Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Keputusan Austin


__ADS_3

Austin memporak-porandakan isi kamarnya, ia menghancurkan semua barang yang ada di kamarnya. Bahkan meja riasnya pun pecah karena hantamannya. Ia merasa menjadi manusia paling bersalah di dunia ini, karena tidak bisa melindungi kekasih dan anaknya.


Ia tidak mungkin bisa memilih antara orang tuanya dan kekasihnya, dia ingin bertanggung jawab dan menikahi Nisa. Sedangkan dia juga tidak bisa mendurhakai orang tuanya sendiri, pilihan yang sangat sulit baginya.


Tapi demi keselamatan Nisa dan calon bayinya, ia lebih memilih menikahi Felicya dan pergi keluar negeri menyelesaikan pascasarjananya. Setelah ia kembali dan menjadi CEO di perusahaan Papanya. Maka ia akan menceraikan Felicya dan mencari Nisa dan anaknya. Semoga kekasihnya itu mau mengerti dan menunggunya.


Sedangkan di tempat lain Nisa sudah menunggu Austin di rumah sakit, ia sangat senang senyumnya dari tadi terus mengembang. Ia tampak melihat di sekelilingnya ada beberapa pasangan yang mau mengontrolkan kandungannya.


"Tunggu ya Nak, sebentar lagi Papa akan datang." ucap Nisa lirih sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Sudah hampir dua jam ia menunggu, tapi laki-laki yang di tunggunya itu tidak juga datang. Nisa mencoba menghubungi Austin tapi ponselnya tidak aktif. Ia masih berfikir positif mungkin Austin masih sibuk dengan meeting nya.


Jarum jam menunjukkan tengah malam, itu berarti Nisa sudah menunggu Austin selama berjam-jam di rumah sakit. Ia mulai gelisah antara marah dan sedih menjadi satu.


Nisa merasa di bohongi dan di campakkan begitu saja oleh kekasihnya itu. Akhirnya ia menyerah, dengan langkah gontai ia pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.


Sesampainya di rumah Nisa menenangkan dirinya, ia tidak mau stres. Karena setiap kali stres ia selalu muntah-muntah, ia tidak mau itu terjadi karena pasti akan merepotkan Fajar lagi.


Setelah membersihkan diri ia merebahkan badannya di kasur, berusaha memejamkan matanya untuk terlelap dan besok ia akan mencoba mencari Austin di Apartemennya.


☆☆


Pagi ini Austin menghubungi Tommy sepupunya dan juga sahabatnya itu agar datang ke rumah orang tuanya, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Setelah Tommy datang ia menceritakan semua masalahnya pada Tommy.


"Tom tolong berikan cek ini pada Nisa, tolong beritahu dia agar menungguku dan menggunakan uang ini untuk biaya hidupnya dan anakku sampai aku kembali." ujar Austin, kemudian ia menyerahkan cek senilai 1 Milyar pada Tommy.


Setelah mereka selesai dengan urusannya, Tommy pamit pulang. tapi baru menuruni tangga Tuan Michael memanggilnya dan mengajaknya masuk ke ruang kerjanya.


"Keluarkan isi dari kantong jaketmu !!" perintah Tuan Michael.


"Maksudnya apa Om, Tommy tidak mengerti ?


"Kamu keluarin sendiri atau Om yang mengambilnya ?


Dengan ragu Tommy mengeluarkan cek yang di berikan Austin tadi untuk Nisa, dan ia menyerahkan pada tuan Michael.

__ADS_1


"Kamu berikan cek ini ke wanita itu sesuai perintah Austin, tapi jangan pernah menyampaikan pesan apapun dari Austin untuk dia. Katakan saja pada wanita itu, Austin tidak menginginkan anak itu lalu suruh dia menggugurkannya dan jangan pernah menampakkan diri di depan Austin lagi."


"tapi Om...." Tommy belum selesai bicara tapi tuan Michael sudah menyelanya.


"Jangan lupa nasib perusahaan Ayahmu ada di tangan Om, kamu tidak mau kan perusahaan Ayah kamu gulung tikar karena investasinya Om cabut." ujar Tuan Michael penuh ancaman.


Tommy diam membisu, masalah yang ia hadapi sekarang begitu rumit. Dengan langkah gontai ia meninggalkan rumah Austin.


