Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Keputusan Wira


__ADS_3

Sore ini Nisa masih berada di kantornya, padahal karyawannya sudah pulang satu jam yang lalu.


tokk


tokk


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, tak lama kemudian Nindy asistennya itu masuk.


"Ibu belum mau pulang ?" tanya Nindy.


"Kamu pulang duluan saja Nin, masih ada beberapa berkas yang harus saya cek." sahut Nisa yang sedang mengecek beberapa lembar kertas di mejanya.


"Saya mau mengingatkan bu kalau meeting di AG Mining di majukan besok pagi, kemudian siang harinya dilanjutkan lagi meninjau ke lokasi di mana proyek akan dikerjakan." tutur Nindy


"Kamu saja Nin yang datang, tidak apa-apa kan ?" ucao Nisa dengan suara memohon.


Sebenarnya Nisa malas kalau harus berurusan dengan Austin, apalagi harus ikut meninjau lokasi proyek pasti akan memakan waktu hingga sore hari.


"Baik bu, kalau begitu saya permisi." sahut Nindy kemudian ia berlalu pergi.


Drtt...Drtt... Ponsel Nisa berdering.


"Hallo tante, apa kabar ?" Sapa Nisa ketika mengangkat teleponnya.


"Baik sayang, besok tante mau ke pulau K. Kita bisa ketemu kan, tante kangen banget sama kamu dan King. Sekalian tante kenalin dengan menantu tante, semoga kalian bisa akrab." ujar nyonya Celine dari ujung telepon.


"Iya tante, besok kabari saja kalau sudah sampai."


"Terima kasih sayang." ujar nyonya Celine lalu menutup teleponnya.


Di kota Surabaya


Nyonya Celine nampak sedang mengemas beberapa barang untuk di bawa ke pulau K bersama suami dan menantunya Felicya.


"Apa sudah kamu cari tahu semua apa yang saya perintahkan." ujar Tuan Michael, ketika sedang menghubungi seseorang di ruang kerjanya.


"Baiklah kita jalankan rencananya setelah saya sampai di pulau K." ucapnya lagi, kemudian beliau menutup panggilannya itu.


"Sebentar lagi kita akan bersama sayang." gumam tuan Michael sambil melihat foto King dalam ponselnya.


Sepertinya beliau sangat merindukan cucunya, pertemuan singkat di Malaysia waktu itu sudah membuatnya langsung jatuh cinta pada bocah lima tahun yang terlihat begitu menggemaskan itu.


Tuan Michael berharap dengan adanya King, hubungannya dengan Austin akan membaik dan kembali hangat seperti beberapa tahun yang lalu.


☆☆☆

__ADS_1


Jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, Nisa baru keluar dari kantornya.


"Astaga hujan." gumam Nisa.


Nisa melihat ke arah luar nampak hujan lumayan deras, sedangkan ia memarkirkan mobilnya agak jauh dari kantornya.


Kemudian ia kembali lagi masuk ke dalam kantornya untuk mencari payung, tapi ia tidak menemukannya di sana, lalu ia melihat pos security tapi kosong. Mau tidak mau dia harus berlari menuju mobilnya itu, karena kalau menunggu hujan reda pasti kemalaman.


Disaat ia berlari menuju mobilnya, tiba-tiba ada seseorang yang membekapnya dari belakang, ia berusaha sekuat tenaga menyikut orang tersebut tapi pandangannya tiba-tiba kabur dan beberapa detik kemudian ia tak sadarkan diri.


Keesokan harinya


Nisa nampak tidur diatas ranjang dengan selimut tebal menutupi badannya dan di sampingnya terlihat seorang pria sedang berbaring dengan posisi badan miring menghadapnya. Pria itu begitu intens memandang wajah Nisa yang tidur begitu pulas.


Tak lama kemudian Nisa mengerjapkan matanya, dan samar-samar ia melihat Austin ada di depannya. Lalu ia menutup matanya kembali yang masih terasa mengantuk.


"Astaga dalam mimpi pun dia juga hadir, apa aku begitu merindukannya." gerutu Nisa dengan mata masih terpejam. Austin yang mendengarnya nampak tersenyum gemas.


"Selamat pagi sayang ?" sapa Austin, ia tersenyum manis pada wanitanya itu.


