Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Kesucian yang ternoda


__ADS_3

Nisa yang melihat Austin tak sadarkan diri dia langsung panik dan menangis, dia takut terjadi sesuatu dengan Austin. Bagaimana pun saat ini dia masih sangat mencintai pria itu.


"Al ayo kita bawa kerumah sakit sekarang." seru Nisa dengan panik.


"Nggak usah, kita bawa ke Apartemennya saja. Besok juga sadar sendiri dia."


"Kamu yakin ?"


"iya, ayo bantu aku memapahnya."


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di Apartemennya Austin, Aldo segera mendudukkannya di sofa, dengan cekatan Nisa melepaskan sepatunya.


Austin yang mulai tersadar dia membuka matanya dan menatap tajam Aldo, memberi isyarat agar Aldo segera meninggalkan mereka berdua.


"Nis aku pulang ya ?" pinta Aldo.


"Jangan, kamu temani kami disini !!"


"Aku ada urusan sebentar."


"Terus dia bagaimana ?" tanya Nisa menunjuk ke arah Austin yang masih pingsan.


"yang di butuhkan Austin sekarang cuma kamu, kalau kalian mau mengakhiri ini semua akhirilah dengan baik-baik tanpa harus saling membenci."


Nisa mengangguk, setelah itu Aldo pamit untuk pulang. Kini tinggal mereka berdua di Apartemen, Nisa sedikit canggung dia bingung harus berbuat apa.


Kemudian dia berinisiatif melepas kemeja Austin yang basah dan menggantinya dengan baju yang kering. Dia kawatir Austin masuk angin kalau tidak menggantinya.


Pelan-pelan Nisa melepaskan kancing kemejanya, setelah semua terlepas dia sedikit terpaku melihat dada bidang Austin. Karena baru kali ini dia melihat Austin bertelanjang dada, buru-buru dia berdiri untuk mencari baju ganti.


Baru dua langkah dia berjalan, Austin langsung menarik tangannya dan seketika dia jatuh ke sofa. Austin langsung menghimpit tubuhnya dan menciumnya dengan rakus. Nisa berusaha untuk memberontak tapi tenaga Austin begitu kuat


"Sayang aku sangat mencintaimu, aku menginginkan mu sayang." ujar Austin ia terus menciumnya, bukan ciuman lembut seperti biasa, tapi dia melakukannya dengan kasar dan menuntut.


"Austin jangan, aku mohon lepaskan aku." teriak Nisa ketika Austin sudah membopongnya ke kamar.


Di atas ranjang, lagi-lagi Austin melahap bibir mungil itu, tak perduli dengan penolakan maupun teriakan Nisa.


Nisa benar benar tak berdaya dalam kungkungan Austin. Tak berapa lama kemudian Austin sudah melakukan penyatuannya meski harus menyakiti gadisnya itu. Lalu ia memeluknya dengan erat hingga mereka terlelap.


Pagi harinya Nisa terbangun, dia melihat Austin masih tertidur lelap di sebelahnya. Ia kembali mengingat kejadian semalam bagaimana Austin telah merenggut paksa sesuatu yang selama ini ia jaga.


Sambil menahan rasa perih di bagian intimnya, ia beranjak dari tidurnya dan memunguti bajunya yang berserakan di lantai karena ulah Austin semalam.

__ADS_1


Ia segera memakainya lalu mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di sana, setelah itu ia menaruh kertas itu di atas nakas. Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Apartemen tersebut.


Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, Austin mulai membuka matanya. Di lihatnya tak ada Nisa di sampingnya, kemudian dia membuka selimutnya dan beranjak bangun.


Kemudian matanya tertuju pada seprei yang terdapat sedikit noda darah yang sudah mengering. Ada senyum di wajahnya, dia mengingat kejadian semalam. Dengan sadar dia sudah memperdaya gadisnya itu, dia berpikir itu jalan satu-satunya agar Nisa tidak meninggalkannya.


Ketika akan bangun, pandangannya tertuju pada kertas di atas nakas. Diambilnya lalu ia baca, seketika raut wajahnya berubah muram nampak ada kesedihan di matanya.


Austin kalau kamu mencintaiku dan masih mau melihatku ada di dunia ini, tolong jangan pernah mencariku lagi. Anggap saja kejadian tadi malam tidak pernah terjadi.


Austin meremas kertas di tangannya, tak terasa air matanya lolos membasahi pipinya. Dia berfikir kenapa kisah percintaannya begitu rumit.