"Maafkan aku bro ." ujar Tommy lirih dari balik kemudinya. Kemudian ia melajukan kendaraannya dengan kencang membelah jalanan.


Sedangkan Nisa seperti biasa ia pagi sekali sudah terbangun, ia merasakan mual hebat di perutnya. Apapun yang ia makan selalu saja dimuntahkan kembali.


kring


kring


Di ambilnya ponsel di atas nakas dan segera mengangkatnya. "Assalamualaikum Mas."


"Nis bagaimana keadaan kamu hari ini ?" tanya Fajar dari ujung telepon.


Kenyataannya ia sekarang dalam keadaan tidak baik, karena sedari pagi ia muntah terus. Berhubung tidak mau merepotkan Fajar lagi terpaksa ia harus berbohong.


"Kamu tidak kepingin apa-apa Nis, biasanya orang hamil mudakan ngidam."


Mendengar Perkataan Fajar, Nisa langsung sedih, air matanya menggenang. Dia berfikir bagaimana bisa orang lain bisa begitu perduli dengannya, tapi justru ayah dari bayinya sendiri sama sekali tidak memperdulikannya. Bahkan sampai sekarang Austin belum bisa di hubungi.


"Nis....."


"Iya mas, Nisa tidak kepingin apa-apa Mas. Alhamdulillah bayi dalam kandungan Nisa pintar dan tidak rewel." lagi-lagi Nisa berbohong, padahal saat ini ia menginginkan rujak buah.


Karena sejak pagi ia terlalu banyak muntah, jadi ia ingin makan yang segar seperti rujak buah.


Setelah menutup teleponnya, Nisa merebahkan dirinya di kasur lagi tapi beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu.


tokkk

__ADS_1


tokkk


Nisa membuka pintu, di lihatnya ada Tommy sudah berdiri di depannya. Biasanya Tommy akan selalu meledek dan bercanda setiap kali bertemu, tapi kali ini ia memasang wajah serius.


"Masuk Tom." Nisa menyuruh Tommy masuk ke dalam rumahnya.


Tommy masuk dengan enggan, sebenarnya ia sangat kasihan dengan Nisa, tapi ia harus melakukannya demi perusahaan Papanya, karena ia tahu tuan Michael tidak pernah main-main dengan ancamannya.


"Ada pesan dari Austin Nis." dengan ragu Tommy mengatakannya.


"Apa...."


"Austin memberikan ini padamu." Terlihat Tommy menyerahkan selembar cek pada Nisa.


"Dia bilang, ia tidak menginginkan anaknya dan menyuruh kamu untuk menggugurkannya dan bulan depan ia akan menikah dengan Felicya lalu pindah ke luar negeri."


Mendengar Perkataan Tommy, jiwa Nisa terasa melayang dan badannya seperti di hempaskan oleh ombak lautan. Hatinya begitu hancur, ingin rasanya ia mengakhiri hidup bersama bayi yang ia kandung saat itu juga, tetapi sejenak ada bayangan nenek dan adiknya dan ia harus kuat demi mereka.


Nisa menyerahkan kembali cek itu pada Tommy


"Tom tolong katakan pada Austin, aku akan menggugurkan bayi ini dan mulai sekarang anggap aku dan bayi ini sudah mati." Ujar Nisa dengan tatapan amarah.


Tommy merasa sangat bersalah, dengan langkah gontai dia meninggalkan rumah Nisa. Setelah beberapa saat lalu Nisa menyuruhnya pulang.


Nisa masih duduk di sofa dengan isak tangisnya, pintunya pun masih terbuka lebar.


"Nis....?" panggil Fajar di depan pintu.


"Mas." Nisa berlari menghampiri Fajar dan memeluknya.


"Dia jahat mas." ucap Nisa di sela tangisnya.


"Mas sudah dengar semuanya Nis, tenang ada Mas di sini yang akan selalu melindungimu." Fajar memegang kedua bahu Nisa dan menatapnya dengan lembut.


"Sekarang kamu kemasi semua barang-barangmu, kamu akan tinggal bersama Mas. Di sini sangat berbahaya buat kamu !!"

__ADS_1


Nisa hanya menurut saja apa kata Fajar, setelah ia membereskan semua barang-barangnya ia pun pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2