Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Hancurnya persahabatan


__ADS_3

Siang itu terlihat dua pria tampan berwajah oriental dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya sedang berdiri menunggu jemputan di sebuah bandara di pulau K, mereka adalah Tommy dan Austin.


Sudah hampir satu bulan Austin meninggalkan pulau K, setelah satu minggu di Jerman ia memutuskan kembali ke kota Surabaya untuk mengurus beberapa masalah di perusahaannya. Sedangkan Tommy baru pulang dari mengunjungi kedua orang tuanya di kota itu juga.


"Kamu bawa apa bro ?" tanya Austin yang melihat paper bag di tangan Tommy.


"Sedikit oleh-oleh." sahut Tommy singkat.


"Untuk ibu dari anak waktu itu ?" ledek Austin.


Tommy tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum kecil pada sahabat sekaligus saudara sepupunya itu.


"Aku jadi penasaran siapa sih wanita itu, yang membuat kamu rela menenteng barang itu."


"Suatu saat kamu juga tahu." sahut Tommy, ia tersenyum pada Austin.


"Maaf tuan sedikit terlambat, tadi jalanan cukup macet." ujar Wira yang baru datang, ia merasa tidak enak karena telah membuat bossnya itu menunggu.


"Kamu sekalian mau ikut kita Tom ?" tanya Austin, ia menawarkan tumpangan pada sahabatnya itu.


"Nggak perlu bro, sopir kantor akan menjemputku."


"Oke, aku duluan ya." pamit Austin.


Setelah Austin masuk ke dalam mobil ia melepas kacamata nya. "Bagaimana dia Wir, apa kamu selalu mengawasinya ?"


"Nona Anisa baik tuan, beliau tetap menjalankan rutinitas seperti biasa." sahut Wira yang sedang duduk di kursi depan di samping supir.


"Apa dia terlihat dekat dengan seseorang ?" tanya Austin karena dia ingat waktu di kantor itu, Nisa mengatakan kalau dia sudah mencintai orang lain.


Wira merasa ragu untuk mengatakan, tapi ia terlihat mengambil beberapa lembar foto dari dalam tas kerjanya.


"Ini tuan." Wira menyerahkan foto tersebut pada Austin.


Austin melihat lembaran foto yang diberikan oleh Wira, setelah itu nampak kilatan marah di matanya.


"Sejak kapan mereka dekat, Wir ?" tanya Austin ketika melihat foto-foto kedekatan antara Nisa dan Tommy.

__ADS_1


"Sepertinya sudah lama tuan, sebelum anda datang ke pulau K beberapa bulan yang lalu."


"Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang ?" tegur Austin.


"Saya juga baru mengetahui satu bulan yang lalu tuan, sebenarnya saya ingin memberitahu anda waktu itu tapi anda sudah terburu-buru berangkat ke Jerman." ujar Wira menjelaskan


"Jadi Tommy selama ini mencoba bermain belakang denganku, penghianat." Austin sangat marah dan meremas salah satu foto antara Nisa dan Tommy yang sedang tertawa bersama di sebuah restoran.


"Apa tuan mau makan siang dulu sebelum ke kantor." tanya Wira.


"Kita pergi ke restorannya Nisa, Wir !!"


"Baik tuan."


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di restoran tersebut, setelah itu Austin dan Wira segera masuk ke dalam Restoran tersebut yang berada di lantai dua.


"Selamat siang tuan, silahkan mau pesan apa." sapa seorang waiters lalu ia menyerahkan buku menu.


Austin melihat beberapa menu di sana, kebanyakan menu di sana adalah makanan kesukaannya.


Setelah memesan makanan, Austin nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dalam restoran tersebut.


"Sepertinya laki-laki itu sangat mencintainya, bahkan di saat akhir hidupnya pun dia masih memperdulikan kebahagiaan Nisa." ujar Austin.


"Tuan Fajar hanya memberikan jalan tuan, selanjutnya nona Nisa lah yang bekerja keras." sahut Wira menenangkan.


"Aku seperti orang yang tidak berguna di matanya Wir, aku sudah banyak menyakitinya, bahkan aku sudah membuatnya untuk melenyapkan anak kami." ujar Austin, ia nampak menyimpan kesedihan di matanya.


