
"Kamu memikirkan laki-laki yang di Mall tadi ya Nis, bukannya dia pelanggan kita, dia juga kan yang waktu itu menarik tangan kamu ?" tanya Fajar curiga.
"Tidak mas, beliaukan cuma pelanggan di Cafe kita." sahut Nisa berbohong.
Tapi Fajar tidak begitu saja percaya pada penjelasannya, ia berpikir pasti ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
"Nis mas harap kamu bisa berhati - hati ya kalau mengenal seorang laki-laki apa lagi di kota sebesar ini, tidak semua laki-laki yang kamu temui itu orang baik."
"Baik mas, terima kasih saya mengerti." sahut Nisa.
☆☆
Seminggu sudah berlalu dan selama seminggu ini Nisa dan Austin lose contact, beberapa hari ini Nisa meminta ijin Fajar untuk pulang kampung. Karena Nisa mendapat kabar kalau neneknya di kampung lagi sakit.
Di sinilah sekarang ia berada, sebuah pedesaan yang masih sangat asri. Dengan sebuah pemandangan gunung yang menjulang tinggi menampakkan keindahannya.
"Nduk Nenek sudah agak sehat sekarang, kamu bisa balik ke kota lagi. Terimakasih ya Nduk, udah menjenguk dan merawat Nenek." ucap Neneknya Nisa.
"Cuti Nisa masih dua hari lagi Nek, Nisa masih mau menemani Nenek."
"Apa boss kamu tidak keberatan, kalau kamu terlalu lama ijin Nduk ?"
"Pak Fajar orang yang baik Nek, bahkan beliau yang menyarankan Nisa untuk menjenguk Nenek."
Ditengah obrolan mereka, Adi adiknya Nisa yang baru pulang sekolah langsung bergabung dengan mereka.
"Gimana Dek ujiannya, lancar ?" tanya Nisa pada adiknya.
"Alhamdulillah mbak, banyak yang bisa."
"Belajar yang rajin ya Dek, biar bisa melanjutkan ke sekolah menengah atas."
"Sepertinya, setelah lulus SMP nanti Adi nggak melanjutkan sekolah Mbak, Adi mau kerja bantu Nenek."
"Dek kamu laki-laki loh, kamu akan jadi kepala rumah tangga sampai tua nanti. Jadi mbak harap kamu terus sekolah. Menggapai cita-cita kamu."
"Soal biaya kamu tidak usah pikirkan, yang penting kamu sekolah yang rajin. Kalau bisa sampai lulus kuliah, harapan Mbak besar sama kamu Dek. Tolong jangan kecewakan Mbak." lanjut Nisa lagi, ia menasehati adik kesayangannya itu.
"tapi kasihan Mbak, harus capek kerja untuk membiayai Adi dan Nenek."
"Mbak ikhlas Dek, lagipula gaji Mbak lumayan besar apa lagi pas ada lemburan Mbak bisa terima lebih."
__ADS_1
"Udah kamu cepat ganti baju sana !!" perintah Nisa kemudian pada adiknya.
Beberapa hari ini Nisa sengaja mematikan ponsel bututnya, disamping karena di kampung tidak terlalu bagus signalnya dia juga tidak mau di ganggu masa liburnya apalagi oleh Austin. Seorang laki-laki tampan yang memenuhi pikirannya beberapa bulan terakhir.
Setelah seminggu berada di kampung, baru hari ini ia menghidupkan ponselnya untuk menghubungi Fajar kalau besok sore ia akan kembali ke kota.
Di tempat lain Austin sangat frustasi karena sudah seminggu ini ia tidak menemukan Nisa, bahkan teleponnya pun mati. Berbagai cara ia lakukan untuk mencari keberadaan gadisnya itu.
Ia mendatangi Cafe setiap hari untuk bertanya pada teman - teman kerjanya, bahkan dia juga bertanya ke Ibu kostnya Nisa, tapi nihil yang mereka tahu kalau wanita itu hanya pulang ke kampungnya, Alamatnya pun mereka juga tidak tahu, karena selama ini Nisa sangat menutup diri.
Siang ini Austin mendapatkan kabar dari Wira kalau keberadaan Nisa sudah ditemukan dengan melacak nomor ponselnya. Setelah itu Austin segera bergegas mencari Nisa ke alamat yang diberikan oleh asistennya tersebut, berbekal google map mobil Austin melaju ke alamat yang dituju.
