Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Jerman


__ADS_3

Sesaat setelah sampai di rumah Nisa segera mengguyur tubuhnya di bawah shower, ia menangis sejadi-jadinya.


"Akkkhhhhhhh." Nisa berteriak sekeras mungkin.


Nisa merutuki kebodohannya atas ketidakmampuannya melawan Austin, ia biasanya mampu menghajar beberapa penjahat sekaligus, tapi ketika melawan Austin tubuhnya seakan-akan menjadi lemah tak berdaya, pertahanannya runtuh begitu saja.


Keesokan harinya


Pagi ini Austin berangkat ke Jerman, ia menempuh perjalanan selama kurang lebih 16 jam dengan sekali transit. Karena perbedaan waktu yang lebih lambat lima jam dari Indonesia, pukul lima sore ia sudah tiba di Berlin Jerman.


Austin langsung menuju hotel tempatnya menginap, sebenarnya ia mempunyai sebuah Apartemen tempat ia tinggal dengan Felicya dulu. Namun ia enggan ke sana karena pasti akan bertemu dengan Felicya yang kebetulan juga berada di Jerman saat itu.


Walaupun ia pernah lima tahun tinggal satu atap dengan Felicya, namun sedikit pun ia tak mempunyai rasa cinta untuk wanita itu. Dari kecil Austin selalu menganggap Felicya seperti adik kandungnya sendiri, bahkan ibunya sendiri mungkin ia anggap lebih menyayangi wanita itu daripada dirinya.


Setelah memesan kamar ia berencana untuk makan malam dulu di resto yang ada di hotel tersebut, jadi setelah itu ia bisa beristirahat lebih cepat karena besok harus menjalani bedah pembatalan vasektomi yaitu vasovastotomy yang ia lakukan lima tahun yang lalu.


Austin melangkahkan kakinya menuju restoran, tapi dari jauh ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal.


"Jadi ini yang kamu bilang pekerjaan penting, bermesraan di tempat umum dengan pria lain. Apa yang akan Papa lakukan jika melihat menantu kesayangannya berbuat seperti itu." guman Austin.


Kemudian ia mengambil beberapa foto istrinya dan seorang pria sedang bermesraan di dalam restoran tersebut dengan ponselnya.


☆☆


Sudah beberapa hari ini Nisa mengurung diri di rumahnya, Adi sangat kawatir dengan kakaknya itu yang bersikap tak seperti biasanya. Beberapa kali dia bertanya, tapi kakaknya selalu beralasan kalau ia lagi sakit.


Semua pekerjaan di kantor ia serahkan pada Nindy dan adiknya itu, ia merasa benar-benar frustrasi. Bagaimana kalau ia sampai hamil lagi seperti dulu tanpa ada ikatan pernikahan.


Dia mengingat hukuman sosial dari orang-orang sekitar ketika hamil anaknya dulu, hinaan dan cacian ia terima. Sampai King lahirpun, dia juga harus menciptakan kebohongan demi kebohongan untuk melindungi anaknya itu.


tokk


tokk


"Mami." King berteriak memanggil ibunya dari balik pintu.


"ya sayang." ucap Nisa, lalu ia membuka pintu kamarnya dan nampak wajahnya masih pucat.


"Mami masih sakit ?" tanya King.


"Sudah baikan sayang." Nisa menciumi pipi gembul King.

__ADS_1


"Mbak ini sakit, tapi seperti perawan yang lagi putus cinta." celetuk Adi yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar kakaknya itu.


"Deeekkkkk." teriak Nisa.


"Habisnya Mbak sakit bukannya ke dokter justru mengurung diri." ujar Adi heran.


"Kakak sudah baikan, besok juga ke kantor."


"Jadi gajiku naik donk Mbak, selama beberapa hari ini menggantikan Mbak jadi dirut di kantor." kelakar Adi.


"Memang selama Mbak tidak ada, kamu masuk kerja setiap hari ?"


"Te-tentu saja." sahut Adi dengan gugup.


"Bukannya kamu lebih sering jalan sama cewek bule itu, daripada ngurusin urusan kantor."


"Mbak menguntitku ?" ucap Adi, ia merasa tidak terima.


"Menurutmu ?" celetuk Nisa.


"Cuma empat kali Mbak." jawab Adi mengakui.


