
Siang ini Austin terlihat sibuk di kantor barunya, ia sedang memeriksa beberapa dokumen untuk proyek pertambangan yang sedang ia kerjakan. Beberapa saat kemudian pintu ruangannya diketuk, lalu masuklah sekretarisnya yang bernama Lina.
"Maaf tuan, ini dokumen yang anda minta." ucap Lina dengan gaya centilnya, ia menaruh sebuah map ke atas meja Austin.
Austin membuka map itu dan memeriksanya secara detail. "Lin, ini kenapa bagian catering belum terdata ?" tanya Austin tegas.
"Masih dalam penyeleksian tuan untuk dipilih tiga yang terbaik, setelah itu anda sendiri yang akan menentukan jasa catering mana yang akan dikontrak perusahaan kita. Mungkin beberapa hari lagi sudah ada hasilnya." ujar Lina.
"Kalau begitu nanti serahkan pada Wira, biar dia yang mengurus semua." perintah Austin.
"tapi tuan Wira masih di kota Surabaya tuan."
"Mulai besok dia akan membantu kita di sini, sampai proyek ini berjalan." ujar Austin.
"Baik tuan." jawab Lina, lalu ia meninggalkan ruangan tersebut.
Drtt....Drtt... ponsel Austin berdering
"Hallo Al." jawab Austin
"Bro, nanti sore aku mau balik ke Paris nih, ada urusan penting yang harus segera ku selesaikan." ujar Aldo dari ujung telepon.
"Mendadak sekali, kamu lama di sana ?"
"Belum tahu bro, nanti ku kabari lagi." ujar Aldo, kemudian ia mematikan panggilannya.
Beberapa hari kemudian
Beberapa hari ini Austin masih sibuk dengan proyeknya, sesekali dia juga ke lapangan langsung untuk mengecek.
"Wir, tender untuk catering apa sudah dapet hasilnya ?" tanya Austin.
"Sudah tuan dan saya juga sudah memilih satu yang terbaik." sahut Wira.
"Apa mereka sudah berpengalaman ?" tanya Austin memastikan.
"Tentu saja tuan, PT Aerofood sudah bertahun-tahun melayani lokasi pertambangan dan migas."
"Memang ada berapa perusahaan yang lolos seleksi di tahap akhir ?"
"Dari sepuluh perusahaan yang mengajukan proposal, hanya tiga yang lolos tuan."
__ADS_1
"Dari perusahaan mana saja mereka ?"
"PT Aerofood, PT Globalfood dan PT Kingfood tuan." ujar Wira menjelaskan.
"Bisa kamu cari profil lengkap ketiga perusahaan itu, siapa pemilik dan sepak terjangnya selama ini. Kerena kita akan mengajukan kerja sama yang lumayan lama, aku nggak mau dikemudian hari perusahaan mereka membuat masalah." perintah Austin.
"Baik tuan, segera saya cari tahu." ujar Wira kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ditempat lain tuan Michael sedang duduk di kursi kebesarannya di kantor GG Corps. Beliau menggantikan jabatan Austin untuk sementara sebagai CEO di perusahaannya, selama Austin berada di pulau K.
Tuan Michael sengaja menempatkan anaknya itu di pulau K, karena beliau ingin melihat kemampuan Austin mengelola perusahaan dari nol.
Drtt.....Drtt.... ponsel tuan Michael berdering. Kemudian beliau melihat siapa yang meneleponnya, nampak sudut bibirnya terangkat.
"ya Wir, ada kabar apa ?" tanya tuan Michael tampak penasaran.
"Siang tuan, saya mempunyai beberapa informasi yang anda minta ?" ucap Wira dari ujung telepon.
"Katakan !!" perintah tuan Michael, beliaumulai tak sabar untuk mendengarkan.
"Jadi selama ini Nona Anisa disokong oleh mendiang tuan Fajar, tuan." ucap Wira.
"Siapa dia Wir dan ada hubungan apa dengan wanita itu ?" tuan Michael nampak sangat penasaran.
"Tuan Fachri ?" ucap tuan Michael.
"Benar tuan, beliau adalah mantan rekan bisnis anda dulu dan istrinya beliau teman baik nyonya besar."
