
Siang ini Nisa berada di kantor, ia sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Tidak lama kemudian Adi datang ke ruangannya lalu duduk di sofa panjang yang berada di ruang kerjanya itu.
"Astaga Dek bisa ketuk pintu dulu tidak, kamu itu seperti jelangkung." Nisa kaget tiba-tiba adiknya sudah berada di depan mejanya.
"Sudah ketuk pintu, Mbak saja yang tidak dengar."
"Masa sih, ya sudah ini tolong kamu foto copy semua." Nisa menyerahkan beberapa dokumen pada adiknya.
"ya lord jadi kerjanya Adi di sini, cuma jadi tukang foto copy." keluh Adi.
"ya sudah kalau tidak mau, kamu ambil sapu sana bersihkan setiap ruangan."
"Benar-benar kakak kandung rasa ibu tiri." Adi menggerutu lalu berjalan keluar membawa tumpukan dokumen itu.
Setelah Adi pergi, Nisa tertawa cekikikan. Dia merasa senang bisa mengerjai adiknya, tak lama kemudian Nindy asistennya datang.
"Permisi bu, ini ada undangan dari PT. AG Mining."
"AG Mining ??"
"Benar bu, sebelumnya kita sudah kirim proposal untuk tender mereka. Jadi semua perusahaan yang ikut tender mendapatkan undangan untuk peresmian kantor baru mereka."
"Kapan acaranya ?"
"Satu minggu lagi bu, tepatnya awal bulan."
"Sepertinya saya tidak bisa, kamu saja Nin yang datang. Saya mau ke Malaysia untuk beberapa hari."
"Baik bu, apa perlu saya bookingkan tiket dari sekarang bu ?"
"Baiklah, atas nama saya dan King ya."
"Baik bu, kalau begitu saya permisi." ucap Nindy meninggalkan ruangan itu.
Drtt....Drtt.... ponsel Nisa berdering.
"Hallo Tom."
"Kamu lagi sibuk Nis? " tanya Tommy dari ujung telepon.
"Nggak juga Tom, kenapa ?"
"Sudah makan siang ?"
"Belum."
"Makan siang yuk, aku yang traktir ?"
"Kamu mau traktir pemilik restoran ?" celetuk Nisa, ia sengaja menggoda Tommy.
"Aku traktir makanan yang tidak ada di restoran kamu."
"Apa ?"
"Mie ayam."
Nisa tertawa mendengar Tommy yang tampak kesal. "Oke kirim alamatnya ya." ujar Nisa lalu menutup panggilannya.
__ADS_1
Satu jam kemudian
Nisa memarkirkan mobilnya tepat di depan kedai mie ayam. "Astaga mie ayam beneran." batin Nisa.
"Nis." Tommy melambaikan tangannya ketika Nisa memasuki kedai tersebut.
"Dari tadi Tom ?" Nisa menghampiri Tommy lalu duduk di kursi depannya.
"Lumayan, sepuluh menit yang lalu."
"Astaga baru sepuluh menit, belum seumur hidup."
"Memang kamu mau seumur hidup sama aku ?" celetuk Tommy dengan mimik seriusnya.
"Ngapain ?" Nisa menatap Tommy juga.
DEG
Jantung Tommy berdebar kencang ketika mata mereka saling bertatapan, rasanya seperti maling yang ketahuan mencuri. Tommy langsung membuang muka ke sembarang arah. "Nggak apa-apa cuma bercanda."
Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang dan Nisa segera menyantapnya karena perutnya sudah mulai keroncongan.
"Sumpah enak banget mie ayam ini." Nisa bicara dengan mulut penuh.
Drtt....Drtt.... ponsel Tommy berdering.
Tommy melihat layar ponselnya. "Austin." batinnya.
Dengan ragu Tommy menjawabnya. "ya hallo."
"Kamu sibuk Tom ?" tanya Austin dari ujung telepon.
"Minggu depan ada peresmian cabang perusahaanku di daerahmu sekarang tinggal, kamu bisa datang kan ?"
"Tenang saja, aku pasti datang." sahut Tommy.
"Tom, aku ke toilet dulu ya." kata Nisa dengan suara nyaring hingga terdengar oleh Austin dari ujung telepon.
"Kamu sama cewek Tom ?" tanya Austin.
"i-iya teman." jawab Tommy gugup.
"Sepertinya tidak asing suaranya." ujar Austin seperti mengenali suara tersebut.
