
" Wir, sepertinya berkas untuk rapat ketinggalan di rumah. Apa loe bisa suruh orang untuk mengambilnya ?" tanya Austin ketika Wira baru masuk setelah tadi membawa Rosy keluar dengan paksa.
" Ini tuan, berkas yang anda cari." Wira menyerahkan berkas tersebut pada Austin.
" Siapa yang mengantarnya ?" Austin memicingkan matanya.
" Sepertinya nona muda yang mengantarnya tuan."
" Apa, dimana sekarang ?"
" Beliau sudah pulang tuan."
Austin langsung beranjak dari duduknya kemudian keluar menuju meja sekretarisnya itu.
" San, apa tadi istriku kesini ?"
" Benar tuan."
" Kenapa tadi tidak loe suruh masuk."
" Sudah tuan, tapi setelah membuka ruangan anda. Beliau langsung pergi lagi."
" Apa tadi Nisa melihat Rosy menciumku, astaga." gumam Austin.
" Wir, gue mau pulang dulu." Austin setengah berlari menuju lift.
" Tapi tuan sebentar lagi ada meeting." Wira melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Loe yang handle semua Wir, istri gue lebih penting." teriak Austin.
Setelah sampai lobby, Austin langsung berlari keluar dimana mobilnya sedang di parkir.
" Pak mana kunci mobilnya, saya akan bawa sendiri."
Austin langsung melajukan mobilnya, siang itu Jalanan tampak macet karena ada perbaikan jalan. Sehingga dia harus beberapa kali putar arah.
" Shit, kenapa disini juga macet." Austin beberapa kali memukul setir mobilnya dan bibirnya tak berhenti untuk mengumpat.
" Astaga, gue harus cepat sampai rumah. Gue bisa gila kalau Nisa meninggalkanku." Austin terus terusan menggerutu sepanjang jalan.
Setelah berjibaku dengan kemacetan hampir satu jam, akhirnya Austin tiba di rumahnya. Dia membanting pintu mobilnya dengan keras kemudian berlari masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
" Ma, dimana Nisa ?" Austin menghampiri ibunya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
" Nisa di kamarnya nak, sepertinya dia kelihatan sedih." ujar nyonya Celine, sebenarnya ia ingin bertanya tapi ia enggan untuk ikut campur masalah rumah tangga anaknya. Ia lebih memilih menjadi penengah untuk anak dan menantunya itu.
Austin segera berlari ke kamarnya, ia membuka pintu kamarnya itu dengan pelan. Sampai didalam ia melangkahkan kakinya mendekati istrinya, yang saat itu sedang tidur meringkuk diatas ranjang. Badannya tampak bergetar karena isak tangisnya.
Austin begitu pilu melihat keadaan istrinya itu, ia merutuki dirinya sendiri karena sudah membuat istrinya kecewa.
" Sayang." Austin duduk di tepi ranjang dan merapikan anak sulur rambut Nisa yang menutupi wajahnya.
" Jauhkan tangan kotormu itu." Nisa menghempaskan tangan Austin dengan kasar.
Austin merasakan sakit di dasar hatinya. Selama satu tahun pernikahan, baru kali ini ia mendapatkan penolakan dari istrinya.
" Sayang maafkan aku, kamu sudah salah paham." Kali ini Austin memegang bahu istrinya berharap istrinya itu mau menatapnya juga.
Lagi - lagi Nisa menghempaskan tangan Austin, kemudian ia beranjak duduk dan bersandar di bantalan ranjang.
" Kamu jangan mengelak, aku melihat sendiri kalian melakukan itu." begitu berat bagi Nisa untuk mengatakan kata ciuman, itu membuat dadanya terasa sesak.
" Wanita itu yang menciumku duluan, tapi setelah itu aku mendorongnya menjauh."
" Tapi kamu menikmatinya juga kan ?"
" Lalu ini apa ?" Nisa menunjuk ujung bibir Austin yang masih tersisa bekas lipstick.
Austin segera beranjak menuju cermin, ia melihat noda lipstick di ujung bibirnya. " Shit." gumamnya. Kemudian ia segera berlalu ke kamar mandi, ia membersihkan badannya dan menggosok gosok bibirnya beberapa kali hingga bersih.
Setelah berganti baju dengan baju rumahan, Austin menghampiri istrinya lagi tapi baru berapa langkah Nisa langsung berteriak mengusirnya. " Pergilah, aku tidak mau melihatmu lagi !"
