
Jarum jam baru menunjukkan pukul 10 malam, tapi di tempat ini sudah banyak orang hilir mudik mencari kesenangan dan kepuasan.
Weekend ini Austin bersama dengan teman temannya Aldo dan Tommy seperti biasa mereka nongkrong di bar "XXX". Biasanya mereka akan menghabiskan waktu sampai larut malam di tempat ini, bahkan mungkin sampai pagi dan berakhir di ranjang hotel bersama teman wanitanya.
"Balik yuk !!" Austin mengajak teman temannya untuk pulang.
"Astaga bro, kita disini baru sejam sudah ngajak balik, kayak anak perawan saja kamu." seloroh Aldo sambil menyesap gelasnya yang baru di tuang oleh seorang wanita yang dari tadi menemaninya.
"Apa mau ku panggilkan Cintya ?" tanya Tommy.
Cintya adalah salah satu wanita penghibur yang ada di bar tersebut. Biasanya Austin sesekali menghabiskan malam bersamanya untuk menyalurkan hasrat kelelakiannya.
Tetapi sejak mengenal Nisa, Austin sudah tidak pernah berhasrat lagi menyentuh wanita-wanita itu lagi.
"Aku lagi nggak mood." jawab Austin, lalu ia berdiri mengambil kunci mobilnya dan berlalu keluar meninggalkan ruangan VIP tersebut.
Mau tidak mau Aldo dan Tommy juga pergi meninggalkan tempat tersebut, karena tadi mereka pergi menggunakan mobilnya Austin.
☆☆
Sedangkan ditempat lain, Nisa baru bangun tidur. Tadi sore sepulang dia kerja sampai rumah langsung tidur dan melewatkan makan malamnya, alhasil jarum jam menunjukkan pukul 10 malam dia terbangun karena merasakan perutnya keroncongan.
Tak lama kemudian dia keluar dari gang rumahnya untuk mencari nasi goreng yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, karena sudah larut malam jadi jalanan tidak terlalu rame. Kecuali beberapa mobil lalu lalang di jalan raya.
Ketika menyusuri jalanan, Nisa melihat seorang ibu-ibu berteriak karena mempertahankan tasnya yang mau di rampas oleh dua orang jambret.
Melihat itu Nisa langsung berlari menolong ibu-ibu tersebut dan menghajar para jambret itu.
Dulu waktu mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di kampungnya, selama 3 tahun Nisa selalu mengikuti ekstrakurikuler karate. Meski belum memegang sabuk hitam paling tidak untuk ilmu mempertahankan diri, dia lumayan jago.
Saat Nisa sedang menghajar para jambret itu, kebetulan mobil Austin melewati jalanan tersebut. Dia memelankan laju mobilnya dan memastikan kalau yang sedang dilihatnya adalah Nisa gadis pujaannya.
"Nisa." gumam Austin, kemudian ia menghentikan mobilnya dan buru-buru mau keluar.
"Kamu mau kemana bro ?" tanya Aldo dengan menahan tangan Austin ketika melihat ia akan membuka pintu mobilnya.
Austin memandang kearah Nisa dan para jambret itu, mengisyaratkan kalau dia mau menolong wanita itu.
__ADS_1
"Kamu tidak lihat apa, wanita itu sudah menghajar habis-habisan dua lelaki itu." ujar Aldo.
"Bar-bar sekali cewek itu." Tommy nampak geleng-geleng melihat Nisa.
Tak lama kemudian mereka bertiga keluar dari mobilnya, Austin segera berlari menghampiri Nisa dan kedua jambret tadi sudah babak belur dan kabur.
"Nis, kamu tidak apa-apa ?" tanya Austin, ia langsung memeluk gadisnya dengan erat.
Aldo dan Tommy yang melihat pemandangan itu nampak terpaku dengan banyak pertanyaan di benak mereka.
"Aisssssh lepaskan Austin, aku baik-baik saja, kamu tidak lihat apa, jangan modus deh." ujar Nisa sambil berusaha melepaskan pelukan Austin.
"Lagian kamu kenapa malam-malam keluyuran ?" tegur Austin.
"Aku mau cari makan, lapar."
"Astaga kenapa tidak telepon aku, kalau kamu lapar ?"
