
"Apa kamu merindukanku sayang ?" Austin berjalan mendekati Nisa, ketika wanita itu beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf tuan jika sudah tidak ada yang dibahas lagi saya permisi, untuk urusan selanjutnya biar asisten saya yang menangani." ujar Nisa, lalu ia melangkahkan kakinya pergi.
Nisa merasakan aura yang tidak wajar dari tatapan tajam mata Austin, ia berpikir harus segera meninggalkan ruangan itu.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Austin sudah menarik tangannya dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukannya. Nisa berusaha memberontak tapi tenaga laki-laki itu begitu kuat.
"Mau kemana sayang, apa kamu tidak merindukan ku. Hmm ?" ucap Austin lirih.
"Lepaskan, kamu menyakitiku !!" Nisa meringis kesakitan ketika Austin mencengkeram lengannya dengan kuat.
Austin seakan menulikan telinganya, ia tidak memperdulikan teriakan Nisa, ia sudah bertekad tidak akan melepaskannya lagi.
Lalu ia membungkam teriakan wanitanya itu dengan bibirnya, di lum*tnya bibir tipis merah muda itu dengan penuh gairah, lalu menggigit kecil bibir bawahnya agar terbuka. Nisa mendesis ketika merasakan perih di bibirnya, namun lagi-lagi Austin menciumnya dengan rakus dan penuh gairah.
Ketika Nisa tersengal karena kehabisan napas, Austin melepaskan panggutannya. Di usapnya bibir Nisa yang sudah bengkak itu dengan ibu jarinya, tapi dengan cepat Nisa menepisnya.
Plakk
Nisa menampar pipi Austin dengan kuat, karena tidak terima dengan perbuatan asusila yang di lakukan laki-laki tersebut.
"Maaf tuan, saya bukan wanita murahan yang bisa anda sentuh sembarangan, lalu dengan mudahnya anda campakkan." ujar Nisa dengan mata merah menahan amarah.
Kemudian Nisa mengambil tasnya, lalu melangkahkan kakinya pergi. Namun lagi-lagi Austin menarik tangannya dan kali ini ia mendorong tubuhnya hingga jatuh diatas sofa dan dengan cepat Austin menghimpit tubuhnya.
"Tidak semudah itu untuk pergi sayang, katakan di mana anak kita ?" ucap Austin dengan menatap tajam Nisa.
"Anak siapa, bukannya kamu yang sudah menyuruh ku untuk menggugurkannya, jadi tolong lepaskan aku Austin." teriak Nisa.
"Apa karena kamu tidak pernah mencintai ku lagi, jadi kamu membunuhnya ?" teriak Austin dengan mata nyalang.
"Aku tidak mencintaimu dan aku sangat membencimu."
"tapi aku masih sangat mencintaimu sayang." ucap Austin lirih.
__ADS_1
"Bullshit, kalau kamu mencintai ku kamu tidak akan meninggalkan ku waktu itu dan sampai mati pun aku akan membencimu." teriak Nisa dengan sorot mata penuh kebencian pada Austin.
"Lagipula aku sudah mencintai laki-laki lain." ucap Nisa lagi, ia berharap Austin akan melepaskannya setelah tahu ada pria lain di hatinya.
"Aku tidak peduli sayang, meskipun kamu membenci ku, kamu selamanya akan menjadi milikku dan kamu harus mengganti anakku yang sudah kamu hilangkan nyawanya." ujar Austin dengan menekankan kata-katanya.
"Aku mohon Austin, lepaskan aku." Nisa memohon dengan merendahkan suaranya.
Austin tidak memperdulikan ucapan Nisa dan lagi-lagi ia membenamkan bibirnya kembali, kali ini ciumannya begitu kasar dan menuntut.
Terlalu banyak meronta membuat Nisa seperti tak bertenaga, tubuhnya terasa begitu lemas dibawah kungkungan pria yang ia benci itu.
Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Austin padanya. Austin melepaskan ciumannya kemudian ia berpindah mencium dan menghisap lehernya dengan penuh gairah, hingga meninggalkan banyak bekas kemerahan disana.
Melihat wanitanya itu sudah lemah tak berdaya, ia segera melepaskan pakaiannya dan melemparnya ke sembarangan arah.
"Akkhhhh. Lepaskan Austin, br*ngs*k." teriak Nisa bercampur dengan isak tangisnya ketika merasakan Austin memasukinya tanpa belas kasih.