Wira hanya bisa diam mendengarkan, ia tidak bisa mengatakan kalau sebenarnya anaknya itu masih hidup. Karena ia masih ingat janjinya pada tuan Michael pada waktu itu.


"Maafkan saya tuan." batin Wira.


Setelah selesai makan, mereka segera meninggalkan restoran tersebut. Sampai di tempat parkir Austin melihat Nisa dan Tommy baru keluar dari mobilnya masing-masing.


Tadi setelah dari bandara, Tommy dijemput oleh supirnya, lalu ia langsung ke kantor Nisa untuk mengantar oleh-oleh kue Spikoe kesukaan wanita itu. Sebagai ucapan terima kasih, Nisa mentraktir Tommy untuk makan siang bersama di restorannya.


Austin berjalan ke arah Tommy dan langsung melesatkan tinjuannya hingga laki-laki itu terhuyung ke belakang.

__ADS_1


"Kamu kenapa bro ?" tanya Tommy bingung, ia mengusap darah di sudut bibirnya.


"Ternyata kamu seorang penghianat." Austin memukul lagi, kali ini pukulannya sangat keras hingga Tommy tersungkur ke lantai.


Dengan perlahan Tommy bangkit, meski ia agak sempoyongan "Jadi kamu sudah tahu semuanya, baguslah." ucap Tommy ia tersenyum menyeringai.


"Kamu tahukan, selama ini aku mencarinya, tapi kamu pura-pura tidak tahu. Apa kamu juga menyukainya ?" teriak Austin dengan memegang kerah baju Tommy dan sekilas ia melihat ke arah Nisa yang sudah tampak kawatir.


"Kalau iya kenapa, kamu sudah punya Felicya. Aku selama ini sudah mengalah demi kamu, tapi kali ini aku tidak akan mengalah lagi. Kamu tidak bisa serakah untuk memiliki keduanya." ujar Tommy, ia mulai menantang.


Austin langsung melesatkan tinjuannya lagi, seketika Tommy langsung jatuh dan lagi-lagi Austin memukulinya secara membabi buta.


"Tuan berhenti, anda bisa membunuhnya." Wira langsung melerai mereka.


"Austin hentikan." Nisa menatap tajam pada Austin, kemudian ia bersimpuh untuk melihat keadaan Tommy yang sudah babak belur.


"Kamu membelanya ?" tanya Austin ia menarik tangan Nisa, tapi Nisa langsung menepisnya.


Kemudian Nisa membantu Tommy untuk berdiri. "Kamu baik-baik saja Tom ?" Tommy hanya mengangguk dan tersenyum kecil padanya.


Austin merasa cemburu melihat kedekatan Nisa dan Tommy, lagi-lagi ia akan memukul Tommy tapi dengan cepat Nisa menahan tangannya. "Dia kekasihku." ujar Nisa


"Apa, katakan sekali lagi ?" Austin berteriak pada Nisa.


"Tommy kekasihku sekarang, jadi jangan ganggu hubungan kami lagi. Lagipula kamu sudah menikah, fokuslah sama keluarga mu." ucap Nisa, kemudian ia berlalu pergi dengan Tommy meninggalkan Austin yang masih tampak shock.


Austin langsung memukul tembok yang ada di tempat parkir tersebut, terlihat darah mengalir dari sela-sela jarinya. Ia terduduk di lantai, matanya berkaca-kaca hatinya terasa hancur.


Selama bertahun-tahun ia menjaga hatinya hanya untuk Nisa cinta pertamanya, tapi sebaliknya gadisnya itu justru berpaling pada sahabatnya sendiri.


"Tuan mari kita pergi dari sini." Wira membantu bossnya itu untuk bangun dan mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu nggak apa-apa tom ?" tanya Nisa pada Tommy.


"Nggak apa-apa Nis, aku akan lindungi kamu dari Austin." ujar Tommy.


"Maaf ya, sudah melibatkan kamu dalam masalahku ini." Nisa tampak menyesal.

__ADS_1


__ADS_2