Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Bertemu Austin


__ADS_3

"Saya baru mendapatkan kabar kalau proposal kita masuk dalam tiga besar di perusahaan AG Mining bu, dan besok pagi mereka akan mengadakan meeting bersama untuk ketiga perusahaan yang terpilih dan tidak boleh diwakilkan." ujar Nindy menjelaskan.


"Benarkah ?" Nisa tampak senang sekaligus tidak percaya.


Karena menurut info dari Nindy beberapa waktu lalu, AG mining sedang mengerjakan proyek migas terbesar di pulau K dan perusahaan itu Pasti akan menyerap banyak tenaga kerja. Jadi otomatis perusahaan catering yang menang tender akan mendapatkan banyak untung.


"Benar bu."


"Oke, beritahu mereka saya akan datang, mudah-mudahan perusahaan kita di percaya sama mereka." ujar Nisa dengan antusias.


"Amiin." sahut Nindy dan Adi bersamaan.


Keesokan harinya


Siang ini langit begitu cerah, tampak seorang wanita cantik dengan lihai mengendarai mobil sportnya melaju dengan kencang menuju sebuah tempat yang akan menentukan masa depan perusahaannya.


Wanita itu adalah Nisa, dia hari ini begitu bersemangat, dia berdandan sangat cantik memakai atasan putih dan blazer warna hitam senada dengan rok pendek selutut. Rambut panjangnya dia ikat ekor kuda sehingga memperlihatkan sebagian leher jenjangnya yang putih mulus.


Beberapa saat kemudian dia menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah gedung perkantoran berlantai lima, dia mengawasi keadaan kantor tersebut dari dalam mobilnya.


Ia melihat papan nama besar di sana yang bertulisan PT AG Mining & Property, kemudian ia turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya dengan anggun menuju kantor tersebut.


Setelah bertanya ke meja resepsionis, ia di arahkan ke sebuah lift untuk naik ke lantai lima. Kemudian setelah sampai di sana ia disambut oleh sekretaris Austin bernama Lina.


"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya bantu." sapa Lina ketika Nisa menghampirinya.


"Saya dari PT Kingfood." ujar Nisa, ia memperlihatkan sebuah name tag yang dia kalungkan di lehernya.

__ADS_1


"Apa anda nona Anisa Rahman ?" tanya Lina memastikan.


"iya benar."


"Silahkan nona, anda sedang ditunggu sama yang lainnya di dalam." Ujar Lina, lalu ia membuka pintu ruangan tersebut.


Nisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam, di lihatnya sebuah ruangan kerja yang lumayan luas, mungkin ini ruangan Sang pemilik perusahaan pikirnya.


Dia berjalan menuju ke arah beberapa sofa dan meja panjang yang tertata rapi, kebetulan di sana sudah ada perwakilan dari Globalfood yaitu tuan Nico dan tuan Dony dari Aerofood.


Nisa sangat mengenal mereka, karena ia bergabung dalam Asosiasi perusahaan catering di mana tuan Dony sebagai ketuanya.


Bagi Nisa mereka berdua adalah seniornya sekaligus guru baginya, sambil menunggu Sang empunya perusahaan mereka saling menyapa dan beramah tamah sesekali diselingi canda dan beberapa saat kemudian nampak dua orang laki-laki masuk.


"Selamat siang tuan-tuan dan nona." sapa Wira ketika ia masuk ke dalam ruangan itu bersama Austin.


Jantung Nisa berdebar kencang ketika matanya tertuju pada sosok pria disamping Wira yang begitu ia kenal, sosok pria yang dulu pernah ia cintai.


Nisa diam terpaku menatap pria itu ada perasaan benci, takut dan juga rindu. Begitu juga sebaliknya dengan Austin ia menatap sekilas wanita yang berada beberapa meter darinya itu, tatapan yang sulit di artikan oleh Nisa.


Setelah sepersekian detik mereka saling menatap Austin mengalihkan pandangannya pada kedua tamu yang lain dan menyapanya. Austin terlihat sangat profesional dia bahkan bersikap seakan-akan tidak pernah mengenal Nisa.


