Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Maafkan papa


__ADS_3

Beberapa saat kemudian terdengar seseorang memencet kode pin apartemen dan tak menunggu lama pintu Apartemen itu terbuka.


"sayang Mama datang." ujar nyonya Celine yang di ikuti oleh tuan Michael dan Felicya di belakangnya.


"Mama, tante." ujar Austin dan Nisa bersamaan.


"Anisa." Nyonya Celine tampak kaget melihat Nisa berada di Apartemen anaknya itu dan hanya mengenakan kemeja Austin. Sedangkan tuan Michael tampak tersenyum kecil melihatnya.


"Hey jalang, apa yang kamu lakukan di Apartemen suamiku ?" Sergah Felicya.


Felicya berjalan mendekat dan melayangkan tamparannya, tapi dengan sigap Austin sudah menahan tangannya.


"Jangan pernah berani kau menyentuh wanitaku." ancam Austin, ia menatap tajam pada Felicya.


Nisa benar-benar merasa menjadi pelakor yang terciduk, tapi hatinya lebih sakit ketika mengetahui kalau nyonya Celine dan suaminya adalah orang tuanya Austin.


Banyak spekulasi buruk di benaknya, kemudian dia mengambil tasnya dan berlari keluar meninggalkan Apartemen tersebut.


"Sayang jangan pergi." ujar Austin, ia mau mengejarnya tapi Felicya dan ibunya menahannya untuk meminta penjelasan.


"Jadi kamu berselingkuh dariku ?" tanya Felicya dengan berurai air mata.


"Aku tidak pernah berselingkuh, dari dulu sampai sekarang aku mencintai Nisa." ujar Austin.


"tapi aku istrimu Austin." teriak Felicya.


"tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai istri, kamu hanya istri di atas kertas bukan di sini." ujar Austin ia menunjuk dadanya sendiri.


"Kamu jahat Austin." Felicya duduk di sofa dan menangis


"Jadi Anisa adalah wanita itu Nak, jadi King adalah cucu Mama ?" tanya nyonya Celine dengan berderai air mata.


"Apa Mama mengenal Nisa sebelumnya ?" Austin balik bertanya ia tampak curiga.


"Tentu saja, Anisa adalah adik angkatnya tuan Fachri dan istri beliau adalah teman Mama. Kami sudah menghabiskan liburan bersama di Malaysia waktu itu dan kami sangat dekat. Mama tidak menyangka cucu Mama masih hidup." tutur nyonya Celine, ia tampak menghapus air matanya dan ada rona kebahagiaan di wajahnya.


"Jadi Mama membela wanita jalang itu ?" teriak Felicya.

__ADS_1


"Feli jaga sikapmu." bentak tuan Michael.


"Papa membentakku ?" Felicya tampak shock.


Sejak dari kecil mengenal tuan Michael, baru kali ini beliau membentaknya, kemudian Felicya berlari pergi dari Apartemen tersebut.


Austin menatap tajam Papanya, rasa hormat yang selama ini ia lakukan ia tanggalkan. "Kenapa Papa begitu kejam sebagai manusia, binatang saja tidak akan tega membunuh darah dagingnya sendiri. Kenapa Pa ?"


"Maafkan Papa Nak, Papa menyesal. Papa sudah menjadi ayah yang egois, kamu berhak menghukum Papa." tutur tuan Michael, beliau tampak menyesal.


"Apa yang Papa rencanakan, Wira bilang Papa mempunyai rencana. Apa Papa akan menyakiti Nisa dan anakku lagi, kalau iya Papa bunuh aku dulu baru bisa menyentuh mereka." Teriak Austin penuh emosi.


DEG


Jantung tuan Michael berdetak kencang, Austin yang dari kecil selalu hormat padanya sekarang berani berteriak kencang di hadapannya.


"Apa begitu besar cintamu pada wanita itu Nak ." batin tuan Michael.


"Pa- Papa hanya ingin kalian bersatu. Papa menyesal Nak, Papa akan membuat kalian bersatu." ujar Tuan Michael beralasan.


"Papa sudah cari tahu semuanya tentang Anisa, dia ternyata belum menikah. Papa akan memohon padanya agar mau menikah dengan mu."


Seketika Austin terkesiap, sejak kapan Ayanya mau menurunkan harga dirinya dan akan memohon pada orang lain.