Di tempat lain terlihat seorang perempuan sedang duduk di lantai, dengan merangkul kedua lututnya. Dia menangis sejadi-jadinya, kesucian yang selama ini ia jaga sudah ternoda.


Dia berfikir kenapa laki-laki yang dia cintai tega merenggutnya secara paksa. Nisa bingung harus berbuat apa kalau dia minta pertanggung jawaban Austin, maka bagaimana nasib adik dan neneknya. Orang tua Austin orang yang kaya raya mereka bisa melakukan segalanya.


Beberapa saat kemudian ia beranjak dari duduknya. Di ambilnya ponsel di atas nakas itu, lalu ia menelepon seseorang.


"Assalamualaikum Mas ?" sapa Nisa.


"Walaikumsalam, kenapa Nis ?" tanya Fajar di ujung telepon.


"Nisa bisa minta ijin sehari lagi kah Mas ?"


"Kamu sakit Nis, mau Mas antar ke dokter ?"


"ya sudah kamu istirahat ya." Pinta Fajar lalu menutup teleponnya.


Siang harinya Austin melajukan mobilnya dengan kencang menuju Airport. Tadi setelah ia beranjak bangun, ayahnya mendadak menghubunginya. Menyuruhnya untuk berangkat keluar negeri menyelesaikan masalah perusahaannya di sana.


Sebenarnya hari ini dia ingin menemui Nisa untuk meminta maaf atas perbuatannya, tetapi dia tidak bisa membantah perintah ayahnya. Kemudian ia memutuskan untuk menemui gadisnya dan akan mempertanggung jawabkan perbuatannya setelah urusan di luar negeri beres.


☆☆


Sebulan sudah berlalu, Nisa lega karena Austin tidak pernah menemuinya tapi juga ada perasaan sedih di hatinya.


"Nis." Mita menepuk bahu Nisa sehingga membuyarkan lamunannya.


"Kenapa Mit ?"


"Loe kenapa Nis bengong terus dari tadi, kita sudah hampir satu tahun bersama tapi loe begitu tertutup. Kalau ada masalah cerita, siapa tahu gue bisa bantu."


"Tidak ada masalah kok, cuma lagi kangen keluarga di kampung."

__ADS_1


"Oh ya, loe tadi di panggil pak Fajar tuh di suruh ke ruangannya. Sepertinya beliau kurang sehat."


"Kapan, kok aku ga dengar ?"


"Dari tadi Onah, makanya jangan melamun terus." Celetuk Mita.


Dengan langkah cepat Nisa pergi ke ruangan Fajar, dia tampak kawatir karena akhir-akhir ini Fajar sering sakit.


tokk


tokk


Nisa membuka pintu, terlihat Fajar sedang terbaring di sofa.


"Mas kenapa ?" Nisa menghampiri Fajar.


"Nis bisa minta tolong, buatin Mas bubur yang waktu itu kamu buat. Mas menginginkannya !!"


"ya Mas tunggu sebentar ya."


Beberapa saat kemudian Nisa kembali dengan membawa nampan berisi semangkok bubur dan segelas teh hangat.


"Mas aku suapi ya." pinta Nisa.


Fajar hanya menurut dia merasa senang di perhatikan seperti ini, pandangannya tak lepas sedikitpun dari Nisa.


"Mas kenapa melihatku seperti itu ?"


"Kamu cantik."


"Mulai nih gombalnya, oh ya Mas Nisa antar kedokter ya ?"


"Tidak usah Nis, sudah ada kamu kan yang merawat Mas."


"Sebenarnya Mas sakit apa sih semenjak kita dari pulau K waktu itu, Mas tampak tidak sehat."


"Mungkin cuma kecapekan aja."


"Yakin Mas, ayo Nisa antar ke dokter sekarang."


"Sudah ya cerewet, sekarang kamu kembali kerja mau gaji mu Mas potong." ujar Fajar ketika Nisa selesai menyuapinya.


"tapi Mas janji ya ke dokter."

__ADS_1


"ya cerewet." ujar Fajar seraya mencubit hidung Nisa yang menggemaskan.


Nisa masih tampak kawatir pada Fajar, dia begitu menyayanginya seperti kakaknya sendiri. Sebelum dia keluar dari ruangan tersebut, tak sengaja matanya melihat beberapa tumpukan obat di atas meja kerja, tapi dia enggan untuk bertanya, karena di lihatnya Fajar udah tertidur di sofa.


__ADS_2