Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Petshop


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siangnya, Nisa tidak kembali ke kantor, Ia berencana akan menemani Tommy ke Petshop. Karena Tommy mau membeli hewan peliharaan pengganti Bruno yang sudah meninggal itu, tapi sebelumnya Nisa akan pulang ke rumahnya dulu menjemput King.


Tommy mengikuti mobilnya Nisa dari belakang, setelah tiga puluh menit perjalanan mereka sampai di tempat tujuan.


"Hai Nis apa kabar ?" sapa Bobby pemilik Petshop itu ketika Nisa baru masuk.


"Baik Bob."


"Hai jagoan, lama kita tidak bertemu." ujar Bobby, dia langsung salam tos dengan King.


"Itu calon Papamu ya ?" Bisiknya pada King, meski masih terdengar oleh Nisa dan Tommy.


"Bukan Om, Papa King masih kerja diluar negeri belum pulang, King sudah punya Papa sendiri, tidak mau Papa yang lain. ya kan Mi ?" King melihat maminya meminta persetujuan.


"ya sayang." ujar Nisa tersenyum manis pada anaknya itu.


Mendengar perkataan King, Tommy tampak kecewa, ia merasa kalah sebelum berperang, tapi ia bertekad akan memenangkan hati Nisa dan King.


Setelah melihat beberapa hewan peliharaan di Petshop itu Tommy menjatuhkan pilihannya pada seekor anak anjing jenis Bulldog.



Ia memberi nama anjingnya itu Boky sesuai permintaan dari King, ia berharap lewat Boky mereka bisa mulai akrab. Meskipun beragama muslim Nisa tidak sedikit pun jijik melihat binatang menggemaskan itu, toh binatang itu juga ciptaan Tuhan sama seperti dirinya.


Kalau kita membenci salah satu ciptaan Tuhan, maka secara tidak sengaja kita juga sudah membenci Sang Penciptanya.


Di tempat lain Austin baru selesai meeting dengan kliennya di Hotel bintang lima, dia ditemani oleh Wira asistennya. Ketika sedang di lobby dia seperti melihat seorang wanita yang mirip dengan Felicya.


Wanita itu terlihat bergandengan tangan dengan seorang laki-laki menuju lift, tapi Austin langsung menepisnya, karena yang dia tahu tadi siang Felicya menghubunginya kalau mau berangkat ke Paris untuk pemotretan.


"Wir bisa tidak kamu percepat keberangkatan ku ke pulau K ?" tanya Austin pada Wira yang sedang fokus dibalik kemudinya.


"Saya usahakan secepatnya anda ke sana, tuan Michael juga menyuruh anda untuk tinggal agak lama di sana untuk mengawasi cabang perusahaan baru itu."


"Terus yang ngurus di sini siapa ?"


"Sepertinya tuan Michael sendiri, tuan."


"Bukannya Papa pergi ke Malaysia bersama Mama ?"


"Sepertinya nyonya besar akan pergi sendiri tuan, tapi setelah acara peresmian itu saya akan kembali ke sini lagi untuk menggantikan tuan besar, sehingga beliau bisa menyusul Nyonya besar ke Malaysia."


"Jadi kamu nanti ninggalin aku sendiri di pulau itu ?"


"Ada tuan Aldo dan tuan Tommy tuan, bukannya anda mau bersenang-senang dengan mereka." ujar Wira sembari melihat Austin dari kaca spion.

__ADS_1


"ya kau benar." sahut Austin datar tanpa ada ekspresi di wajahnya.


"Apa kamu sudah mendapat kabarnya ?" ucapnya lagi.


"Belum tuan, anak buah saya lagi berusaha mencarinya."


"Apa kepergiannya ada hubungannya sama Papa ?" tanya Austin lagi.


"Saya kurang tahu tuan, selama ini beliau melibatkan saya hanya masalah pekerjaan saja." ujar Wira, ada perasaan bersalah ketika ia mengatakan itu.


Karena selama ini, tuan Michael memerintahkannya mencari Nisa untuk melenyapkan bayi dalam kandungannya itu.


"Apa kau yakin ?" tanya Austin curiga.


"Benar tuan."


"Sekarang kamu mengabdi sama aku bukan sama Papa lagi, aku harap kamu tidak berkhianat."