Nisa merasakan kesakitan di bagian intimnya ketika Austin mulai melakukan penyatuannya, tapi Austin mengabaikannya. Ia begitu menikmati tubuh wanita yang berada di bawahnya itu.
Tubuh dari wanita yang selama beberapa tahun ini dia rindukan, bahkan setiap saat ia jadikan sebagai obyek fantasinya untuk memenuhi hasrat kelelakiannya.
"Nikmatilah sayang, kamu juga menginginkannya kan ?" ucap Austin sambil menatap lembut wanita yang berada dalam kungkungannya itu.
Beberapa saat kemudian setelah puas dan mendapatkan pelepasannya, Austin segera mengakhiri penyatuannya, lalu ia rengkuh wanitanya itu dan membawanya ke pelukannya.
Perasaan bersalah mulai menjalar di pikirannya, rasa marah bercampur rindu selama bertahun-tahun membuatnya lupa diri hingga menyakiti wanitanya itu. Hingga tak terasa ada buliran air menetes dari sudut matanya.
"Maafkan aku sayang." ucap Austin dengan perasaan menyesal, kemudian ia mencium puncak kepala Nisa dengan lembut.
Beberapa saat kemudian Austin beranjak bangun, ia segera memakai celananya dan merapikan kemejanya yang tampak kusut. Setelah itu ia membersihkan tubuh Nisa dengan telaten dari sisa-sisa percintaannya.
Setelah itu ia membantu Nisa untuk duduk, lalu ia mengambil baju Nisa yang berserakan di lantai dan membantunya memakaikan pakaiannya satu per satu hingga wanitanya itu terlihat rapi kembali.
"Aku akan mengantarmu pulang." ujar Austin setelah selesai membantu memakaikan baju pada wanitanya itu, kemudian ia merapikan rambutnya yang kini sudah tergerai dan berantakan pastinya.
__ADS_1
Nisa menatap tajam Austin, ia merasa semakin membenci pria yang ada di depannya saat ini.
"Aku bisa pulang sendiri." sahut Nisa sinis,
Setelah mengambil tasnya, ia segera melangkahkan kakinya lalu membuka pintu dan kemudian menutupnya dengan sangat keras.
Austin masih menatap nanar kepergian Nisa, kemudian ada senyum puas di bibirnya. Ia bersumpah akan segera menjadikan wanita itu miliknya.
Sedangkan Nisa berjalan dengan tatapan kosong, kejadian di ruangan Austin tadi benar -benar membuatnya kalut. Dia merasa bodoh dan jijik dengan dirinya sendiri.
"Selamat sore Nona Nisa." sapa Lina, ketika Nisa melewati mejanya, namun Nisa mengabaikan sapaan sekretarisnya Austin itu, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa penampilan Nona Anisa terlihat berantakan seperti itu." guman Lina sekretarisnya Austin.
Nisa melangkahkan kakinya menuju lift, ketika lift terbuka nampak Wira keluar dari sana. "Selamat sore Nona." sapa Wira.
Nisa mengabaikan sapaan Wira, ia hanya menatapnya datar tanpa ekspresi, setelah itu ia masuk ke dalam lift tersebut.
"Ada apa dengan Nona Anisa." guman Wira setelah pintu lift itu tertutup.
Wira melangkahkan kakinya menuju ruangan Austin, ia mengetuk pintu lalu membukanya. Di lihatnya Bossnya itu sedang duduk di kursi kerjanya, wajahnya terlihat bahagia bahkan ketika Wira masuk Austin tampak tersenyum padanya.
"Maaf tuan ada sesuatu..." Wira belum selesai berbicara tapi Austin sudah menyelanya.
"Wir pesankan tiket untuk penerbangan besok ke Jerman." perintah Austin.
"Apa terjadi sesuatu dengan nona Felicya tuan ?" Tanya Wira, ia khawatir karena yang ia tahu Felicya sekarang berada di Jerman.
"Buatkan janji dengan dokter pribadi ku di sana." perintah Austin, ia melihat Wira sekilas kemudian fokus lagi pada tumpukan berkas di mejanya.
"Anda sakit tuan, apa perlu saya menemani anda ke sana ?" Wira nampak kawatir.
"Tidak perlu." sahut Austin singkat.
Sesaat setelah sampai di rumah Nisa mengguyur badannya di bawah shower, ia menangis sejadi-jadinya. Dia merutuki kebodohannya atas ketidakmampuannya melawan Austin, tubuhnya seketika menjadi lemah tak berdaya, pertahanannya runtuh begitu saja.
__ADS_1
"Austin aku membencimu, sangat membencimu."
gumam Nisa.