Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
pernikahan


__ADS_3

" Sayang kita sudah sah menjadi suami istri jadi aku boleh kan melakukannya sekarang ?" ujar Austin ketika mereka sudah berada di kamar hotel bintang lima milik keluarga Austin.


" Beberapa jam lagi upacara resepsi kita Austin, kamu jangan mengacaukannya." ucap Nisa yang duduk didepan meja rias.


" satu jam saja sayang atau bagaimana kalau dua jam."


" Kamu mau aku tidak bisa berjalan karena ulahmu." cebik Nisa lalu ia beranjak dari duduknya.


Austin tidak patah arang ia langsung menarik tangan Nisa dan membawanya ke ranjang.


" Astaga Austin, sebentar lagi orang makeupnya datang." protes Nisa ketika sudah berada dalam kungkungan Austin.


" Sebentar saja sayang cuma cium. oke."


" yakin ?"


" Enggak janji." sahut Austin yang sudah memulai aktivitasnya


tokk


tokk


" Austin ada yang datang."


" biarin sayang, nanggung."


tokk


tokk


Nisa langsung mendorong tubuh Austin agar menjauh, kemudian ia merapikan beberapa kancing bajunya yang terlepas karena ulah suaminya itu.


" Haiiiiisss, perusak kesenangan saja." gerutu Austin ketika Nisa beranjak dari ranjang dan melihat siapa yang datang.


" Nona waktunya make up." ujar seorang laki-laki lemah gemulai yang nyelonong masuk setelah Nisa membuka pintu.


" Astaga tuan anda seksi sekali." ujar makeup artis itu yang biasa dipanggil Yolan, dia adalah makeup artis yang bekerja di salonnya nyonya Celine jadi Austin sangat mengenalnya.


Austin yang duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer pendek itu menatap tajam kearah Yolan.


" Ayo nona duduklah kemari, aku akan membuat mu secantik bidadari." ujar Yolan.


Sedangkan Austin yang sedang menahan hasratnya, ia segera berlalu ke kamar mandi sepertinya ia butuh berendam air dingin.


Beberapa saat kemudian


" mami." Teriak King ketika masuk kedalam kamar ibunya.


" Hallo tampan, kamu gemesin banget sih." ujar Yolan seraya mengacak lembut rambut King.


" Jangan pegang-pegang om." seru King ketus.

__ADS_1


" Sayang, bersikaplah dengan sopan. Ayo tunggu mami diluar." tutur Nisa pada anaknya itu.


" Astaga mirip ayahnya sekali." sahut Yolan ketika King sudah berlalu pergi.


" Oke satu sapuan lagi selesai." ujar Yolan lagi. " nah bagaimana nona, anda sangat cantik sekali." lanjut Yolan ia nampak puas dengan hasil karyanya.


Nisa yang memandang dirinya di cermin begitu terpesona dengan dirinya sendiri.


" Benarkah ini aku Yolan ?" tanya Nisa tak percaya.


" Tentu saja nona. Anda itu aslinya memang sudah cantik, lebih cantik dari nona Felicya bahkan.


" Kamu jangan berkhianat dengan mantan bossmu itu Yolan."


" Boss saya cuma nyonya Celine nona, tapi benar kok anda itu cantik luar dalam. Pantas saja tuan Austin betah nunggu anda bertahun tahun."


" Ada maunya pasti."


" Serius nona, saya nanti pasti akan betah bekerja dengan anda. Tidak seperti sebelumnya duh amit-amit deh."


" Kenapa ?"


" Nona Felicya itu ketus banget, omongannya itu loh bikin nyesek hati."


" hahahaha." Nisa tertawa lebar.


" Astaga nona, baiklah kalau begitu saya permisi, anda tinggal memakai gaun anda."


Austin yang baru keluar dari kamar mandi tampak terpesona melihat istrinya itu dari pantulan kaca.


" Austin, bisa kamu bantu aku memasang resleting." ujar Nisa yang terlihat kesusahan menaikkan resletingnya.


" Dengan senang hati sayang." sahut Austin dengan senyum jahil.


" Jangan macam-macam Austin." Teriak Nisa ketika Austin mengecup setiap jengkal punggung hingga tengkuknya.


" cuma satu macam sayang."


" Kamu bisa merusak riasanku." cebik Nisa.


" baik nyonya Austin." sahut Austin ia segera menyudahi aktifitasnya sebelum ia tak bisa mengendalikan dirinya.


