
Sore itu langit tampak cerah, secerah wajah Wira yang sedikitpun tidak ada rasa takut ataupun gugup ketika menghadap orang tua Nindy.
Sangat berbeda dengan Nindy, wajahnya tampak ada kecemasan. Bagaimana tidak, selama ini setiap laki - laki yang mendekati Nindy selalu mundur teratur ketika mereka bertemu dengan Ayahnya.
Karena Nindy adalah anak perempuan satu satunya, jadi kedua orang tuanya sangat menjaganya dengan baik. Sehingga sampai sekarang Nindy belum pernah pacaran, padahal umurnya akan menginjak dua puluh tujuh tahun.
"Jadi kamu temannya anak saya ?" ujar Ayahnya Nindy, wajahnya sama sekali tak ramah. Kumisnya yang tebal membuatnya semakin terlihat garang.
"Benar om. Kami tidak hanya berteman, bahkan saya akan menikahinya." ucap Wira dengan tegas. Mungkin karena sudah terbiasa menjadi asisten tuan Michael dan Austin yang selalu menghadapi tekanan pekerjaan bahkan sering menghadapi bahaya untuk melindungi mereka, maka sedikitpun ia tidak ada perasaan gugup. Wira tampak sangat tenang dan terlihat berwibawa.
"Apa kamu yakin bisa membahagiakan anakku ?" Ayahnya Nindy masih menatap tajam pada Wira. Ia sepertinya sedikit heran karena biasanya laki - laki yang mendekati anaknya itu akan ketakutan menghadapinya tapi berbeda dengan laki - laki di depannya sekarang tampak begitu tenang bahkan tersenyum ramah.
"Tentu saja Om, saya akan memberikan cinta dan harta yang berlimpah untuknya dan saya juga akan memuliakannya seperti saya memuliakan ibu saya." Wira mengatakan dengan tegas tanpa ada keraguan, ia menatap Nindy sekilas kemudian berpaling menatap calon mertuanya itu lagi.
Nindy yang mendengar perkataan Wira, ia tampak tersentak kaget. "Sejak kapan dia menyukaiku, perasaan selama ini dia begitu ketus denganku." gumam Nindy.
Mendengar perkataan Wira yang begitu meyakinkan, kemudian laki - laki setengah baya itu menatap anaknya. "Saya serahkan semua jawaban padanya." ucap Ayahnya Nindy.
"Apa, kenapa ayah jadi luluh begini. Bagaimana ini, aku harus bilang apa. Aku sendiri juga belum tahu aku menyukainya atau tidak." gumam Nindy.
Nindy merasakan jantungnya berdebar debar, ketika Wira menatapnya untuk menunggu jawaban darinya. Tatapan yang begitu lembut menurutnya, bukan tatapan seperti biasanya tajam dan juga dingin.
"Apa kamu mau menikah denganku ?" ucap Wira sekali lagi yang membuat Nindy sedari tadi diam menunduk kini menatapnya.
"Duh Tuhan, aku harus bilang apa. Bu Nisa aku membutuhkan mu saat ini." gumam Nindy.
"Bagaimana ?" kali ini Wira menatapnya dengan tajam dan penuh dengan ancaman, sepertinya ia enggan untuk di tolak.
"Baiklah, kalau dia berani macam - macam denganku bu Nisa pasti akan membelaku. Lagipula dia satu satunya pria yang dengan berani menghadapi ayahku." gumam Nindy lagi.
"Iya, aku mau menikah denganmu." Nindy tampak gugup dan sedikit ragu.
Seketika Wira langsung tersenyum lebar, Nindy yang melihatnya tampak terpesona. Ia tidak pernah menyadari selama ini, ternyata laki - laki di depannya itu mempunyai lesung pipit yang sangat manis.
__ADS_1
"Baiklah Nak Wira kapan kalian akan menikah ?"
"Secepatnya om, kalau bisa hari ini atau besok."
"Astaga, ini sebuah pernikahan tuan bukan permainan. Kenapa begitu mudahnya kamu mengatakannya. " gumam Nindy.
Wira sepertinya sangat paham apa yang sedang dipikirkan oleh Nindy, "Saya sudah mengurus surat suratnya dan anak buah saya akan segera menyelesaikannya."