"Apakah Anisa ada hubungan khusus dengan tuan Fajar ?" tanya tuan Michael memastikan.
"Maksud tuan ?" tanya Wira tampak ia kurang mengerti.
"Apa mereka pacaran atau sudah menikah ?"
"Sepertinya tidak tuan, tuan Fajar menganggap nona Anisa seperti adiknya sendiri begitu juga dengan tuan Fachri. Nona Nisa juga yang merawat tuan Fajar sebelum beliau meninggal, kalau tidak salah waktu itu nona Nisa sudah hamil tiga bulan." ujar Wira menjelaskan.
"Jadi tuan Fajar yang selama ini melindungi wanita itu ?" tanya tuan Michael seperti tidak percaya.
"Benar tuan, sebelum meninggal beliau mewariskan sebagian hartanya di pulau K, berupa cafe dan bar lalu beberapa properti untuk nona Anisa."
"tapi wanita itu sekarang juga mempunyai perusahaan di pulau K."
__ADS_1
"Benar tuan, perusahaan itu baru satu tahun lebih dirintis oleh nona Anisa, sepertinya beliau selama lima tahun ini sangat bekerja keras."
"Bagaimana dengan suaminya ?"
"Menurut informasi yang saya dapat, beliau belum pernah menikah sama sekali tuan."
"Benarkah ?" tanya tuan Michael seperti tidak percaya, lalu sudut bibirnya terangkat.
"Benar tuan." sahut Wira memastikan.
"Baiklah Wir, kamu selalu bisa saya andalkan."
"Terima kasih tuan." jawab Wira lalu menutup teleponnya.
Wira masih berada di ruangan kerjanya, setelah menghubungi tuan Michael tadi. Kemudian dia mengambil sebuah map yang ada di meja kerjanya, ia mengamati secara detail map tersebut, terdapat sebuah tulisan besar di sampul map tersebut 'PT Kingfood'.
"Maafkan saya tuan besar, saya tidak memberi tahu kalau perusahaan nona Anisa mengikuti tender di proyek yang tuan Austin kerjakan sekarang. Saya sudah semampu mungkin untuk tidak meloloskan perusahaan tersebut, tapi justru anak anda sendiri yang sudah memilihnya." batin Wira.
Setelah itu Wira meninggalkan ruangannya dan menuju ruangan bossnya itu yang berada satu lantai dengannya, tepatnya di lantai paling atas yaitu lantai lima.
Di lantai lima hanya terdiri dari tiga ruangan yaitu ruangan Wira, ruangan sekretaris dan yang paling besar adalah ruangan Austin. Di dalam ruangan Austin selain tempat kerja juga ada ruang istirahat berupa satu buah tempat tidur beserta kamar mandi
di dalam.
tokk
tokk
Wira mengetuk pintu, lalu ia masuk ke dalam setelah mendapat sahutan dari dalam.
"Tuan, ini profil dan latar belakang ketiga perusahaan catering yang anda minta." Wira menyerahkan tiga map itu kepada bossnya.
"Dan ada satu profil yang mungkin akan membuat anda terkejut tuan." lanjut Wira.
"Apa ?" tanya Austin tidak mengerti, dia masih memegang ketiga dokumen tersebut.
Kemudian Wira mengambil map warna merah di tangan Austin, lalu ia menyerahkan kembali pada bossnya itu."Bukalah tuan."
Austin membuka map itu kemudian membacanya secara detail. "i-ini benar profilnya Nisa, Nisaku Wir ?" tanya Austin, ia tampak tidak percaya, Ia terlihat begitu senang.
"Benar tuan, beliau nona Anisa yang selama ini anda cari." sahut Wira nampak ada sedikit senyum di bibirnya.
__ADS_1
Sepertinya Wira ikut merasa senang ketika melihat kebahagiaan yang tersirat di wajah bossnya itu, karena sejak pulang dari Jerman beberapa bulan yang lalu, Austin tidak pernah menampakkan senyumnya, ia selalu memasang wajah dinginnya setiap saat dan nampak kesedihan di balik tatapan tajamnya itu.