"Akkkhhhh, sakit Mbak." Adi meringis kesakitan karena Nisa menjewer telinganya, kemudian ia berlari keluar.


"Mami, kenapa menjewer telinga Om Didi ?" tanya King pada ibunya.


"Om Didinya suka bohong sayang, jadi harus dihukum."


"King juga pernah berbohong, apa Mami akan menghukum King ?"


"Memangnya King berbohong apa sayang ?" tanya Nisa dengan lembut.


"King bilang sama teman-teman di sekolah, kalau Papa King sebentar lagi pulang. Kapan Papa pulang Mi, King ingin punya Papa seperti teman-teman di sekolah." jawab King polos, mimik wajahnya terlihat sedih.


DEG


Jantung Nisa seperti tertusuk pisau, begitu pilu ia mendengar celotehan anaknya yang baru menginjak umur lima tahun itu.


"Papa nanti pasti pulang kok sayang sabar ya, apa malam ini King mau tidur sama Mami ?" ujar Nisa dengan menahan air matanya.


"ya Mi." sahut King, kemudian ia langsung masuk ke dalam selimut. Kemudian Nisa mengusap rambut anaknya itu hingga mereka tertidur.

__ADS_1


☆☆☆


Sebulan hampir berlalu Nisa sudah mulai melupakan kejadian di kantor Austin waktu itu, ia harus lebih tegar demi anaknya. Austin juga selama sebulan ini tak pernah mencarinya, ia berpikir kalau pria itu hanya mempermainkan lnya seperti dulu.


Setelah mendapatkannya apa yang dia mau, lalu pergi meninggalkangnya begitu saja dan ia kini semakin membenci laki-laki itu.


"Syukurlah." ucap Nisa ketika keluar dari kamar mandinya.


Nisa tampak meletakkan alat pengetes kehamilan yang menunjukkan garis satu itu ke dalam nakas, setelah itu ia bersiap-siap untuk ke kantornya.


Sesampainya di kantor, ia mulai berjibaku dengan pekerjaannya, sejak memenangkan tender dari AG Mining. Mulai banyak klien yang mengajaknya kerja sama, hingga ia sering pulang malam.


Drtt....Drrrtt.... Ponsel Nisa berdering.


"Hallo Nis, lagi apa ?" tanya Tommy dari ujung telepon.


"Biasa lagi mungutin duit." celetuk Nisa.


"Bisa aja kamu, aku mau balik nih dari kota S, kamu mau oleh-oleh apa ?"


"Terserah aja yang penting ikhlas."


"Kue Spikoe aja ya, kesukaanmu."


"Oke, kamu hati-hati ya." sahut Nisa lalu menutup teleponnya.


Di tempat lain, nampak seorang wanita cantik sedang duduk di ranjang bersama seorang pria dengan selimut menutupi tubuh polosnya, tampak keringat di wajahnya sisa pergulatan panas yang baru mereka lakukan.


Sayang, kapan kamu menceraikan suamimu itu ?" tanya laki-laki yang bernama William.


"Nggak akan pernah Will, dia itu seperti tambang emas buatku." ujar Felicya.


"Terus aku ini apa ?"


"Kepuasanku." ujar Felicya ia tersenyum nakal pada kekasihnya itu.


"Terus kapan kamu pulang ke Indonesia ?"


"Secepatnya, perusahaan Papa ku hampir pailit aku harus segera minta suamiku untuk menolongnya."


"Apa kamu tidak takut kalau suamimu mengetahui hubungan kita ?" ucap William tangannya mulai menjamah tubuh wanita di sampingnya itu.

__ADS_1


"Kalaupun tahu, dia tidak akan menceraikan ku. Kamu tahu dia itu laki-laki impoten siapa yang mau menikah dengannya. Justru ia bersyukur bisa menikah denganku, status ku sebagai model terkenal bisa menguntungkan perusahaannya." ujar Felicya percaya diri.


Kemudian ia membalas ciuman pria di sampingnya itu, sepertinya mereka akan memulai percintaannya lagi. Sudah dua tahun terakhir ini Felicya menjalin hubungan dengan William, seorang pria keturunan indonesia jerman yang berprofesi model seperti dirinya. Felicya yang tidak mendapatkan kepuasan batin dari Austin, ia lampiaskan dengan beberapa laki-laki termasuk William.


__ADS_2