"Tapi tuan, sejak kapan anda mengurusnya. Saya belum menyerahkan data - data saya ?" Nindy berharap laki - laki di depannya itu tidak serius mengatakannya.
"Itu bukan perkara sulit bagiku, kamu ingat sedang berhubungan dengan siapa ?" Wira menatap Nindy yang masih tidak percaya dengan apa yang sudah laki - laki di depannya itu lakukan, Wira tampak tersenyum menyeringai.
Kemudian Wira melihat notifikasi dari ponselnya, sepertinya baru saja seseorang mengirim pesan padanya.
"Semuanya sudah beres, jadi kapan kita akan menikah nanti malam atau besok ?" lagi - lagi Wira tersenyum menyeringai menatap calon istrinya itu.
"Saya suka gerak cepat kamu Nak Wira, Bapak yakin kamu bisa membahagiakan anak saya." Laki - laki setengah baya itu begitu memuji calon menantunya itu.
"Nak, Ayah ini seorang laki - laki. Ayah tahu mana yang serius atau tidak, dan Ayah yakin Nak Wira ini serius denganmu meski caranya sangat kaku." Ayahnya Nindy tertawa dengan lebar dan itu seketika membuat wajah Wira tampak merah karena malu.
Dan esok harinya mereka menikah, pernikahan yang sangat sederhana yang hanya di hadiri oleh keluarga dekat. Wira berjanji jika sudah memberitahukan keluarga Gunawan ia akan mengadakan pesta yang meriah. Karena hanya keluarganya Austin yang dia miliki sekarang, sejak kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun yang lalu.
Tetapi ketika ia sudah menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan, Na'asnya istri dari bossnya itu mengalami musibah kecelakaan.
Flash back off
Lima tahun kemudian
Kini baby Aline sudah menjadi gadis kecil yang sangat cantik dan pintar, ia sekarang berusia enam tahun.
Setelah lima tahun berlalu kehidupan rumah tangga Austin begitu bahagia, ia sangat bersyukur mempunyai istri dan anak yang selalu menyayanginya, mendukung dan menyokongnya.
Berbeda dengan Wira, sejak menikah beberapa tahun yang lalu ia belum di karunia momongan. Austin berpikir mungkin kesibukan Wira yang mengurusi semua pekerjaannya yang membuatnya belum memiliki seorang anak.
__ADS_1
Jadi Austin menyuruh Wira dan istrinya untuk tinggal di Jerman, mengurus perusahaan Gunawan yang ada disana. Meski dengan berat hati melepaskan Asisten yang sudah ia anggap seperti saudaranya itu untuk pergi.
"Sayang, bangun !" Austin mengguncang tubuh istrinya itu yang masih terlelap tidur.
"Aku masih mengantuk Austin." Ucap Nisa dengan mata masih terpejam.
Karena merasa dicuekin oleh istrinya, ia segera menarik selimut yang menyelimuti tubuh polos istrinya itu dan membuangnya ke lantai.
"Austin dingin, kamu apa - apaan sih." Nisa melotot kearah suaminya itu.
"Aku menginginkannya sayang." Ia segera merengkuh istrinya itu kepelukannya.
"Bukannya semalam sudah, aku masih mengantuk."
"Aku akan segera membuat mu tidak mengantuk lagi sayang." Austin tampak tersenyum menyeringai, tanpa mendapat persetujuan dari istrinya ia segera melahap bibir mungil itu yang memang selalu membuatnya merasa candu.
tokk
tokk
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar dengan keras.
"Mami, Mami." Aline berteriak keras memanggil ibunya.
Austin segera menghentikan aktifitasnya terhadap istrinya itu. "Austin itu anak kita, kamu buka pintunya gih aku mau ke toilet dulu." ucap Nisa kemudian ia berlalu pergi meninggalkan suaminya yang masih di penuhi gairah.
"Merusak kesenangan saja kamu sayang." Austin mendengus kesal dan mengacak acak rambutnya melihat kepergian istrinya dan Nisa tampak tergelak ketika melihat wajah frustrasi suaminya itu.
TAMAT
Gaeeeessss sampai disini ya, terima kasih sudah mau mendukung dan membaca cerita recehku ini. Terima kasih atas saran dan kritiknya selama ini semoga kedepannya saya bisa menulis dengan lebih baik lagi.
Lanjut di session 2 ya guys dengan Judul Aline sang pewaris.
__ADS_1