Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Krisis percaya diri


__ADS_3

" Nona Nindy." panggil Wira seraya berjalan kearah Nindy.


" Tuan Wira." Nindy sangat kaget dan menyembunyikan bungkusan yang ia pegang ke belakang badannya.


" Kamu sedang apa disini ?"


" i - itu tuan...."


" Apa yang kamu sembunyikan itu."


Nindy menyerahkan bungkusan itu dengan tangan gemetar. " Kamu tahu akibatnya jika Tuan muda melihat ini ?"


Nindy langsung memegang erat tangan Wira. " Tuan saya mohon jangan laporkan pada tuan Austin, saya hanya merasa kasihan sama nona muda."


" Berani sekali kamu memegang tanganku." sentak Wira.


Mendapat gertakan dari Wira, Nindy bukannya takut. Ia justru semakin erat memegang tangan laki - laki itu.


" Tuan saya mohon." ucap Nindy, ia mengiba seperti anak kucing yang minta di kasihani.


Wira yang menatap wanita di depannya itu, jantungnya langsung berdetak dengan kencang dan hatinya terasa berdesir. Dengan cepat ia mengibaskan tangannya dengan kasar, hingga genggaman Nindy terlepas.


" Kamu naik apa tadi kesini ?"


" Taksi online tuan ?"


" Kenapa tidak bersama sopir ?"


" Takut ketahuan tuan."


Kemudian Wira berjalan kearah mobilnya. " Ayo saya antar."


Dengan ragu - ragu Nindy membuka pintu mobil belakang.


" Saya bukan sopir kamu, duduk didepan !" perintah Wira.


" Baik tuan." sahut Nindy ia buru - buru membuka pintu depan dan segera masuk.


Jalanan terlihat padat merayap karena jam makan siang. Nindy yang merasa bosan dengan kemacetan, ia segera membuka bungkusan yang tadi ia beli.


" Tuan anda mau, ini enak sekali." Nindy menyerahkan sebungkus cimol yang sudah ia buka.


" Jauhkan itu dariku." sentak Wira, ia kelihatan jijik.


" Astaga tuan, ini enak sekali. Anda tahu ini adalah makanan kesukaan nona muda, dulu waktu hamil beliau setiap hari makan ini."


Wira tidak menanggapi wanita yang duduk di sebelahnya itu yang menurutnya sangat cerewet, ia masih fokus di balik kemudinya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di kediaman keluarga Gunawan. Nindy buru - buru keluar dari mobil, ia merasa tidak tahan berlama lama dengan Wira yang menurutnya seperti patung bernyawa.


" Nona Nindy." teriak Wira dari dalam mobilnya.


" Iya tuan." sahut Nindy yang sudah melangkahkan kakinya, mau tidak mau ia berbalik lagi.


" Ini terakhir kali kamu melakukan itu, kalau sampai ketahuan lagi saya tidak bisa jamin kamu bisa selamat." ujar Wira dengan menekankan kata-katanya.

__ADS_1


" Baik tuan saya mengerti."


Kemudian Wira melajukan mobilnya kembali meninggalkan Nindy yang masih berdiri mematung, ia merasa takut dengan perkataan Wira barusan. Mungkin ia harus segera membicarakan dengan nona bossnya itu agar menghentikan ide gilanya.


Beberapa hari sejak saat itu Nisa sudah tidak pernah menyuruh Nindy membelikan makanan pinggir jalan lagi, ia tidak mau asisten kesayangannya itu terkena masalah gara gara dirinya.


" Tante Nindy, kenapa cepat sekali pulangnya." ujar King, ketika menemani Nindy berkemas di kamarnya.


" Tante harus kerja lagi sayang, King harus jaga mami dan adik bayi ya ?"


" Iya tante." sahut King.


Setelah berkemas Nindy langsung berpamitan, pada seluruh keluarga Gunawan yang sudah menunggunya di ruang tamu.


" Wir, loe antar Nindy ke airport."


" Baik tuan."


" Biar pak sopir saja tuan yang mengantar saya." ucap Nindy, ia melihat kearah Wira yang menatapnya dengan tajam.


" Saya tidak suka dibantah." sela Austin.


" Baik tuan." ujar Nindy kemudian berlalu pergi mengikuti Wira yang sudah jalan terlebih dahulu.


" Mami, kalau adik bayi sudah keluar. King akan selalu jaga adik." ucap King sambil mengelus perut ibunya itu.


" Sayang, yang bertugas menjaga adik itu mami dan papa. King cukup sayangi adik sepenuh hati King. oke !"


