
" Kamu dan King mau kan nak pulang bersama kami ke Indonesia ?" pinta tuan Michael seraya menatap Nisa.
" Maaf om, tante saya tidak bisa." sahut Nisa terlihat ada kesedihan dimatanya.
" Tapi kenapa sayang ?" tanya Austin tidak mengerti.
" Karena kamu sudah menikah." sahut Nisa singkat.
" Aku akan menceraikannya."
" Apa itu tidak terlalu kejam, aku seperti pelakor yang mau merebut mu."
" Aku memang ingin direbut sayang." celetuk Austin sambil nyengir.
" Austin, jangan bercanda." cebik Nisa.
" Serius sayang, untuk apa kita hidup bersama dengan seseorang yang tidak kita cinta. Itu sia-sia sayang, kamu pernah bilang kan kita harus menikmati hidup. Aku akan menikmatinya bersama mu." tutur Austin.
" Manis." ucap Nisa datar.
" Aku memang manis sayang." goda Austin.
" Akh sia- sia ngomong sama kamu." ucap Nisa langsung berlalu pergi.
" Salah lagi." Austin tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Baiklah tuan Michael kami juga tidak bisa terlalu ikut campur dalam keluarga anda, kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Fachri lalu beranjak pergi meninggalkan mereka bersama istrinya.
Kini hanya tinggal Austin dan kedua orangtuanya, Austin bingung dengan sikap Nisa yang tidak tampak bahagia. Entahlah ia sungguh tidak paham dengan sikap wanita yang cenderung memendam keinginannya dari pada mengutarakan. Apa ini yang sering orang bilang kalau wanita itu lebih mengedepankan perasaan dari pada logika.
" Jadi kapan kamu akan menceraikan Felicya nak ?" tanya tuan Michael membuyarkan lamunan Austin.
" Secepatnya pa."
" Tapi sepertinya dia tidak mau, ini akan sulit. Mama tidak mau kamu terlalu keras padanya bagaimana pun juga mama sudah menganggap Felicya seperti anak kandung mama. " ujar nyonya Celine.
" Jadi maunya mama aku harus bagaimana ?" sergah Austin kesal.
" Bukan begitu sayang, mama juga sayang sama Anisa ." nyonya Celine tampak tak bisa berkata kata.
__ADS_1
" Papa akan tekan keluarganya." sahut tuan Michael santai.
" Apa tidak ada cara lain pa, kita sudah berpuluh puluh tahun berhubungan baik dengan mereka." tanya nyonya Celine.
" Sudah lah ma, pa. Jangan berdebat, aku punya kartu AS dia yang akan membuat kalian berpikir dua kali untuk menganggap dia menantu yang baik." ujar Austin seraya pergi meninggalkan orang tuanya.
☆☆
" Sayang." panggil Austin ketika melihat Nisa duduk di balkon kamarnya. " kok bengong." lanjutnya lagi.
Nisa pura-pura tidak mendengarnya, ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Aku tidak mengerti dengan bahasa diam mu sayang, aku juga tak tahu arti gumam mu itu. Bicaralah aku bukan dukun yang tahu isi kepalamu."
tutur Austin.
" Lucu." ucap Nisa datar ia masih setia menatap taman yang ada di balkon tersebut tanpa menghiraukan Austin yang sudah duduk di sebelahnya.
" Dua jam lagi penerbangan ku ke Indonesia, apa kamu masih tidak mau ikut ?" ujar Austin yang membuat Nisa langsung menatapnya.
Nisa menggelengkan kepalanya, harusnya ia merasa senang. Austin akan menceraikan Felicya dan dia bisa menikah dengannya. Tetapi sebagai sesama wanita ia merasa jadi pelakor dan menyakiti hati wanita lain.
☆☆
Hampir satu minggu Austin berada di kota S, ia merasa kesulitan untuk membujuk Felicya dengan cara baik-baik.
" Ma, Feli tidak mau bercerai ma." rengek Felicya dipelukan nyonya Celine.
