
Siang itu nampak seorang pria berwajah oriental dengan tatapan matanya yang tajam, memasuki sebuah gedung berlantai lima. Gedung yang baru selesai di bangun itu akan menjadi kantor anak cabang perusahaan GG Corps di pulau K yang diberi nama AG Mining, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan dan juga property.
Hari ini adalah hari peresmian kantor tersebut, tidak ada pesta mewah karena sang empunya perusahaan tidak menyukai itu. Hanya pengenalan dan ramah tamah pada karyawan dan beberapa undangan rekan bisnis.
Austin nampak gagah dalam acara itu, sehingga banyak para undangan dan karyawan perempuan yang terang-terangan mengaguminya, tapi sedikitpun dia tidak tertarik, ia terlihat cuek dengan wajah dinginnya itu dan terkesan sombong.
Setelah acara selesai Austin dan teman-temannya Aldo dan Tommy meninggalkan kantor tersebut. Mereka akan berkunjung ke Apartemen barunya Austin. karena dia akan tinggal agak lama di pulau itu untuk mengawasi perusahaan barunya.
"Bro istri kamu mana, kok tidak ikut mendampingimu di acara tadi ?" tanya Tommy setelah mereka masuk ke dalam Apartemennya.
"Ada pemotretan di Paris ?" sahut Austin singkat.
"Hubungan kalian baik-baik saja kan ?" tanya Tommy, tapi pandangannya ke arah Aldo.
Aldo yang dipandang Tommy hanya mengedikkan kedua bahunya, menandakan dia tidak tahu dengan kisah rumah tangga sahabatnya itu.
"Seperti yang kalian pikirkan." Ujar Austin.
"Kamu masih cinta sama Nisa ?" tanya Tommy memastikan.
Austin diam beberapa saat kemudian dia melihat Tommy dengan tatapan serius. "Aku akan meminta pertanggungjawaban dia, karena telah melenyapkan anakku."
"Kamu yakin anakmu sudah nggak ada ?" tanya Tommy lagi.
"Bukannya waktu itu, dia akan menggugurkannya ?" tanya balik Austin.
"Kamu nggak akan menyakitinya kan ?" kali ini Aldo yang menimpali, dia melihat Austin dan Tommy bergantian.
"Bukan urusan kalian." ujar Austin kemudian dia berjalan menuju mini bar yang ada di apartemennya itu untuk mengambil sebotol Wine dan beberapa gelas.
"Seandainya dia masih ada mungkin dia sudah menikah, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar." ujar Aldo.
"Aku tidak peduli, dia milikku siapapun tidak berhak memilikinya." ucap Austin dengan menekankan kata-katanya.
"tapi bagaimana dengan Felicya, apa kamu akan menduakannya ?" tanya Tommy yang sedikit kesal.
"Kalau kamu mau ambil saja, selama ini aku nggak pernah menidurinya, kecuali kalau dia tidur sama pria lain, bukannya kamu juga dari dulu menyukainya ?"
"Kamu menyukai Felicya ?" Aldo tampak terkejut.
"i-iya tapi itu dulu sebelum mereka menikah, tapi sekarang gue sudah mencintai wanita lain." ujar Tommy wajahnya terlihat bahagia ketika mengingat senyum manis Nisa.
"Apa ibu dari anak kecil itu ?" tanya Aldo, ia melihat Austin yang juga tampak penasaran.
"Bukan urusan kalian, tapi kali ini aku akan benar-benar berjuang untuk mendapatkannya." ucap Tommy dengan serius.
☆☆☆
Malaysia
__ADS_1
Malam ini Nisa terlihat sangat cantik, dengan gaun kerah sabrina selutut dan rambutnya dia biarin terurai menutupi bahunya yang terbuka. Dia terlihat seperti gadis remaja, siapa pun yang melihatnya tidak akan mengira kalau dia sudah memiliki anak berusia hampir lima tahun.
Pesta itu di adakan di sebuah ballroom hotel bintang lima, tamu yang di undang pun dari kalangan atas. Fachri yang notabene nya seorang pengusaha terkenal di negaranya dan istrinya juga seorang designer yang memiliki pelanggan para wanita sosialita, jadi pesta itu terlihat mewah dengan orang-orang yang berkelas.