Austin berdiri mematung, ia tidak menyangka istrinya akan seemosi itu. " Kamu yang pergi atau aku yang pergi ?" Nisa berteriak menatap tajam suaminya itu.
" Baik, baiklah aku yang pergi. Kamu tetap disini ya aku mohon jangan tinggalkan aku." Austin melirik koper yang masih tergeletak di lantai, kemudian ia berlalu keluar kamar.
Setelah Austin meninggalkannya, Nisa menangis sejadi jadinya. Sebenarnya ia tadi mau memberikan Austin kesempatan untuk menjelaskan, tapi karena melihat noda lipstick tersebut ia jadi tersulut emosi.
Sedangkan Austin dengan gontai melangkahkan kakinya, saat ini ia ingin sekali berbicara dengan seseorang menumpahkan semua isi hatinya. " Mama." Austin berjalan mendekati mamanya yang sedang berada di dapur.
" Apa kalian sudah berbicara ?" Nyonya Celine menatap anaknya itu.
" Nisa tidak mau mendengarkan penjelasanku ma."
__ADS_1
" Bagaimana mau mendengarkan, kamu pulang dengan bibir penuh lipstick."
" Tidak seperti yang mama bayangkan."
" Lalu siapa wanita itu ?"
" Namanya Rosy ma, dulu Felicya sering membawanya ke Apartemen karena satu agency dengannya. Tapi wanita itu begitu terobsesi denganku, bahkan dulu dia pernah mencampur minumanku dengan obat tidur."
" Lalu kamu tidur dengannya ?" Nyonya Celine menoyor anaknya dengan centong nasi yang dia pegang.
" Dia sengaja melakukannya untuk menghancurkan pernikahanku dengan Felicya waktu itu. Entah apa yang terjadi, setelah aku bangun aku sudah tidak memakai pakaian dan wanita itu sudah tidur disebelah ku." Austin mengusap wajahnya dengan kasar ketika mengingat kejadian dua tahun lalu, sebelum ia pulang ke Indonesia.
" Temui istrimu dan bawalah ini, tadi siang dia cuma makan sedikit." Nyonya Celine menyerahkan nampan pada Austin yang sudah berisi beberapa lauk kesukaan Nisa.
Dengan langkah panjangnya ia bergegas masuk kedalam kamarnya.
klek
Austin membuka pintu kamarnya, ia melihat Nisa sudah berpakaian sangat rapi. " Sayang kamu mau kemana ?" Austin segera menaruh nampan diatas meja.
" Aku mau pulang Austin."
" Sayang ini rumah kamu."
"Aku akan menenangkan diri di pulau K."
" Aku tidak akan mengijinkan kamu meninggalkan rumah ini, walaupun hanya sejengkal." Austin berteriak dengan intonasi tinggi.
" Mau kamu apa, mengurungku disini. Kemudian kamu asyik berkencan dengan wanita lain ?" Nisa juga berteriak untuk meluapkan emosinya.
" Sayang dengarkan penjelasanku dulu." Austin memegang kedua bahu Nisa, ia menatap manik istrinya itu yang sudah dipenuhi air mata.
" Wanita itu bernama Rosy, dia adik dari Ronald teman sekolah kamu dulu. Dia menggunakan nama Ronald agar mudah masuk kedalam ruanganku, kamu tahu kan Ronald sudah lama menjadi rekan bisnis ku."
" Apa."
" Sejak di Jerman, dia sangat terobsesi denganku. Bahkan dua tahun yang lalu sebelum aku memutuskan kembali ke Indonesia, dia sudah menjebakku. Dia memberikan obat tidur dalam minuman ku, setelah aku terbangun ia sudah tidur di sebelahku."
" Apa kamu tidak membohongiku ?"
" Sayang lihat mataku apa aku sedang berbohong, aku akan menyuruh Wira mengirim cctv diruanganku tadi. Biar kamu melihat kejadian yang sebenarnya."
__ADS_1
" Baiklah aku akan memberikan satu kesempatan padamu, sebenarnya aku tidak perduli dengan masa lalumu tapi ku mohon jangan permainankan pernikahan kita."
" Terima kasih sayang, aku janji mulai saat ini akan selalu jujur apapun yang terjadi." Austin merengkuh istrinya itu dan membawa kepelukannya.