" Pa, papa dulu kan yang paling mendukung Feli buat nikah sama Austin." ujar Felicya mengiba pada tuan Michael.
" Tapi papa hanya ingin anak papa bahagia Fel, tolong mengertilah. Papa akan membantu keuangan perusahaan ayahmu asal kamu mau tanda tangani surat cerai itu." ujar Tuan Michael seraya menunjuk surat cerai diatas meja.
" Tapi pa..." Felicya belum menyelesaikan ucapannya tapi Austin sudah memotongnya.
" Loe wanita baik dan cantik Fel, masih banyak pria diluar sana yang menyukaimu." sela Austin mulai tidak sabar.
" Aku mencintaimu Austin." seru Felicya.
" Aku juga mencintai harta mu, tidak ada laki-laki yang seroyal dirimu." batinnya.
__ADS_1
" Tapi Gue tidak cinta sama loe dan tidak akan pernah." sahut Austin dengan tegas menatap manik Felicya.
" Apa karena wanita miskin itu kamu mau berpisah, aku tidak akan memaafkannya. Dasar perempuan ****** perebut suami orang." ujar Felicya geram.
" Jaga bicara mu Fel, bahkan sekarang dia lebih kaya dari loe dan paling tidak selama lima tahun ini dia bisa menjaga hati dan kehormatannya." Austin tampak marah.
" Memang apa kurangnya aku, aku seorang model terkenal."
" Model terkenal yang suka tidur dengan banyak pria ?" sahut Austin sinis.
" Apa maksudmu.... Ma, Austin menghinaku." rengek Felicya meminta pembelaan pada nyonya Celine.
" Kamu jangan sembarangan bicara nak, tidak mungkin Felicya seperti itu." ujar nyonya Celine.
Austin bergegas ke kamarnya, tak lama kemudian ia kembali dengan beberapa lembar foto di tangannya dan melemparnya ke arah Felicya.
" Ini apa nak, benarkah ini kamu ?" tampak nyonya Celine menutup mulutnya.
" Feli, katakan apa benar ini kamu ? bentak tuan Michael.
" Lihat menantu yang kalian banggakan, bahkan tingkahnya lebih dari seorang ******." seru Austin geram.
" Ma, pa. Maafkan Feli, itu semua karena Austin tidak pernah perduli dengan Feli." sahut Felicya membela diri.
" Tapi setidaknya kamu bisa menjaga kehormatanmu, Kamu seorang model terkenal bagaimana kalau foto-foto itu tersebar oleh media. Tidak hanya keluarga kita yang tercoreng tapi karier kamu juga bisa hancur." seru tuan Michael dengan tegas kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu tampak ada kemarahan di wajahnya.
" Ma, maafkan Feli."
" Mama sangat kecewa sama kamu." ujar nyonya Celine tampak shock dan berlalu ke kamarnya.
Kini di ruang keluarga itu hanya ada Austin dan Felicya. Austin masih enggan berdiri dari duduknya, ia ingin memastikan wanita yang bersamanya itu akan menandatangani surat cerainya.
" Kenapa kamu lakukan ini Austin, kamu juga sudah tidur dengan wanita ****** itu. Lalu apa bedanya aku sama kamu." teriak Felicya emosi.
" Loe masih punya satu kesempatan, tanda tangani surat itu dan pergi dari sini atau gue akan membuat keluarga dan karier loe hancur." ujar Austin penuh ancaman.
Felicya tidak bisa berkutik, untuk sekarang ini dia lebih baik mengalah dan tidak mau mengambil resiko. Dia tahu betul siapa Austin, seorang Austin Gunawan akan tega melakukan apapun yang dia mau. Setelah menandatangani surat cerai itu ia bergegas keluar dari rumah keluarga Gunawan.
" Maafkan gue Fel bagaimana pun juga kita sudah dari kecil berteman, tapi gue tidak bisa mentolerir siapapun yang sudah menghina wanitaku." Gumam Austin seraya melihat kepergian Felicya.
__ADS_1