Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Pingsan


__ADS_3

Siang harinya


Austin mencari Nisa di kantornya tapi tidak menemukannya. Kemudian ia melajukan mobilnya ke rumah Nisa, tetapi security di rumah tersebut mengatakan kalau majikannya itu juga tidak ada. Tapi Austin tidak patah arang, ia mencoba membuat keributan dengan berteriak teriak memanggil Nisa. Ia berharap penghuni di dalam rumah tersebut keluar.


Tak lama kemudian tampak seorang laki-laki cakep dengan tas di punggungnya keluar dari dalam mobil.


" kak Austin." gumam adi.


" Adi, kamu Adi kan ?" tanya Austin ia berjalan kearah Adi yang masih bersandar di pintu mobilnya.


" Mau apa kesini ?" tanya Adi geram.


" Tolong kasih tahu saya dimana kakak kamu, tadi saya sudah mencarinya di kantor tapi tidak ada." Austin tampak memohon.


" Ada urusan apa kamu sama mbak Nisa, apa belum cukup kamu menyakitinya selama ini." tantang Adi dia sudah mendekat kearah Austin dan siap memukul.


" Saya mencintainya." ucap Austin


" bullshit." sahut Adi ia langsung melayangkan pukulannya ke Austin.


" Kalau kamu mencintai nya, kamu tidak akan meninggalkan nya dalam keadaan hamil." Adi menarik kerah baju Austin dan memukulnya lagi hingga Austin tersungkur di lantai.


" Pergi dari sini sebelum aku membunuh mu." perintah Adi. Kemudian ia masuk kedalam gerbang rumahnya.


Austin nampak berdiri dengan sempoyongan, terlihat darah mengalir di sudut bibirnya. Sebenarnya dia bisa saja melawan Adi, tapi dia menyadari kesalahannya selama ini. Apa yang dikatakan Adi memang benar adanya. Biarlah Adi melampiaskan kekecewaannya itu ia akan menerimanya.


Setelah itu Austin mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. Ia terlihat frustasi, dia bingung harus kemana mencari wanita nya itu.


" Tommy, ya penghianat itu pasti tahu dimana Nisa." gumam Austin.


Austin melajukan kendaraannya ke kantor Tommy, sampai disana ia langsung naik ke lantai atas dan menuju ke ruangan sahabatnya itu. " Austin, ada apa loe kemari ?" tanya Tommy ia merasa kaget karena tanpa ketuk pintu Austin langsung nyelonong masuk.


" Dimana Nisa ?" tanya Austin tanpa basa basi


" Kenapa tanya gue ?" seru Tommy nampak tidak suka.


" Gue tahu loe satu satunya teman pria Nisa."


" Loe mencarinya untuk menyakitinya lagi ?" teriak Tommy.


" Loe tahu gue kan, seberapa besar cinta gue sama dia."


" Tapi orang tua loe tidak, loe tahu Nisa sangat ketakutan ketika keluar dari Apartemen loe. Dia bilang orang tua loe akan merebut anaknya darinya."

__ADS_1


Kemudian Austin menceritakan semuanya pada Tommy, bagaimana ayahnya telah berubah dan tidak akan menyakiti Nisa dan anaknya lagi.


" Terus bagaimana dengan Felicya, apa loe akan mencampakkan nya ?"


Austin segera mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto Felicya di Jerman waktu itu pada Tommy. Terlihat Felicya sedang bermesraan dengan seorang laki-laki yang berbeda disetiap foto tersebut.


Tommy tampak shock dengan apa yang dia lihat, Felicya yang dia kenal seorang gadis baik-baik bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu.


" Apa loe mau berjanji tidak akan menyakiti Nisa lagi ?" ujar Tommy kemudian.


" Gue janji akan menjaga mereka seumur hidup gue."


" Dia ke Malaysia." ucap Tommy dengan ragu.


" Apa ?"


" iya, tapi gue tidak tahu pastinya dimana."


" oke. thanks bro. Maafkan gue sebelumnya." Austin memeluk Tommy sebentar kemudian ia berlalu pergi.


" Malaysia, mama pasti tahu." gumam Austin ketika sudah didalam kendaraannya.


Austin melajukan mobilnya kembali ke Apartemennya, ketika baru masuk kedalam ia mendengar suara tangisan seorang perempuan.


