Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Bertemu Ronald


__ADS_3

Setelah satu bulan berlalu, kini Nisa mulai bisa menerima kenyataan bahwa King sudah tiada. Apa lagi dengan kehadiran Aline yang kian hari tambah lucu, membuat Nisa sedikit bisa melupakan King.


Hari ini ia berniat untuk mengunjungi Austin di kantornya, ia akan memberinya kejutan dengan mengajak bayi kecilnya itu.


Sejak pak Ahmad meninggal dalam kecelakaan tragis beberapa bulan yang lalu, Austin sudah mengganti sopirnya yang baru dan juga memberikan beberapa pengawal untuk istrinya. Ia tidak mau kejadian na'as itu terulang kembali.


"Pak, kita ke kantornya tuan ya ?" ujar Nisa ketika sudah berada didalam mobilnya.


"Baik Non." ucap pak Arman sopir barunya, tampangnya bukan seperti seorang sopir tapi lebih mirip seperti seorang bodyguard. Kemudian pria itu melajukan mobilnya keluar dari kompleks perumahan elit tersebut.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, kini mobil mereka berhenti tepat di depan kantor Grand Gunawan Corps.


"Selamat siang nyonya." sapa seorang security ketika Nisa baru keluar dari mobilnya, tampak laki - laki itu membantu mengeluarkan kereta bayi milik Aline.


"Siang juga pak." Lalu Nisa mendorong stroller bayinya dan segera melangkahkan kakinya memasuki kantor tersebut.


"Mbak, suami saya ada ?" tanya Nisa ketika berada didepan meja resepsionis.


"Ada nyonya beliau sedang berada di ruangannya." ujar wanita yang berada di meja resepsionis itu.


Kemudian Nisa segera naik ke lantai paling atas dimana ruangan suaminya berada.


"Selamat siang nyonya." ujar Santy, sekretarisnya Austin ketika melihat istri bossnya itu berjalan ke arahnya.


"Apa tuan ada ?"


"Ada nyonya." Lalu Santy membukakan pintu ruangan untuknya.


Setelah pintu tebuka Nisa segera memasuki ruangan Austin. "Papa." Panggil Nisa meniru suara bayi ketika ia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut.


"Sayang, kamu kesini." Austin mendekati istrinya lalu mengecup sekilas bibirnya.


"Anak papa." Austin langsung mengambil Aline dari dalam strolernya dan segera menggendongnya.


Aline tampak tertawa gemas pada ayahnya itu.


"Nisa." ujar seorang laki - laki yang sedang duduk di sofa, ia langsung berdiri menyapanya.


"Ron, kamu disini." Nisa sedikit terkejut ketika melihat sahabat lamanya itu berada di kantor suaminya.

__ADS_1


"Maaf ya aku tidak tahu musibah yang menimpamu, aku turut bersedih." ujar Ronald raut wajahnya tampak menyesal.


"Tidak apa - apa Ron, aku sudah mengikhlaskannya. Anakku sudah tenang di surga lagi pula Tuhan sudah menggantinya dengan dia." Nisa melihat Aline yang sedang di gendong oleh ayahnya.


Bocah kecil itu tertawa nyaring ketika Austin mencium perutnya dan itu membuat Nisa geleng - geleng ketika melihat ulah suaminya itu.


"Oh ya, adikku maksudku Rosy dia sudah menikah beberapa bulan yang lalu di Jerman. Dia juga minta maaf padamu karena perbuatannya dulu, mungkin karena sedang hamil jadi dia baru menyadari kesalahannya." ujar Ronald ia seperti tidak enak hati untuk mengatakan segala penyesalan adiknya itu.


"Aku sudah memaafkannya Ron, iya kan Austin." Nisa melihat kearah suaminya itu.


Austin hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian dia kembali bermain dengan anaknya lagi.


"Baiklah aku permisi dulu, ini ada sesuatu buat bayi imut itu." Ronald melihat kearah Aline yang sedang di gendong ayahnya lalu ia menyerahkan sebuah paper bag padanya, setelah itu ia pamit untuk pulang.


"Sayang sepertinya anak kita ngantuk deh." Austin melihat anaknya itu tampak menguap beberapa kali.