"Apa ini bukan mimpi." ujar Nisa, ia membuka matanya dan melihat Austin yang sudah berada di sampingnya, ia memegang pipi Austin memastikan kalau itu bukan mimpi.


"Akhhhhhh." Nisa berteriak, kemudian dia langsung terduduk.


"Ini kamar ku sayang." ujar Austin, ia nampak gemas ketika melihat reaksi wanitanya itu.


Nisa mengedarkan pandangannya, lalu ia mengumpulkan serpihan ingatannya tentang kejadian semalam. Ia ingat ketika ia nekat berlari menerobos hujan untuk sampai ke mobilnya, kemudian ada seseorang yang membekapnya dari belakang, lalu setelah itu dia mulai tak sadarkan diri.


"Kamu menculikku ?" tanya Nisa, ia terlihat geram pada Austin.


"Siapa yang menculik sayang, justru aku yang menolongmu dari para preman itu. Karena aku tidak tahu rumah mu, makanya aku bawa ke Apartemen ini." jawab Austin beralasan.


Sebenarnya Wira lah yang membawa Nisa ke apartemennya dalam keadaan pingsan, dengan baju yang basah kuyup karena terkena hujan.


Flash back on


Malam itu Wira nampak duduk di dalam mobilnya yang berhenti dipinggir jalan, ia sedang menunggu anak buahnya menjalankan tugasnya yang waktu itu sempat gagal.


Tak berapa lama ia melihat anak buahnya membopong Nisa dalam keadaan pingsan dan basah kuyup karena guyuran hujan malam itu.


Setelah Nisa masuk ke dalam mobilnya, ia langsung melajukan kendaraannya menuju Apartemennya Austin.


"Wir, apa yang kamu lakukan di sini, siapa wanita itu ?" tanya Austin ketika membuka pintu Apartemennya.


Wira langsung masuk dan merebahkan Nisa di Sofa.

__ADS_1


"Nisa." teriak Austin ketika melihat wanitanya itu.


Austin langsung masuk ke dalam kamarnya, beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa selimut dan segera menyelimuti Nisa yang nampak pakaiannya sudah basah kuyup.


"Ceritakan padaku Wir, apa yang terjadi ?" tanya Austin penasaran.


"Saya hanya mengikuti keinginan anda tuan."


"Maksudmu ?" tanya Austin tidak mengerti


"Besok Tuan besar kesini tuan, dan beliau merencanakan sesuatu yang belum saya ketahui. Saya rasa nona Anisa akan aman bersama anda." ujar Wira menjelaskan.


"Aku tidak mengerti Wir, apa hubungannya dengan Papa."


Kemudian Wira menceritakan semuanya pada Austin tentang kejadian lima tahun yang lalu, termasuk tentang keberadaan anaknya.


Mungkin ia bersalah karena sudah melanggar janjinya pada tuan Michael, tapi ia akan merasa lebih bersalah jika harus memisahkan seorang anak dari kedua orang tuanya.


"Jadi anakku masih hidup, Wir ?" tanya Austin, ia nampak berkaca-kaca.


"Iya tuan nona Anisa merawatnya dengan sangat baik." Kemudian ia menyerahkan selembar foto kepada Austin.


"Anak ini, bukannya dia anak yang waktu itu bersama Tommy." ujar Austin.


"Apa anda pernah bertemu sebelumnya tuan ?"


"Beberapa bulan yang lalu, dia bersama penghianat itu."


"Tidak semuanya salah tuan Tommy tuan, dulu beliau di bawah tekanan tuan besar dan sekarang mungkin Nona Anisa lah yang melarangnya untuk memberitahu anda." tutur Wira


"Tetap saja dia penghianat, berani-beraninya menyukai wanitaku."


Wira tampak tersenyum kecil melihat bossnya itu.


"Sekarang tugas saya sudah selesai tuan, ini waktunya anda untuk melindungi anak anda dan nona Anisa." ujar Wira kemudian dia pamit dan berlalu meninggalkan Apartemen tersebut.


"Wir, terima kasih." ucap Austin.


Wira yang sudah berjalan di lorong apartemen itu, kemudian berbalik dan menganggukkan kepalanya membalas ucapan terima kasih dari Austin.


Kemudian Austin menatap foto King dengan intens hingga tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Papa, bisa kah aku memaafkanmu." batin Austin.


Flash back off

__ADS_1


__ADS_2