"Sayang ayo kakak kenalin ke teman-teman kakak yang satu negara dengan kamu ?" Fajirah menggandeng tangan Nisa dan mengajaknya ke arah beberapa kumpulan wanita yang sudah berumur tapi masih terpancar kecantikannya.
"Puan-puan kenalin ini adik angkat saya Anisa, dia juga berasal dari Indonesia. Dia salah satu pengusaha sukses wanita di pulau K." tampak Fajirah dengan bangga memperkenalkan Nisa pada teman-temannya.
Mereka nampak kagum melihat sosok Nisa, selain karena kecantikannya dan terlihat masih muda, diia juga seorang pengusaha yang sukses.
"Apa kau mengingat ku Nak ?" Nyonya Celine tiba-tiba menghampiri Nisa.
"Apa nyonya Celine mengenal adik saya ?" tanya Fajirah, ia tampak heran.
"Kemarin sore dia sudah menolong ku dari para preman yang mau merampas tasku, beruntung ada Nona ini. Dia menghajar preman itu sampai babak belur, tapi kasihan tangan dia juga terluka." ujar nyonya Celine dengan antusias.
"Nggak apa-apa nyonya hanya luka kecil." ucap Nisa.
"Wah hebat sekali selain cantik kamu juga pemberani, apa kamu sudah punya pacar, keluarga kami pasti senang mempunyai menantu seperti kamu ?" ujar seorang wanita yang berdiri disamping nyonya Celine.
"Seandainya anakku belum menikah, aku juga ingin menjadikan kamu menantuku." ucap nyonya Celine.
"Saya sudah menikah Nyonya dan dia anak saya." ujar Nisa lalu ia menunjuk seorang anak kecil yang sedang berjalan ke arahnya.
"Mami." teriak King lalu ia merangkul pinggang Ibunya.
Nyonya Celine tampak terkejut ketika melihat King, dia seperti melihat Austin waktu kecil. Segala tingkah laku anak itu tidak luput dari pengawasannya.
"iya nyonya."
"Tampan sekali, pasti mirip dengan Ayahnya."
"iya nyonya sangat mirip." sahut Nisa.
"Apa dia juga hadir di sini ?" tanya Nyonya Celine, beliau mengedarkan pandangannya.
"Nggak nyonya, suami saya lagi sibuk jadi tidak bisa hadir." ucap Nisa, raut wajahnya terlihat muram dan nyonya Celine melihat itu.
"Kenapa dia tampak muram saat membicarakan suaminya." batin nyonya Celine.
Fajirah yang menyadarinya langsung mengajak Nisa dan King untuk pergi dari sana dan mengajaknya berkenalan dengan tamu yang lain.
Beberapa saat kemudian acara dimulai dengan beberapa sambutan dan doa kemudian di akhiri dengan tiup lilin. Di akhir acara ada beberapa tamu yang tampak bernyanyi di panggung kecil dengan tepuk riuh para undangan.
"Mohon perhatiannya nyonya-nyonya dan tuan-tuan dihari spesialnya kali ini, tuan Fachri dan nyonya Fajirah meminta sebuah hadiah kepada adiknya Nona Anisa untuk menyumbangkan sebuah lagu." ujar seorang pembawa acara.
Nisa merasa kaget dia melihat ke arah kakaknya itu tak percaya, dia bingung harus menyanyi apa, karena selama ini dia tidak pernah menyanyi disebuah acara, tapi teriakan para tamu undangan yang mendukungnya, mau tidak mau membuat dia maju ke atas panggung.
Terlihat Nisa membisikkan sesuatu kepada pemain keyboard dan tak lama kemudian dia mulai menyanyi mengikuti alunan musik.
Kasih tak sampai - Padi
__ADS_1
Indah terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptalah rasa
Keinginan saling memiliki
Namun bila
Itu semua dapat terwujud
Dalam ikatan cinta
Tak mudah seperti yang pernah terbayangkan
Menyatukan perasaan kita
Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita abadi
Biarlah sinar mu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua
Berdua
Sudah
Lambat sudah
Kita semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
Dan kita mesti relakan kenyataan ini
Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita abadi
Biarlah sinar mu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua
Berdua
__ADS_1
Meski awalnya ragu tetapi Nisa membawakan lagu itu dengan merdu, sepertinya dia sangat menghayati setiap bait lagu yang sesuai dengan kisah hidupnya, banyak para tamu undangan yang mengabadikan moment tersebut termasuk nyonya Celine.