"Bukan siapa-siapa hanya temanku di sini, kamu nggak kenal."
"ya sudah jangan lupa kamu datang."
"Oke, siap brother." setelah itu Tommy menutup teleponnya.
"Maafkan aku bro, kamu sudah punya Felicya. Kali ini aku tidak akan mengalah lagi. Aku cinta sama Nisa dan aku akan mendapatkannya." batin Tommy
"Tom sudah selesai teleponnya ?" tanya Nisa yang baru selesai dari toilet.
"i-iya." Tommy tampak gugup.
"Ada apa ?"
__ADS_1
"Nggak, nggak ada apa-apa, santai aja."
"Oh ya Tom, bagaimana kabar Bruno ?"
"Dia sudah meninggal dua tahun yang lalu."
"Astaga. Kenapa, sakit ?"
"iya sepertinya dia kangen berat sama seorang cewek cantik yang dulu pernah mengobati kakinya yang tertusuk duri." Tommy tersenyum manis menatap Nisa dan lagi-lagi jantungnya terasa berdebar-debar.
"Aisssssh bisa saja kamu, sudah ada penggantinya ?"
"Belum ada, sedikit trauma sih. Dari kecil sudah ku pelihara, sudah besar tinggalin aku." Tommy tampak sedih mengingat Bruno anjing jenis Herder kesayangannya.
"tapi kalau kamu mau temani nyari aku mau pelihara lagi, aku kurang tahu daerah sini." lanjut Tommy.
"Boleh ada teman kuliahku dulu dia punya petshop nanti kapan-kapan aku temani. Oh ya Tom kamu kok bisa tinggal di sini sekarang ?" tanya Nisa.
"Harusnya aku yang tanya seperti itu, kok kamu bisa terdampar di pulau ini dan jadi sesukses ini. Beneran aku penasaran banget." ujar Tommy.
"Ditanya malah balik tanya, ceritanya panjang kapan-kapan saja aku ceritakan."
"Ini kampung halaman bokap ku, pas opaku meninggal aku disuruh ke sini terusin usahanya opa. Karena aku satu-satunya cucu laki-laki." sahut Tommy.
"Kamu tahu, sejak pertama kali lihat kamu di sini. Aku pikir kamu ngikutin aku, karena disuruh laki-laki brengsek itu."
"Austin maksudmu ?"
"Hmm." Nisa mengangguk.
"Kamu masih cinta sama dia ?"
"Mana mungkin." ujar Nisa, lalu ia membuang muka ke sembarang arah.
Nisa takut Tommy melihat kebohongan di matanya. Entah kenapa sampai sekarang Nisa belum bisa melupakan Austin, meski dia sangat membencinya. Apalagi ada King diantara mereka yang selalu mengingatkan padanya.
"Aku tahu Nis, sampai sekarang kamu masih cinta sama dia, tapi aku bersumpah akan membuat kamu melupakannya." batin Tommy.
Di tempat lain Austin sedang duduk termenung di kursi kerjanya, ia merasa mengenali suara seorang wanita bersama Tommy waktu di telepon tadi.
"Sepertinya aku kenal suara itu, tapi tidak mungkin Tommy tidak memberitahu aku jika itu Nisa. ya pasti itu orang lain yang suaranya mirip dia." Austin mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Nis di mana kamu sekarang, aku sangat merindukanmu." Austin tampak frustasi, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Drtt.....Drtt.... Ponsel Austin berdering. " Hallo." sapa Austin.
"Hallo bro." jawab Aldo diujung telepon.
"Hey kampret, kemana saja kamu dari tadi ku telepon tidak kamu angkat."
"Biasa kayak tidak tahu aku saja loh."
"Astaga, kamu kapan balik dari Paris ?"
"Sepertinya dua hari lagi bro, tapi aku langsung ke pulau K ya. Sekalian mau liburan katanya Tommy di sana pantainya sangat indah, jadi kita ketemu di sana. oke ?"
"Baiklah." kemudian Austin menutup panggilannya.
__ADS_1
Sepertinya Austin sudah tidak sabar untuk pergi ke Pulau K, karena dia akan bertemu dengan sahabat-sahabatnya dulu. Sejak pindah ke Jerman, ia tidak pernah ketemu lagi dengan mereka. Aldo memutuskan tinggal di paris untuk mengelola bisnis kakeknya, sedangkan Tommy baru satu tahun lalu pindah ke pulau K.