"Ngapain telepon, memang kamu suamiku." jawab Nisa.
Aldo dan Tommy yang mendengar perkataan Nisa, mereka langsung terkekeh.
Ditengah perjalanan Aldo dan Tommy membombardir Austin dengan banyak pertanyaan, mereka penasaran bagaimana bisa pelayan cafe yang dulu pernah Austin kerjain habis-habisan sekarang bisa seakrab itu.
"Kamu suka sama gadis itu bro ?" tanya Tommy penasaran.
"Aku sudah ditolak duluan, sebelum aku nembak."
"Berani sekali dia nolak cowok super tajir kayak kamu." ujar Aldo geram.
"Dia tidak tahu siapa aku, bahkan kalau dia tahu mungkin dia tidak akan mau bertemu aku lagi. Waktu masih di kampungnya dia sering dihina dan dicaci maki, makanya bagi dia orang kaya cuma bisa menyakiti." jawab Austin, lalu ia juga menceritakan kejadian di taman waktu itu bersama Wira kepada teman temannya.
☆☆
Siang ini Austin bersama gengnya Aldo, Tommy dan Felicya sedang makan siang di Cafe tempat Nisa bekerja. De'Rose cafe adalah salah satu tempat favorit mereka karena tidak terlalu jauh dari kawasan perkantoran.
"Selamat siang tuan, mau pesan apa ?" tanya Nisa dengan tersenyum ramah.
"Nis, kamu sudah makan siang ?" tanya Austin balik.
__ADS_1
Nisa pura-pura tidak mendengar perkataan Austin, dia malah sibuk mencatat pesanan Aldo dan Tommy.
Felicya yang melihat Austin terus memandangi Nisa merasa cemburu.
"Sejak kapan Austin perduli dengan orang lain, apa lagi cewek pelayan ini." batin Felicya tidak suka.
"Austin aku pesankan ini aja ya, Chicken Gordon blue dan Mint Tea kesukaan kamu !" ujar Felicya menunjukkan menu dengan mendekatkan badannya sedikit condong ke arah Austin.
"Apa begitu cintanya kamu pada Austin, hingga kamu sedikit pun tak memandangku." batin Tommy, ia merasa cemburu ketika melihat Felicya begitu perhatian pada Austin.
Nisa yang melihat keakraban antara Austin dan Felicya, entah kenapa dadanya terasa sakit.
"Nisa, kamu udah makan siang ?" tanya Austin lagi.
"Maaf tuan, kami hanya melayani pesanan pelanggan bukan menyangkut hal pribadi. Kalau sudah tidak ada lagi yang dipesan, saya permisi." jawab Nisa dengan sopan, kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Kamu kenal pelayan itu ?" tanya Felicya penuh selidik.
"Tidak penting." jawab Austin singkat.
Melihat mood Austin yang sedang tidak baik gara gara dicuekin Nisa, Aldo dan Tommy langsung mengalihkan obrolan mereka agar Felicya tidak banyak tanya.
☆☆
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore, Nisa sudah bersiap-siap untuk pulang kerja. Baru keluar dari cafe, Nisa dikejutkan oleh Austin yang sedang menunggunya di parkiran depan Cafe tersebut.
"Nis, ayo pulang bareng aku !!" ajak Austin sambil meraih tangan Nisa dan mengajaknya berjalan ke arah mobilnya.
"Kamu tadi siang kenapa cuekin aku ?" tanya Austin meminta penjelasan.
Belum sempat Nisa menjawab, Fajar sudah menghampiri mereka. Karena tadi Fajar melihat Nisa berbicara dengan seorang pria, lalu ia segera keluar dari Cafenya dan menghampirinya.
Fajar khawatir karena selama ini yang dia tahu, Nisa tidak mempunyai teman lain selain teman kerjanya di Cafe.
"Ayo Nis bareng saya, kita searah kan ?" ajak Fajar tapi matanya menatap tajam ke arah Austin.
"Baik Pak." sahut Nisa, lalu ia meninggalkan Austin dan melangkahkan kakiny ke arah mobil Fajar.
Austin yang melihat Nisa meninggalkannya sangat geram, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa mengingat Nisa bukanlah kekasihnya.
__ADS_1