Setelah hampir 4 jam perjalanan, mobil Austin masuk pada sebuah pedesaan yang asri, di kanan dan kiri jalan ada pematang sawah yang begitu indah di pandang. Pelan-pelan Austin melajukan mobilnya, ia mengedarkan pandangannya kesana kemari berharap dia menemukan sosok wanita yang dia rindukan seminggu ini.
Ditengah pencariannya, Austin melihat sosok wanita yang sedang duduk di tepi sawah agak jauh dari jalanan, kemudian ia mencoba turun dari kendaraannya menuju tempat tersebut. Memastikan apa benar itu sosok wanita yang ia cari, semakin ia mendekat ia semakin yakin kalau itu adalah wanitanya.
"Nisa." panggil Austin.
Nisa menoleh mencari tahu siapa yang memanggilnya dan tanpa aba-aba Austin langsung memeluk Nisa dengan erat.
"Austin kamu ngapain disini ?" tanya Nisa sambil berusaha melepaskan pelukan Austin.
"Aku mohon, jangan lepaskan. Biarkan begini sebentar." ujar Austin dengan semakin mengeratkan pelukannya.
"Hey bodoh, kenapa kamu pergi tanpa kabari aku ?" tanya Austin seraya menyentil kening Nisa.
"Kamu tahu, aku hampir gila nyari kamu kesana kemari." ucapnya lagi.
"issshhh sakit." gerutu Nisa.
"Aku merindukanmu." ujar Austin sambil memeluk Nisa lagi.
"Austin lepaskan aku !!" Nisa meronta.
"Lagipila ngapain juga kamu merindukan aku."
"Karena aku cinta sama kamu Nis." ujar Austin sambil kedua tangannya memegang bahu Nisa.
"Bohong !!" sahut Nisa.
"Lihat mataku Nis, apa aku sudah berbohong."
Nisa yang setiap kali Menatap Austin tubuhnya selalu membeku, jantungnya berdebar debar dan berdetak dengan cepat. Nisa terus menatap manik Austin untuk mencari kebenaran disana, tapi kemudian laki-laki itu mencium bibirnya dengan lembut.
__ADS_1
Nisa terkesiap, lalu ia mendorong tubuh Austin untuk menjauh.
"Selalu saja kamu mencuri ciumanku." protes Nisa.
"tapi kamu suka kan ?" ledek Austin.
"Nggak."
"Aku serius Nis, aku cinta sama kamu. Apa kamu mau jadi kekasihku atau kita langsung menikah saja." ujar Austin serius.
"tapi kamu sudah punya kekasih, entah dia kekasihmu yang ke berapa."
"Apa Felicya yang kamu maksud, yang kita ketemu di Mall waktu itu. Astaga, dia cuma sahabatku dari kecil yang sudah ku anggap seperti adikku sendiri."
"tapi dia tidak menganggap kamu sebagai kakaknya, dia menyukaimu !!"
"Kamu cemburu ?" goda Austin.
"Nggak."
"Aku senang kamu cemburu, jadi sekarang kita sepasang kekasihkan ?" ujar Austin memaksa.
"Jangan di jawab aku tidak suka di bantah, sekarang kamu adalah milikku." lanjut Austin dengan menekankan kata-katanya.
"Kamu pemaksa sekali." sahut Nisa, kemudian ia memalingkan wajahnya dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Austin yang melihat Nisa tersenyum, hatinya begitu bahagia. Bagaimana tidak sudah berbulan-bulan dia mengejarnya, tapi selalu saja penolakan yang dia dapat dan sekarang mereka akan mulai merajut kasih.
"Sayang, aku nginap ya di rumah kamu ?" tanya Austin tampak mengiba.
Nisa yang mendengar kata 'sayang' dari Austin, ia nampak merona. "Nggak." jawab Nisa.
"Kamu tega, pacar kamu yang tampan ini tidur di jalanan."
"Kamu pulang sana !!"
"Astaga sayang ini sudah mau malam, kamu mau aku dimakan binatang buas di sini."
Nisa tidak menanggapi lagi perkataan Austin, dia langsung saja berlalu pergi yang di ikuti oleh Austin disampingnya. Sesampainya di rumahnya ia langsung mengenalkan Austin pada neneknya.
"Siapa Nduk pulang-pulang kok bawa tamu ?" tanya Nenek.
"Saya pac......." Austin belum selesai bicara tapi mulutnya sudah di bekap oleh Nisa.
__ADS_1