
"Kamu kenal laki-laki tadi Nis, bukannya dia tamu VIP di Cafe ?" tanya Fajar sambil mengemudikan mobilnya.
"Nggak pak." jawab Nisa singkat.
"Tapi tadi saya lihat dia menarik tangan kamu."
"Mungkin beliau salah orang pak." sahut Nisa bohong.
Kemudian suasana di dalam mobil itu nampak hening sampai tiba di rumah Nisa. Sampai di tempat kost, Nisa segera membersihkan dirinya dan langsung beristirahat.
Drtt..Drtt.. terdengar bunyi notifikasi, Nisa segera mengambil ponselnya dan segera melihatnya
"Lagi ngapain ?" tanya Austin.
Nisa cuma membacanya dan tidak berniat untuk membalas pesan Austin.
"Dasar laki-laki playboy, sudah punya pacar tapi masih kirim pesan pada cewek lain." gerutu Nisa.
Ia mengingat kedekatan Austin dan Felicya tadi siang, meski ia hanya menganggap Austin sebagai teman tapi ia merasa perhatian Austin selama ini padanya lebih dari teman dan Nisa merasa kalau laki-laki itu sudah menyukainya.
Hari ini di kantor mood Austin betul-betul buruk, seharian dia uring-uringan bahkan semua kerjaannya berantakan. Sepanjang hari ia memikirkan Nisa, sifat Nisa yang susah ditebak kadang dia baik dan kadang juga cuek membuatnya frustrasi.
"Kenapa meluluhkan hatinya begitu sulit, dia lebih banyak menghindar dan menutup hatinya." batin Austin sambil memainkan bolpoin di tangannya.
Jam kantor pun belum selesai, tapi Austin sudah keluar kantor duluan dan segera melajukan mobilnya. Disinilah sekarang dia berada De'Rose Cafe tempat pujaan hatinya bekerja.
"Nisanya ada ?" tanya Austin to the point pada Mita yang berada di meja kasir.
"Nisa hari ini ijin tuan, katanya lagi tidak enak badan."
"Baiklah." jawab Austin singkat kemudian berlalu pergi.
"Kenapa beliau mencari Nisa." gumam Mita.
Kemudian Austin melajukan mobilnya menuju rumah Nisa, sebelumnya memang dia sudah tau tempat Nisa tinggal. Karena ia sering diam-diam mengikutinya ketika pulang kerja.
tokk
tokk
tokk
Austin mengetuk pintu rumah Nisa, tidak lama kemudian Nisa keluar dengan muka pucatnya.
"Kamu sakit ?" tanya Austin, kemudian ia masuk ke dalam rumah tersebut tanpa permisi.
"Kamu nggak sopan banget sih, main masuk rumah orang sembarangan." protes Nisa.
Austin tidak menghiraukan teguran Nisa, dia langsung menuju dapur untuk mengambil mangkok dan segera menaruh bubur yang sudah dia beli di jalan tadi.
"Ini makan lah, kamu harus makan banyak biar cepat sembuh !!" ujar Austin sembari menyerahkan semangkok bubur.
__ADS_1
Melihat Austin yang begitu perhatian padanya, Nisa hanya bisa terpaku menatapnya.
"Kamu mau makan atau mau aku yang suapi." tegur Austin ketika melihat Nisa masih menatap lekat padanya.
"Apa aku setampan itu." ucapnya lagi sambil terkekeh.
Nisa gugup dan salah tingkah, kemudian ia buru-buru mengambil mangkuk tersebut dan segera memakannya.
"Kamu dari tadi belum ada makan ?" tanya Austin.
"Sudah."
"tapi kamu kelihatan kelaparan." ujar Austin ketika melihat Nisa makan bubur dengan lahap.
"Karena aku senang, dulu sewaktu kecil setiap aku sakit nenek selalu membuatkan bubur."
Sekarang raut muka Nisa berubah menjadi sendu dan sudut matanya sudah mengeluarkan cairan bening.
"Aku rindu nenek." ucapnya lagi, kini air matanya sudah tak terbendung lagi.
Austin yang melihat gadis di depannya itu menangis, ia langsung merengkuh dan membawanya ke dalam pelukannya.
Setelah merasa tenang, Nisa segera melepaskan tubuhnya dari pelukan Austin. "Maaf." ucap Austin, ia takut Nisa akan marah padanya karena sudah berani memeluknya tanpa ijin.
"Terimakasih ya, dari mana kamu tahu kostku, biasanya kan kamu ngantar sampai depan gang saja ?" tanya Nisa.
"Apa yang tak bisa ku tahu, semua aku tahu." Seloroh Austin menyombongkan diri.
"Kamu ngusir aku ?"
"Bukan begitu, tidak enak dilihat orang."
"Kalau tidak enak dikasih kucing saja." Ledek Austin.
