangat takjub setelah berada di bawah permukaan air, banyak ubur-ubur yang mengelilinginya. Ia tampak sangat bahagia bisa berbaur dengan salah satu makhluk yang indah itu.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Austin, ia terlihat jijik ketika makhluk itu mendekatinya. Tapi demi istrinya ia rela melakukannya, meski berbagai macam umpatan ia keluarkan.


" Austin kamu kenapa ?" tanya Nisa ketika mereka sudah berada di tepi pantai dan duduk dengan beralaskan hamparan pasir putih.


" Sepertinya aku mual sayang." ucap Austin ia nampak pucat.


" Kamu sakit, kita kembali ke resort saja ya."


" Enggak sayang, aku cuma merasa jijik saja sama makhluk lembek itu."


" Astaga kamu penakut sekali."


" Aku tidak takut sayang cuma jijik."


" Bilang saja takut."


" Aku tidak takut sayang." ujar Austin seraya menggelitik pinggang istrinya itu.


" Austin ampun." teriak Nisa ia berlari melewati hamparan pasir itu untuk menghindari kejaran suaminya, mereka kelihatan sangat bahagia.Tapi tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya.


☆☆


Tak terasa sudah satu minggu mereka menikmati bulan madunya, sekarang mereka sudah kembali ke kota S.


" Sayang bagaimana kalau kita cari rumah baru untuk kita tinggalin." tanya Austin ketika mereka sedang sarapan bersama.


" Tapi aku mau tinggal disini, bolehkan ma." sahut Nisa meminta persetujuan ibu mertuanya.


" Tapi kalau kita disini tidak bisa mandiri sayang."


" Kamu tega sekali, aku baru merasakan punya orang tua sudah kamu pisahin."


" Sepertinya sebentar lagi kamu akan merebut orang tuaku." ujar Austin pura-pura ngambek.


" Biarin saja ya kan ma, pa."


Tuan Michael dan nyonya Celine tergelak mendengar perdebatan antara anak dan menantunya itu. Mereka sangat bersyukur, keluarganya sekarang menjadi hangat kembali. Apalagi sikap menantunya itu yang sangat perhatian dan menyayanginya.


" Sayang aku berangkat dulu ya, nanti kalau bosan dirumah kamu bisa jalan-jalan. Nanti supir yang akan mengantarmu." ucap Austin ketika berada didepan pintu rumahnya.


" Tapi aku bisa setir mobil sendiri Austin."


" Aku tidak suka dibantah. oke."


" Baiklah." sahut Nisa malas.


" Sini !" Austin menyuruh istrinya itu untuk mendekat.


" Jangan bandel, aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu." ujar Austin sambil mengecup bibir istrinya itu beberapa kali. Setelah itu ia berangkat ke kantornya.

__ADS_1


☆☆


Siang harinya Nisa benar-benar merasa bosan. Biasanya ia menghabiskan waktunya di kantor seharian, sekarang ia benar-benar menjadi ibu rumah tangga yang full time di rumah.


Sambil menunggu anaknya pulang sekolah, ia berencana ke kantor suaminya untuk mengajaknya makan siang.


Tampak Nisa menghampiri supir yang sudah disiapkan oleh suaminya itu.


" Pak, kita ke kantor suami saya ya !" ujar Nisa seraya masuk kedalam mobilnya.


" Baik non." sahut pak Ahmad.


Mobil itu melaju kencang menuju kantor GG Corps. Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ditempat tersebut.


" Selamat datang nona." sapa salah satu Karyawan disana saat Nisa baru turun dari mobilnya.


Ini adalah pertama kalinya Nisa datang ke kantor suaminya, ia tampak kagum melihat sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah.


Ketika ia memasuki kantor tersebut banyak pasang mata yang melihatnya, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu adalah istri dari bossnya. Karena pernikahan mereka sangat terburu buru dan bersifat tertutup hanya beberapa rekan bisnis yang diundang.


" Siang mbak, apa suami saya ada ?" tanya Nisa ketika berada di meja resepsionis.


" Maaf bu, kalau boleh tahu siapa nama suaminya." tanya seorang wanita cantik yang berada dibelakang meja resepsionis tersebut.


" Tuan Austin."


Wanita itu tampak mengernyitkan dahinya, " Maaf bu disini yang bernama tuan Austin cuma satu beliau adalah CEO di kantor ini."


" Iya beliau suami saya."


" Maaf bu tapi setahu kami beliau adalah suaminya nona Felicya." ujar wanita tersebut.


Nisa menghela napas panjang, sepertinya karyawan suaminya itu belum mengetahui siapa dirinya tapi saat ini ia malas berdebat.


" Jadi saya tidak bisa bertemu dengannya."


" Ibu harus membuat janji dulu."


" Apa saya boleh menunggu disana ?" tanya Nisa menunjuk beberapa sofa yang dijadikan sebagai tempat tunggu.


" Silahkan bu."


Nisa menuju sofa tersebut dan duduk disana, ia sudah menghubungi suaminya tapi ponselnya selalu tidak aktif.


Hampir dua jam ia menunggu, tapi Austin tak kunjung muncul. Ia merasa sangat mengantuk. Lebih baik ia tidur sebentar pikirnya, dengan bersandaran di sofa ia memejamkan matanya.


Beberapa saat kemudian setelah meeting diluar, Austin kembali ke kantornya bersama Wira.


" Maaf tuan ada tamu sedang menunggu anda." ujar seorang resepsionis tersebut.

__ADS_1


" Siapa ?"


" Beliau menunggu anda disana." resepsionis itu menunjuk kearah Nisa yang sudah terlelap.


__ADS_2