Ketika melihat Austin datang, Felicya langsung berlari dan memeluknya . " Sayang aku mohon jangan ceraikan aku, aku sangat mencintaimu."


" Lepaskan gue Fel, loe suka atau tidak kita akan berpisah." ucap Austin tegas seraya melepaskan pelukan Felicya.


Kemudian Austin berlalu pergi ke kamarnya yang di ikuti oleh nyonya Celine di belakangnya. " Sayang bagaimana dengan Anisa dan cucu mama ?" tanya beliau ketika sudah didalam kamar anaknya.


" Nisa pergi ma. Dia ke Malaysia."


" Apa ?"


" Dia membawa King pergi ma. Tommy bilang Nisa sangat ketakutan, dia takut kalau papa akan mengambil anak kita." ujar Austin tampak kawatir.


" Sekarang sudah sore nak istirahat lah, besok pagi kamu bisa menyusulnya kesana nanti mama kasih alamatnya. Dia pasti berada di kediamannya tuan Fachri." ujar Nyonya Celine menenangkan.


" Terima kasih ma."


Setelah ibunya keluar dari kamarnya, Austin memandangi ranjangnya. Ia mengingat baru tadi pagi dia bersama wanitanya itu membelainya disana, tapi dalam sekejap kebahagiaan itu sirna.


"Gue tidak bisa menunggu sampai besok." gumam Austin

__ADS_1


☆☆


Malaysia


" Kak maaf ya sudah merepotkan mu." ujar Nisa pada Fachri dan Fajirah.


" Astaga Nis kita keluarga jadi harus tolong menolong, aku justru senang bisa bertemu dengan King." ujar Fachri.


" Kamu bisa tinggal selama yang kamu mau, bahkan selamanya kita juga tidak keberatan." ujar Fajirah.


" Terima kasih kak." ujar Nisa seraya memeluk Fajirah.


Malam harinya


Setelah menidurkan King, Nisa mendengar keributan dibawah lalu ia turun untuk melihatnya.


" Austin untuk apa kamu kemari ?" tanya Nisa ketika melihat Austin tampak berdebat dengan Fachri.


" Sayang, tolong pulang lah dengan ku !" pinta Austin


" Aku tidak bisa tolong pergilah, jangan membuat keributan disini."


" Papa sudah menyadari kesalahannya, ia mengijinkan kita untuk bersama lagi."


" Aku tidak mau Austin. Ayah kamu jahat dulu pernah mau melenyapkan anak kita dan sekarang beliau pasti akan melakukan nya lagi." seru Nisa


" Aku mohon sayang, bagaimana kalau kita pergi ke Jerman kita bertiga akan tinggal disana." ujar Austin tampak memohon.


" Apa kamu akan tinggalkan kami nak ?" tiba-tiba tuan Michael datang bersama istrinya.


" Maaf tuan Fachri kami sudah lancang masuk ke kediaman anda." ucap tuan Michael melihat Fachri yang tampak terkejut melihatnya.


" Tuan Michael apa kabar lama kita tidak berjumpa, jadi tuan Austin adalah anak anda ?" ujar Fachri menghampiri tuan Michael yang dulu pernah menjadi rekan bisnisnya.


" Maafkan saya tuan Fachri, saya sudah banyak menyakiti adik anda mungkin dosa saya tidak akan termaafkan."


" Walaupun dia bukan adik kandung saya tapi saya orang paling terdepan yang akan melindunginya." ucap Fachri tegas.


Tuan Michael melihat Nisa yang berdiri mematung lalu beliau berjalan mendekat. " Nak tolong maafkan lah orang tua ini yang sudah banyak menyakiti mu, saya akan melakukan apapun asal kamu mau memaafkan saya." Tampak tuan Michael mengiba.


Nisa menatap laki-laki tua di depannya itu, tapi seketika hatinya merasa iba. Ia melihat bayangan ayahnya disana. " Boleh saya memeluk anda ?" tanya Nisa tanpa ia sadari.


Setelah mendapat anggukan dari tuan Michael, Nisa memeluk beliau. Ia merasakan kehangatan seorang ayah disana, ia menangis menumpahkan segala beban berat yang ia tanggung selama ini dan tak lama kemudian ia jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2