"Saya janji tuan akan selalu setia dengan anda, seperti keluarga saya yang sudah turun-menurun mengabdi kepada keluarga Gunawan." ujar Wira dengan serius.


Wira tidak bisa mengatakan kalau lima tahun yang lalu, ia pernah disuruh Tuan Michael untuk mencoba melenyapkan bayi itu. Karena ia tidak mau hubungan ayah dan anak itu semakin merenggang.


Apalagi sepertinya sekarang tuan Michael sudah mulai menyesal, karena beberapa hari yang lalu beliau menghubunginya untuk mencari cucunya lagi.


Flash back on


"Selamat siang tuan." sapa Wira ketika baru masuk ke ruang kerjanya tuan Michael yang ada di rumahnya itu.


"Duduklah Wir ?" perintah tuan Michael.


"Terima kasih tuan."


Kemudian tuan Michael menyerahkan selembar foto Austin dan Nisa lima tahun yang lalu kepada Wira.


"Tolong temukan wanita itu dan cucuku dalam keadaan hidup." perintah tuan Michael, sepertinya ada rasa penyesalan dalam setiap kata yang ia ucap.


Wira merasa terkejut, selama bertahun-tahun menjadi asistennya, baru kali ini beliau mengucapkan kata 'tolong'.


"Baik tuan."


"Apa anak itu juga menyuruhmu untuk mencarinya ?" tanya tuan Michael.


"ya tuan, sejak kedatangan tuan Austin beberapa bulan yang lalu dari Jerman. Beliau juga memerintahkan saya untuk mencarinya."


"Apa kau juga memberitahunya kejadian lima tahun yang lalu ?"

__ADS_1


"Tidak tuan."


"Baiklah, saya percaya padamu." Tuan Michael menepuk bahu Wira beberapa kali, kemudian beliau keluar dari ruangan itu yang di ikuti Wira di belakangnya.


Flash back off


Beberapa hari kemudian


Austin sudah berada di pulau K sejak semalam, dia menginap di hotel bintang lima dekat dengan kantor barunya itu. Hari ini ia akan jalan-jalan dengan sahabatnya, Tommy dan Aldo yang sudah berada di pulau itu duluan.


Range Rover Sport milik Tommy itu melaju dengan kencang membelah jalanan.


"Bagaimana kabarmu dan Feli bro, apa sudah ada junior. Betah amat kalian lima tahun di Jerman ?" tanya Aldo.


"Aku tidak menginginkan anak, merepotkan." ujar Austin.


"tapi kamu normal kan ?" celetuk Aldo lagi.


"Kamu pikir aku nggak normal ?" Austin terlihat geram, Ia menoyor kepala Aldo yang sedang duduk di depannya itu


"Kali saja." sahut Aldo sambil tertawa yang di ikuti juga oleh Tommy.


Disaat mereka asyik mengobrol, Nisa menghubungi Tommy. Drtt......Drtt.... Suara ponsel Tommy berdering. Ia segera melihat layar ponselnya.


"Nisa." batin Tommy.


Tommy sengaja mengabaikan panggilan itu, ia takut Austin akan mengetahuinya. Hingga panggilan ketiga, Tommy terpaksa mengangkatnya. Karena tidak biasa Nisa meneleponnya berkali-kali kalau tidak ada hal yang penting.


"Kenapa nggak kamu angkat bro, dari cewekmu ?" tanya Aldo penasaran.


"Ini baru mau ku angkat." sahut Tommy.


"Hallo." sapa Tommy pada Nisa.


"Tom, aku ganggu nggak ?" tanya Nisa dari ujung telepon.


"Nggak, kenapa ?"


"Kamu sibuk nggak ?" Nisa balik nanya.


"Nggak terlalu, kenapa sepertinya penting ?"


"Bisa tolong jemputin King di sekolah nggak, aku ada meeting mendadak dan ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan sebelum berangkat ke Malaysia." terdengar suara Nisa tampak memohon.


"Baiklah kebetulan aku lagi di jalan." ucap Tommy sembari menatap Austin dari kaca spion depan.

__ADS_1


"Terima kasih ya Tom, tolong langsung diantar ke rumah saja." ujar Nisa lalu menutup teleponnya.


__ADS_2