"Astaga, kenapa aku begitu bodoh tidak mencari tahu dulu tentang perusahaan ini, tapi sepertinya dia tidak mengenaliku, baguslah ini akan semakin mudah untukku." batin Nisa.


Beberapa saat kemudian meeting di mulai, Wira menjelaskan tentang proyek mereka dan aturan kerja sama yang akan mereka jalin.


"Sebelum saya mengumumkan perusahaan mana yang terpilih saya akan menjelaskan beberapa point di sini, di mana perusahaan yang terpilih tidak diperkenankan untuk mundur kalau tidak akan dikenakan denda satu miliar."

__ADS_1


Nisa tampak terkejut begitu juga dengan peserta lain dan dengan berani ia menyela pernyataan Wira.


"Maaf sebelumnya tuan. Bagaimana bisa, kami sama sekali belum memulai pekerjaan tapi sudah akan dikenai pinalti." ujar Nisa dengan tegas, ia merasa tidak terima dengan aturan yang tidak masuk akal itu.


"tapi itu sudah menjadi keputusan perusahaan kami nona, karena dalam proses penyeleksian banyak menghabiskan waktu kami, tapi anda semua tenang saja bagi perusahan terpilih kami akan menjalin kerjasama dalam jangka panjang selama lima tahun dan dengan harga lebih tinggi, dari harga yang perusahaan anda semua tawarkan." ujar Wira menjelaskan.


Tuan Dony dan tuan Nico tampak senang tapi tidak dengan Nisa, dia terlihat frustrasi. Bagaimana kalau perusahaannya terpilih maka selama lima tahun dia akan berhubungan langsung dengan Austin, tapi jika dia mundur maka ia akan dikenakan sanksi satu miliar.


Kalau itu sampai terjadi bagaimana nasib perusahaan yang baru satu tahun lebih ia rintis itu dan para karyawannya nanti. Berpikir sampai sini, Nisa jadi semakin frustrasi.


Austin yang sedang duduk agak jauh dari Nisa, nampak sudut bibirnya terangkat ketika memperhatikan wajah wanita itu yang terlihat begitu frustrasi.


"Pemenang tender untuk proyek yang sedang kami kerjakan adalah PT Kingfood." ujar Wira.


Nisa tersentak, apa ini sebuah kebetulan karena kinerja perusahaannya yang dianggap bagus atau hanya akal-akalan dari Sang pemilik perusahaan tersebut. Tidak ada aura bahagia di wajahnya, justru ia nampak begitu pucat.


"Nona Anisa, selamat ya kami ikut senang semoga ini awal yang baik buat perusahaan anda." ucap tuan Dony memberi selamat pada Nisa.


"Te- terima kasih tuan Dony dan tuan Nico." ujar Nisa dengan memaksakan senyumnya.


"Untuk tuan Dony dan tuan Nico kami memberi kesempatan pada perusahaan anda untuk proyek pertambangan kami yang lain, untuk lebih jelasnya mari kita membicarakan diruangan saya. Dan untuk nona Anisa proyek kerja sama anda akan di bahas oleh tuan Austin sendiri." ujar Wira, lalu ia mengajak tamu lainnya untuk keluar dari ruangan tersebut.


Setelah Wira dan yang lainnya keluar meninggalkan ruangan itu, kini tinggal Nisa dan Austin di sana. Nisa masih diam terpaku di sofa yang ia duduki dengan keringat dingin yang membasahi dahinya, wajahnya terlihat semakin pucat.


Sedangkan Austin tampak berdiri dari tempat duduknya tadi lalu berjalan menuju meja kerjanya, diambilnya sebuah remote dan mengarahkan ke pintu masuk ruangan tersebut untuk menguncinya dan ia juga mengarahkan remote tersebut ke arah cctv untuk mematikannya.


Melihat gelagat Austin tersebut, Nisa merasa ada sesuatu yang tidak beres, buru-buru ia berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Apa kamu merindukan ku sayang ?" ujar Austin lalu ia berjalan mendekati Nisa yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


__ADS_2