"Hey boy apa kamu tidak percaya sama Papamu ini ?" ujar Tuan Michael membuyarkan lamunan Austin.


Lagi-lagi ia terkesiap papanya memanggil hey boy panggilan kesayangannya waktu kecil.


"Papa bukanlah ayahmu yang dulu Nak, memang Papa dulu lebih mementingkan reputasi, tapi sekarang Papa sudah tua Nak, yang Papa ingin hari tuanya Papa ditemani oleh anak dan cucu Papa." tutur tuan Michael, beliau tampak menyesal, guratan-guratan di wajahnya terlihat semakin jelas.


"Papa tahu kamu tidak bahagia dengan Felicya, Papa akan minta dia melepaskanmu. Perusahaan ayahnya sedang dalam keadaan krisis Papa akan membantunya dengan syarat dia harus menceraikanmu" lanjutnya lagi.


"Pa." Austin langsung memeluk Papanya.


Sedangkan tuan Michael tampak meneteskan air matanya, pelukan hangat dari anak satu-satunya yang ia tunggu bertahun-tahun kini ia rasakan lagi.


"Terima kasih Pa." ucap Austin lagi.

__ADS_1


Begitulah orang tua yang dia butuhkan dimasa tuanya bukanlah harta atau kedudukan, tapi bisa berada di samping anak dan cucu cucunya adalah hal yang paling membahagiakan.


Di tempat lain Nisa yang tadi berlari keluar dari Apartemennya Austin, kini ia sedang berada divpinggir jalan menunggu taksi lewat. Dia tidak memperdulikan lagi penampilannya yang hanya memakai kemeja Austin yang panjangnya diatas lututnya, dia terlalu sibuk dengan pikirannya.


"Nis." teriak Tommy ia menghentikan mobilnya tepat di depan Nisa berdiri.


"Bo-boleh aku numpang Tom ?"


"Tentu saja ayo masuk." ujar Tommy,


Tommy melihat penampilan Nisa dari atas hingga bawah, Ia tahu betul kemeja yang Nisa pakai adalah milik Austin bahkan aroma parfumnya tercium sampai ke hidungnya.


Tommy sekilas melihat Apartemen yang menjulang tinggi itu, kemudian ia melajukan mobilnya.


"Tom, tolong antar ke sekolah King aku mau menjemputnya." pinta Nisa.


"Nis sebenarnya ada apa, ini masih pagi belum jam pulang sekolahnya King."


"Orang tuanya Austin akan mengambil King dariku, sepertinya mereka sudah lama merencanakannya." sahut Nisa yang menyimpulkan pikirannya sendiri.


"Baiklah aku yang akan menjemput King, kamu tidak mungkin kan menjemput King dengan pakaian seperti itu." ujar Tommy sekilas ia melirik Nisa.


"Terima kasih."


Nisa tampak menghubungi seseorang melalui ponselnya. "Nin, tolong carikan saya penerbangan paling cepat ke Malaysia untuk saya dan King. Nanti kamu langsung ke Airport saja saya segera kevsana." perintah Nisa lalu menutup panggilannya itu.


"Kamu yakin mau ke Malaysia Nis ?"


"Tentu saja itu satu-satunya tempat paling aman buat King, aku tidak mau mereka merebut anakku." ujar Nisa dengan terisak.


Setelah Nisa berkemas dan mengganti baju ia langsung ke bandara di antar oleh Tommy karena satu jam lagi pesawat menuju Malaysia akan take off.


Felicya yang tadi berlari keluar dari Apartemennya Austin, kini ia berada dipinggir pantai. Ia berteriak sekencang mungkin melepaskan kesedihannya, ia tidak menyangka apa yang sudah dia lihat dan dengar di Apartemen suaminya tadi.


Melihat penampilan Nisa yang hanya memakai kemeja Austin, membuatnya frustasi. Pasti mereka sudah tidur bersama pikirnya, ia pernah hidup satu atap bertahun-tahun dengan Austin tapi sedikit pun Austin tidak pernah menyentuhnya tapi dengan wanita itu, " Akkhhhh." teriak Felicya


"Kalau aku tidak bisa memiliki mu, orang lain pun tidak akan bisa baik wanita itu atau anaknya." gumam Felicya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2