Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Apartemen Austin


__ADS_3

"Austin itu gang rumahku sudah lewat ?"


"Katanya kamu mau tahu dimana aku tinggal ?" tanya balik Austin.


"Boleh ?"


"Tentu saja sayang."


"Memang kamu tinggal dimana ?"


"Apartemen sayang, di GGS."


"Apa, GGS Grand Gunawan Square itu ?" Nisa terkejut.


Bagaimana bisa Austin yang katanya cuma karyawan biasa, bisa tinggal ditempat kalangan elit seperti itu.


"i-iya maksudku itu apartemen bossku yang waktu itu, karena tidak di tempati jadi di kasih pinjam, anggap saja mes karyawan." ujar Austin beralasan.


"Astaga, boss kamu selain kaya baik banget ya, aku kira orang kaya itu bisanya cuma menindas saja." sahut Nisa polos.


"Kamu tahu, hotel bintang lima itu dan sebelahnya Mall empat lantai itu juga punya boss ku." ujar Austin sambil menunjuk ke arah hotel yg bersebelahan dengan sebuah Mall.


Padahal Hotel, Mall bahkan Apartemen yang Austin tempati juga punya keluarganya dan ia adalah satu-satunya pewaris tunggal perusahaan GG corp. Ia sengaja mengaku menjadi orang biasa karena ingin Nisa tulus mencintainya bukan karena hartanya.


"Austin apa kamu punya bahan makanan di Apartemen, aku mau memasak buat kamu ?"


"Nggak ada sayang, tapi kalau kamu mau kita bisa mampir ke Supermarket dulu."


"Boleh."


Setelah mampir di sebuah supermarket terdekat dan berbelanja beberapa bahan makanan, tibalah mereka di lobby Apartemen.


"Apartemen yang sangat mewah." batin Nisa sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Selamat sore Nona dan tuan Austin." sapa security di lobby apartemen tersebut.


"Sore juga Pak." Jawab Nisa dengan tersenyum ramah. Sedangkan Austin hanya mengangguk seperti biasa.


"Baru kali ini tuan Austin membawa seorang cewek, kelihatan sederhana tapi sangat cantik dan ramah lagi. Tidak seperti Nona satunya sangat jutek sekali." batin security tersebut.


Ting


Pintu Apartemen tersebut terbuka, setelah Austin menekan beberapa kode.


"Ayo masuk sayang." ajak Austin.


"Aku simpan ini ke dapur dulu ya." Nisa melangkahkan kakinya ke dapur yang tak jauh dari ruang tamu.

__ADS_1


Setelah merapikan belanjaan tersebut, Nisa menghampiri Austin yang sedang duduk di sebuah sofa panjang, yang di depannya ada sebuah televisi besar berukuran 60 inch lengkap dengan home theater nya.


"Sayang sini." Austin menepuk tempat sebelahnya agar Nisa duduk di sana.


"Kamu senang berada disini ?" tanya Austin ketika Nisa baru duduk di sampingnya.


"Ini terlalu mewah buatku." sahut Nisa sambil melihat sekelilingnya.


"Kalau mau, kamu bisa tinggal disini." tawar Austin.


"Nggak bisa, kita belum menikah Austin. Kalaupun sudah menikah aku tidak mau tinggal di sini, tempat ini tidak cocok buatku ini terlalu mewah."


"Baiklah sayang terserah kamu, nanti ku buatin istana kecil buat kita tinggal."


"Benarkah bukan istana pasirkan." ledek Nisa.


"Kamu meledekku ya, aku akan kerja keras untuk itu." ucap Austin sambil menggelitik pinggang Nisa.


"Sayang geli."


"Kamu tadi panggil aku apa, ayo bilang lagi." seru Austin masih menggelitik Nisa.


"Sayang ampun, geli." ucap Nisa.


Austin yang gemas melihat Nisa, ia mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup bibirnya. Karena tidak ada penolakan, Austin semakin memperdalam ciumannya.


Sepertinya keduanya sudah dipenuhi gairah, sehingga tanpa sadar dua kancing baju Nisa sudah terlepas. Nisa terkesiap ia langsung berteriak.