"Issshhh tidak lucu, lagipula nanti pacarmu marah kalau tahu kamu sudah mengunjungi cewek lain."
"Aku nggak punya pacar."
"Dasar playboy jelas-jelas tadi siang kamu mesra-mesraan di cafe, masih saja mengelak." gerutu Nisa.
"Kamu cemburu ?" sahut Austin senyum - senyum.
"Nggak."
"Kamu pasti cemburu kan ?" ledek Austin.
"Nggak." ucap Nisa keukeh.
"Benarkah ?" Austin menatap Nisa, begitu juga dengan Nisa.
Mereka saling menatap dan tanpa sadar wajah mereka mulai mendekat, Austin langsung membenamkan bibirnya pada bibir Nisa. Karena tidak ada penolakan, Austin mulai mengecup bibir merah muda itu. Tidak puas hanya mengecup, ia mulai melum😘t dan menyesapnya dengan lembut, ia menggigit kecil bibir bawah Nisa agar membukanya hingga lidahnya menelusup masuk.
__ADS_1
Setelah beberapa lama mereka berciuman, Nisa mulai tersengal karena kehabisan napas lalu dia mendorong tubuh Austin, wajahnya nampak merah merona.
Kemudian ia segera berdiri dari duduknya. "Pulanglah Austin !!" perintah Nisa sambil membuka pintu.
Austin yang takut kalau Nisa marah, karena dia telah lancang menciumnya, ia langsung beranjak dari sofa.
"Maaf." ucap Austin.
"Pergilah !!"
"Kalau ada apa-apa telepon aku ya !" pinta Austin.
"Hmm." sahut Nisa kemudian ia langsung menutup pintu ketika Austin sudah keluar.
Diluar Austin masih berdiri terpaku di depan pintu, ia merasa takut kalau Nisa marah padanya, tapi ketika mengingat ciuman tadi ia merasa senang karena gadisnya itu juga membalasnya, tanpa sadar ia memegang bibirnya yang masih basah.
Sedangkan di dalam rumah, Nisa nampak merutuki dirinya sendiri. "Astaga sepertinya bibir ku sudah berkhianat dengan hatiku, bisa-bisanya aku tadi membalas ciumannya." gerutu Nisa ketika mengingat ciumannya dengan Austin tadi.
Entah kenapa setiap melihat tatapan Austin, tubuh Nisa seolah-olah langsung membeku dan detak jantungnya berpacu lebih cepat.
Ditempat lain Austin sedang bahagia, sepanjang perjalanan dari rumah Nisa dia selalu tersenyum. Bahkan sampai Apartemennya pun dia masih menampakkan wajah bahagianya.
"Sore tuan ?" sapa seorang Security yang sedang jaga di lobby Apartemennya.
"Sore juga." jawab Austin dengan tersenyum.
Security tersebut tampak bengong, sejak tinggal di Apartemen tersebut setahun yang lalu, baru kali ini dia menjawab sapaannya. Biasanya setiap kali disapa, Austin hanya mengangguk bahkan lebih sering tidak menghiraukannya.
☆☆
Siang ini Fajar mengajak Nisa untuk berbelanja beberapa keperluan Cafe disebuah supermarket besar di kota ini, sebelum berbelanja mereka menyempatkan mampir makan siang disebuah Food Court di Mall tersebut.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka segera menuju ke super market di Mall tersebut, tidak lama kemudian sebuah troli sudah penuh dengan belanjaan. Setelah itu mereka bergegas pulang, karena hari sudah mau menjelang sore.
Ketika baru keluar dari Supermarket tersebut, Nisa berpapasan dengan Austin yang terlihat sedang bersama wanita paruh baya dan Felicya, sepertinya mereka juga akan berbelanja.
"Dasar cowok playboy, kemarin sudah menciumku, tapi sekarang sudah asyik kencan dengan cewek lain." Batin Nisa sambil menatap tajam Austin, kemudian ia berlalu pergi meninggalkannya.
Felicya yang melihat Nisa langsung merangkul lengan Austin dengan mesra, sedangkan Austin yang merasa Nisa sedang marah berusaha untuk mengejarnya, tapi buru-buru Felicya menahannya mengisyaratkan kalau Ibunya sudah menunggu di dalam supermarket.
Di dalam mobil Nisa hanya diam membisu, kemudian Fajar berdehem untuk memecahkan lamunan Nisa.
"Kamu kenapa Nis kok melamun dari tadi ?" tegur Fajar.
"Nggak apa-apa pak."
"Panggil Mas aja Nis, kalau di luar kerjaan !!" pinta Fajar.
"i-iya pak, eh mas, mas Fajar." ucap Nisa dengan ragu.
__ADS_1
"Kamu memikirkan laki-laki yang di Mall tadi ya Nis, bukannya dia pelanggan kita, dia juga kan yang waktu itu menarik tangan kamu ?" tanya Fajar curiga.