Beberapa saat kemudian Nisa digandeng oleh Adi dan King disampingnya, menuju ballroom tempat dimana acara resepsi diadakan. Nisa terlihat tampak sangat cantik memakai gaun pengantin berwarna putih dengan punggung sedikit terbuka.


Para undangan begitu terpesona melihat dirinya, begitu juga dengan seorang pria tampan yang duduk di ujung ruangan tersebut matanya tak berpaling sedikitpun untuk menatapnya.


" Kamu cantik sekali sayang." Bisik Austin ketika Nisa sudah berada di sebelahnya.


" Kamu juga tampan." ujar Nisa melihat suaminya itu yang kelihatan sangat tampan dengan memakai tuxedo berwarna senada dengan gaunnya.


" Apa perlu kita sudahi acaranya dan kita langsung pergi ke kamar sayang." goda Austin dengan tersenyum jahil.

__ADS_1


" Astaga Austin. Jangan rusuh deh, acaranya baru saja dimulai." Bisik Nisa.


" Aku sudah tidak tahan untuk menerkammu sayang." Bisik Austin nakal.


Nisa menatap Austin dan mengepalkan tinjunya kearah suaminya itu.


" Astaga istriku bar-bar sekali." Austin tersenyum gemas melihat istrinya itu.


Beberapa saat kemudian para tamu undangan sudah mulai mengantri untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


" Hai bro selamat ya semoga bahagia sampai kakek nenek." ucap Aldo dan Tommy.


" Selamat ya Nis, semoga kamu selalu bahagia." ujar Tommy menatap Nisa nanar.


" Hei bro jangan lama-lama pegang tangan istri gue." sela Austin nampak ia menjauhkan tangan Tommy dari istrinya.


" jagain istri loe baik-baik bro, kalau tidak gue siap menjaganya." ujar Tommy tampak bercanda tapi dengan nada serius.


Austin mau menoyor Tommy tapi Nisa langsung menahan tangannya. " sayang, jangan bikin ulah." Bisik Nisa.


" Kamu tadi memanggil ku apa sayang ?" tanya Austin memastikan pendengarannya.


" Sayang."


" Coba ulangi lagi."


" Enggak akh, aku lebih suka memanggil namamu."


" Ayo lah sayang." Austin sudah memajukan wajahnya.


" Austin ini tempat umum." Nisa menjauhkan wajah suaminya itu sejauh tangannya.


" Tunggu hukumanmu dikamar nanti." Bisik Austin. Seketika membuat pipi Nisa menjadi merah merona.


Austin melihat ke beberapa tamu undangan yang sebagian besar di hadiri oleh para rekan bisnisnya.


Ketika matanya tertuju pada seorang pria yang duduk di ujung ruangan itu, tangannya langsung mengepal erat.


" Awas saja kalau berani menggoda Nisa, gue pastikan semua perusahaan loe akan gue akuisisi." gumam Austin geram, ketika melihat Ronald Hudson salah satu rekan bisnisnya dan juga teman sekolah istrinya itu dari tadi memandangi Nisa dengan tatapan kagum.


Austin mengenal Ronald sewaktu ia tinggal di Jerman, Ronald adalah salah satu investor di perusahaan yang Austin dirikan tanpa campur tangan ayahnya. Dimata Austin Ronald sosok pria playboy yang suka berganti ganti wanita.


Tapi Austin tidak pernah mengetahui yang membuat Ronald menjadi playboy itu karena dulu di sekolah, Nisa pernah menolak cintanya berkali-kali. Hingga Ronald memutuskan menjadi playboy untuk menarik perhatian Nisa waktu itu, karena Nisa adalah cinta pertamanya.


" Selamat tuan dan nyonya Austin semoga selalu berbahagia." ucap Ronald .


" Terima kasih tuan Ronald." sahut Austin seraya memeluk pinggang istrinya itu.


" Kamu cantik sekali malam ini." ucap Ronald setengah berbisik tapi masih terdengar oleh Austin.


" Thanks Ron." ujar Nisa tersenyum manis pada Ronald.

__ADS_1


Kemudian Ronald berlalu pergi meninggalkan tempat itu, Austin yang melihat interaksi antara Ronald dan istrinya itu sangat cemburu. Sampai acara berakhir pun Austin masih bersikap acuh pada istrinya.


__ADS_2