"Austin tolong, ini melebihi batas." ujar Nisa dengan suara paraunya.


"Maaf sayang, maaf aku tidak akan melakukannya lagi." Austin memeluk Nisa yang sepertinya akan menangis.


Setelah Nisa mulai tenang Austin melepaskan pelukannya dan meminta ijin untuk mandi di kamarnya.


"Astaga bodohnya aku, ini sangat bahaya aku tidak akan ke Apartemen ini lagi." batin Nisa setelah Austin meninggalkannya.


Setelah itu Nisa beranjak ke dapur dan memasak beberapa menu makanan untuk makan malam.


Sedangkan Austin kini sedang berada di dalam kamar mandinya, dia mengguyur badannya di bawah shower air dingin. Untuk meredakan sesuatu di bawah sana yang sudah menegang, entah kenapa setiap berdekatan dengan Nisa ia selalu saja bergairah dan itu membuatnya frustrasi.


Beberapa saat kemudian Nisa sudah selesai dengan kegiatannya, dia memasak rica-rica, ayam goreng dan capcay kesukaan Austin.


"Sayang." panggil Austin, ketika ia menghampiri Nisa di meja makan.


Austin tampak segar dan tampan dengan celana pendek santai dan kaos rumahan.


"Wow ini kamu yang masak ?"

__ADS_1


"Bukan, tapi kunti." sahut Nisa ngasal.


"Astaga sayang, kalau kunti masak seenak ini aku akan mengurungnya di sini selamanya."


"Dari mana kamu tahu kalau ini enak, mencicipinya saja belum."


"Kan sudah pernah, waktu di Cafe dulu."


"Astaga jadi kamu menganggap ku kunti." ujar Nisa dengan mencebikkan bibirnya.


"Kan kamu sendiri yang bilang sayang." sahut Austin sembari mencubit hidung Nisa dengan gemas.


Disaat mereka asyik menikmati makan malamnya, terdengar bel apartemen berbunyi.


"Sebentar ya sayang, aku cek dulu siapa yang datang." ujar Austin.


"Hey bro." Aldo dan Tommy nyelonong masuk tanpa permisi setelah Austin membuka pintu.


"Astaga ada cewek bar-bar di sini." ucap Tommy, ketika ia melihat Nisa sedang duduk di meja makan.


"Siapa yang bar-bar ?" tanya Austin balik.


"Siapa lagi kalau bukan dia." Aldo menatap ke arah Nisa.


"Aku ?" Nisa menunjuk dirinya sendiri, ia tampak tidak mengerti.


"Tentu saja kamu nona, gimana tidak bar-bar coba. Waktu itu kamu menghajar dua lelaki sampai babak belur." ujar Tommy nampak kagum pada Nisa.


"Itu bukan bar-bar tapi melindungi diri, astaga." protes Nisa.


Melihat raut wajah Nisa yang menggemaskan membuat mereka pada tertawa. Begitulah ketika Nisa berkumpul dengan teman-temannya Austin, mereka akan saling bercanda dan meledek. Tapi sedikitpun ia tidak ambil hati, bagi Nisa mereka bisa menerima hubungannya dengan Austin saja itu sudah cukup.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, mereka berkumpul di ruang tamu dan bermain playstation.


"Bro bulan depan jadikan nginap di villaku ?" ujar Aldo.


"Memang ada acara apa ?" tanya Nisa penasaran.


"Cuma liburan aja Nis, kamu ikut saja biar Austin ada temannya. Lagipula aku juga bawa pacar baruku."


"Kamu juga bawa pacar Tom ?" tanya Nisa sedikit meledek, karena dia tahu Tommy tidak punya pacar.


"Dia bawa pacar sayang, Bruno namanya ?" sahut Austin sambil tertawa nyaring yang di ikuti oleh Aldo.


Nisa cuma bengong tidak mengerti, apa lagi melihat raut wajah Tommy tampak masam. "Bruno ?" tanya Nisa tidak mengerti.


"Nanti kamu juga tahu, Ayo sayang aku antar pulang sudah malam." ujar Austin sambil menarik tangan Nisa, mau tidak mau Nisa beranjak dari tempat duduknya dengan rasa penasaran.

__ADS_1


__ADS_2