" Baik mi." sahut King, yang diikuti gelak tawa oleh kakek dan neneknya.


☆☆


" Sayang apa aku sudah tidak cantik lagi ?" tanya Nisa saat berada didepan cermin, ia mengamati perutnya yang makin membesar.


" Sayang kamu tetap cantik." ucap Austin lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan memeluk istrinya itu dari belakang.


" Sayang geli." teriak Nisa, ketika suaminya itu menggigit tengkuknya hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


" Apa kamu tidak akan selingkuh ?" ujar Nisa ia berbalik badan dan menatap suaminya itu.


" Tentu saja tidak sayang." Austin menatap manik istrinya itu dan kedua tangannya masih setia memeluk pinggangnya.


Cup


Cup


Austin mengecup bibir mungil itu, sepertinya ia sudah sangat bergairah. " Apa boleh aku melakukannya ?" tanya Austin dengan mata yang sudah mendamba.


" Aku akan pelan - pelan seperti biasanya."


" Hmmm." Nisa menganggukkan kepalanya.


Mendapatkan persetujuan dari istrinya, dengan secepat kilat Austin membopong tubuh Nisa keatas ranjang dan kegiatan suami istri itu baru saja akan di mulai.


Keesokan harinya

__ADS_1


" Sayang kenapa belum bangun ?" tanya Austin ketika melihat istrinya itu masih terlelap tidur.


" Aku capek sekali sayang, semalam kamu mengerjaiku habis habisan." ujar Nisa dengan mata masih terpejam.


" Nanti siang aku ada meeting jadi tidak bisa pulang menemani kamu makan siang." ujar Austin ia sedang memasang dasinya didepan cermin.


Seketika Nisa langsung mengerjapkan matanya dan segera beranjak untuk duduk dengan selimut yang masih menutupi badannya.


" Sayang apa aku boleh pergi ke Cafeku ?"


" Enggak sayang, kamu boleh keluar kalau aku yang menemani. Oke !"


" Baiklah."


" Sayang, jangan bandel." Austin tampak duduk disamping istrinya itu.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di bibir mungilnya dan Nisa langsung membalasnya. Mereka saling berpanggutan, mencari kenikmatan disana. Sepertinya pagi itu Austin tidak bisa menahan gairahnya, ia segera melepaskan dasi yang baru dia pasang.


" Sayang kamu mau apa ?"


" Tentu saja memakanmu sayang." sahut Austin yang sudah menarik selimutnya, dan pagi itu mereka melakukannya lagi.


Siang harinya, Nisa baru bangun dari tidurnya. Setelah melakukan olahraga panasnya tadi pagi bersama Austin, ia melanjutkan tidurnya lagi.


" Inikan berkasnya Austin, kenapa bisa ada disini. Bukannya siang ini dia ada meeting." gumam Nisa.


" Baiklah aku akan mengantarnya." batinnya lagi.


Nisa segera menuju kamarnya untuk bersiap siap, ia harus tampil cantik. Dia tidak mau karyawan di kantor suaminya itu, menggunjingkannya karena penampilannya.


Entah kenapa, sejak hamil Nisa selalu merasa krisis percaya diri dengan penampilannya. Padahal ia tampak sangat cantik apalagi dengan bayi perempuan yang dia kandung, membuat auranya semakin terpancar.


" Pak, tolong antar ke kantor suami saya ya !"


" Baik non." sahut pak Ahmad sopir pribadi Nisa.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam karena terjebak macet, akhirnya Nisa tiba di kantor suaminya.


Ia langsung turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kantor tersebut.


" Mbak suami saya ada ?" tanya Nisa ketika berada di meja resepsionis.


" Ada nyonya, beliau ada di ruangannya."


" Baiklah terima kasih." ucap Nisa kemudian ia berjalan menuju lift.


Beberapa saat kemudian ia sudah berada di lantai paling atas kantor tersebut.


" Mbak, suami saya adakan. Saya mau mengantarkan berkasnya yang ketinggalan." ucap Nisa pada sekretarisnya suaminya itu.


" Ada nyonya, tapi.." wanita itu belum selesai berbicara tapi Nisa sudah membuka pintu ruangan Austin.


Nisa terlihat sangat shock, ketika baru membuka pintu tersebut ia melihat suaminya itu sedang berciuman dengan seorang wanita.

__ADS_1


Kemudian ia menutup ruangan itu kembali dan menyerahkan berkas yang dia bawa tadi kepada sekretaris itu.


Dengan hati hancur ia melangkahkan kakinya meninggalkan kantor tersebut.


__ADS_2