
"Maaf ya sudah melibatkanmu dalam masalahku ini." Nisa tampak menyesal.
"Nggak apa-apa kita kan berteman, jadi harus saling menolong."
"Terima kasih, apa mau aku antar ke dokter ?" tanya Nisa ketika ia baru selesai mengobati wajah Tommy yang penuh memar bekas pukulan.
"Nggak perlu." sahut Tommy sembari tersenyum.
"tapi sepertinya lukamu cukup serius." ujar Nisa tampak kawatir.
"Apa kamu masih mencintainya, Nis ?" sela Tommy, ia menatap intens wanita yang ada di depannya itu.
Nisa tidak menjawabnya, dia memalingkan wajahnya ke sembarangan arah.
"Aku tahu kamu masih mencintainya." ucap Tommy lagi dengan getir.
"Dia sudah menikah." jawab Nisa.
"Apa kamu tidak ingin, membuka hati kamu buat orang lain ?"
Lagi-lagi Nisa tidak menjawabnya, dia diam membisu dengan pikirannya sendiri. Kalau boleh jujur sampai saat ini pun hatinya masih milik Austin sepenuhnya, sudah bertahun-tahun dia berusaha untuk melupakan cinta pertamanya itu tapi selalu gagal.
Dia juga merasa kalau Austin sebenarnya memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi keadaan lah yang harus membuatnya berpura-pura untuk membencinya.
Seandainya boleh egois dia ingin berlari dan memeluk laki-laki itu dan mendekapnya dengan erat, tapi itu hanya di angan-angan saja, dia harus melihat kenyataan kalau sekarang pria itu sudah menjadi milik orang lain.
Sepenggal lagu Cinta tak harus memiliki dari ST12 terdengar mengalun indah di Restonya itu seperti mewakili perasaannya saat ini.
Cinta memang tak selamanya indah
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Begitu yang ku rasakan kini
Perih hatiku tinggal kehancuran
Tak pernah terbayangkan
Dan tak pernah terpikirkan
Cintamu dan cintaku akan berpisah
Namun harus ku relakan kenyataan ini
Untuk hidup mu agar lebih baik
Maafkan aku setulus hatimu
__ADS_1
Kepergian diriku itu bukan keinginanku
Terima saja dengan pilihan yang lain
dari orang tuamu
Jangan bersedih dengan keadaan ini
Jika kamu menangis aku juga menangis
Terima saja semua ini ku lakukan untukmu
"Aku akan menunggumu siap, Nis." ujar Tommy yang langsung membuyarkan lamunan Nisa.
"Maaf....." Nisa belum menyelesaikan perkataannya tapi Tommy sudah menyelanya.
Tommy menatap Nisa dengan intens lalu ia berdiri dari duduknya, "Kamu tidak lapar ?" sela Tommy untuk mengalihkan, terlalu sakit baginya mendengar penolakan itu.
Nisa terlihat murung, kemudian ia melangkahkan kakinya mengikuti Tommy keluar dari kantor tersebut.
Di tempat lain Austin mengurungkan niatnya untuk ke kantor, dia lebih memilih menyendiri di Apartemennya. Menghabiskan beberapa gelas Wine untuk menghilangkan kegalauannya.
"Dia milikku dan selamanya akan menjadi milikku." teriak Austin, di lemparnya gelas kosong itu ke sembarangan arah untuk meluapkan emosinya.
Drtt...Drttt.. Ponselnya berdering, tak lama kemudian dia mengangkatnya. "ya hallo." ucap Austin.
"Terserah kamu." ujar Austin lalu ia menutup teleponnya.
Kemudian ia berbaring di sofa dan menutup matanya, ia mencoba untuk tidur dan melupakan segalanya.
Wira sedang duduk di kursi kerjanya, ia terlihat sedang memainkan bolpoin di tangannya. Bekerja dengan dua boss membuatnya sedikit frustasi, Wira sangat paham dengan sifat kedua bossnya itu.
Bahkan sebelum mereka katakan apa maunya ia sudah paham duluan, tapi kali ini dia tidak mau salah langkah ia harus mengambil keputusan. Di raihnya ponsel diatas meja lalu ia melakukan panggilan pada seseorang.