"Baiklah aku akan menidurkannya." Nisa mengambil anaknya itu dari gendongan suaminya, kemudian ia berjalan menuju sebuah ruangan yang biasa mereka pakai buat istirahat.


Beberapa saat kemudian setelah Aline tertidur pulas, Nisa meninggalkannya keluar untuk melihat suaminya yang sedang sibuk di meja kerjanya.


"Austin kamu masih sibuk." ucap Nisa ketika melihat suaminya itu masih serius menatap layar komputernya.


"Kamu sudah makan siang ?" ucap Nisa ketika ia sudah duduk di pangkuan suaminya itu.


"Sepertinya aku mau memakan mu deh." Austin mengecup sekilas bibir mungil itu kemudian ia tertawa jahil.


"Austin kamu jangan usil deh, ini di kantor." Nisa beranjak dari pangkuan suaminya itu, tapi Austin langsung menarik tangannya dan menjatuhkannya lagi ke pangkuannya.


"Tidak ada yang melihatnya sayang." Kemudian Austin mengambil sebuah remote dan langsung mengunci pintu tersebut.


"Sekarang amankan." Austin mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir istrinya lagi.


"Austin bagaimana kalau anak kita bangun ?" Nisa mencoba melepaskan panggutan suaminya.


"Anak kita sedang tidur nyenyak sayang."


"Austin kamu kan banyak kerjaan, kamu lanjutin kerja saja ya aku akan menemanimu." ucap Nisa sambil memainkan kerah kemeja suaminya.


"Hmmm, bagaimana ya." Austin tampak berpikir dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


"Tapi lebih enak mengerjaimu sayang." Kemudian Austin melahap bibir merah istrinya itu tanpa memberi kesempatan untuknya bernapas.


"Austin kamu mau membuatku mati." Nisa berteriak ketika suaminya itu melepaskan panggutannya.


Austin hanya terkekeh melihat istrinya. " Jadi kita akan melakukannya dimana sayang, disini, di sofa sana atau di kamar saja."


"Astaga Austin bisa tidak kamu tidak bersikap mesum seperti itu." Nisa tampak risih ketika tangan suaminya itu sudah bergerilya kemana mana.


"Mesum sama istri sendiri tidak masalah dong, lagi pula kamu tidak kasihan sama suamimu ini." Austin melihat istrinya itu dengan tatapan mendamba.


"Kamu selalu saja punya cara untuk mengerjaiku." cebik Nisa ketika suaminya itu dengan lihai sudah melucuti pakaiannya.


Austin tampak tertawa penuh kemenangan dan siang itu disaat karyawan kantor akan melakukan makan siangnya, Austin justru melakukan kegiatan panasnya bersama istrinya.


Beberapa saat kemudian Nisa tampak makan siang bersama suaminya.


"Pelan - pelan sayang makannya, kamu seperti orang kelaparan saja."


"Tentu saja aku lapar, kamu mengerjaiku hampir dua jam." ucap Nisa dengan mulut penuh makanan.


Austin hanya terkekeh melihat istrinya, ada rona kepuasan di wajahnya.


Tak berapa lama kemudian Wira mengetuk pintu dan langsung masuk kedalam.


"Tuan Wira sudah makan, ayo gabung sama kita." ujar Nisa ketika Wira baru masuk.


"Ayo Wir, istriku sudah menawari dosa menolak rezeki."


"Baik tuan." Kemudian Wira ikut makan bersama.


Ketika mereka sedang makan, Nisa mencoba bertanya pada Wira. "Tuan Wira apa tidak ingin menikah ?"


"Saya belum ada kepikiran buat menikah Nona." Wira menatap Nisa sekilas kemudian ia melanjutkan makan lagi.


"Tapi anda tidak berniat untuk menjadi jomblo seumur hidupkan."


"Sayang." Austin menatap istrinya itu,


"Maksudku kalau belum punya pacar, aku mau menjodohkan dengan sistenku Nindy."

__ADS_1


Seketika Wira langsung terbatuk batuk. " Pelan - pelan tuan Wira." Nisa menyerahkan botol minuman padanya.


__ADS_2