"Hallo, ada pekerjaan untukmu." ucapnya pada seseorang di ujung telepon.
"Baik, aku kirim lewat email." lanjutnya lagi lalu ia menutup teleponnya.
Setelah itu ia kembali sibuk dengan pekerjaannya, karena selama Austin pergi Wira lah yang menghandle seluruh pekerjaannya.
☆☆
"Mami, daddy." teriak Felicya ketika ia baru keluar dari Airport di kota Surabaya dan langsung memeluk kedua orang tuanya itu bergantian, setelah itu mereka masuk kedalam mobilnya.
"Kamu lama sekali di sana sayang, apa Austin tidak mencarimu ?" ujar ibunya Felicya.
"Dia tidak akan peduli Mi." sahut Felicya.
__ADS_1
"tapi daddy perduli sayang, kita masih butuh bantuannya. Kita harus membuat suamimu itu mau berinvestasi dalam jumlah besar di perusahaan kita, kalau tidak kita akan benar-benar bangkrut." ujar ayahnya Felicya.
"Kenapa perusahaan kita bisa bangkrut, Dad ?" Tanya Felicya tidak mengerti.
"Itu semua salah daddy kamu yang hampir setiap malam bermain judi di Casino." Sahut ibunya Felicya tampak sedih.
"Sudah jangan salahkan daddy terus, daddy sudah menyesal. Sekarang tugas kamu Nak meyakinkan suamimu itu untuk membantu keuangan perusahaan kita, kalau bisa kamu harus mengandung anaknya segera." ujar ayahnya Felicya.
"Baik Dad, akan Feli coba." sahut Felicya, ia terlihat malas mendengarkan pertengkaran kedua orangtuanya itu.
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore Nisa baru keluar dari kantornya. Setelah beberapa meter ia melajukan kendaraannya, dia merasa ada yang aneh dengan kendaraannya itu.
Mungkin ban mobilnya kempes pikirnya, diia segera turun dan mengeceknya, tapi baru beberapa langkah ia jalan ada seseorang yang menarik tangannya dari belakang.
Nisa langsung reflek dia berbalik badan lalu memelintir tangan orang tersebut dan dengan cepat menendang lututnya, hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.
Seorang pria satunya lagi mau mendekat tapi dengan sigap Nisa menendangnya dari Jarak jauh dan laki-laki itu terhempas ke jalanan.
"Nis kamu tidak apa-apa" tanya Tommy, ia setengah berlari setelah keluar dari mobilnya.
Tadi ketika ia dalam perjalanan pulang dari kantornya, ia melihat mobil Nisa berhenti di pinggir jalan lalu ia berhenti untuk mengeceknya.
Dua laki-laki tadi setelah melihat Tommy datang mereka langsung kabur menggunakan mobil jeep miliknya.
"Nggak apa-apa." sahut Nisa
"Siapa mereka, Nis ?" Tommy tampak kawatir.
"Aku nggak tahu Tom, mungkin preman mau merampok kali." ujar Nisa dengan tenang, baginya sudah biasa menghadapi orang-orang seperti itu.
"Mobilmu kenapa ?" tanya Tommy.
"Sepertinya bannya bocor, aku bisa numpang nggak ?" ucap Nisa sembari mengamati ban mobilnya itu.
"Ayo aku antarin pulang." ajak Tommy.
"Terima kasih." ucap Nisa, kemudian ia masuk ke dalam mobilnya Tommy.
Di tempat lain terlihat seorang laki-laki sedang memarahi anak buahnya, "Bodoh kalian, sudah saya bilang wanita itu pandai bela diri jadi untuk apa kalian adu otot dengannya." teriak laki-laki itu
"Kami sudah mau menangkapnya tuan, tapi ada teman prianya yang datang menolong."
"Pakai otak kalian untuk berfikir, bagaimana cara menangkapnya tanpa ada perlawanan." bentak laki-laki itu.
"Baik tuan kami janji kali ini tidak akan gagal lagi." ucap salah satu anak buah tersebut.
"Saya tunggu hasilnya." ujar laki-laki itu kemudian ia berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1