
" Nisa....?" Tampak seorang laki-laki tampan memanggil Nisa ketika berada di salah satu Mall di Malaysia. " Loe Anisa Rahman kan teman gue sekolah dulu ?" tanyanya lagi.
" Ron ?" ujar Nisa kaget.
" Loe masih ingat gue ?" ujar laki-laki itu.
" Tentu saja, Ronald Hudson bule kampung dan paling playboy di sekolah." ujar Nisa lalu mereka tertawa bersama.
Ronald Hudson adalah kakak kelas Nisa tetapi setelah lulus, ia dibawa keluarganya ke Jerman.
" Loe tinggal disini Nis ?"
" Tidak. Aku lagi liburan saja, kamu ?"
" Gue ada urusan bisnis disini."
" Sama istri kamu ?"
" Astaga gue baru dua puluh tujuh tahun, belum ada target nikah. Ya kecuali kalau loe mau, gue bisa pikir ulang." ujar Ronald menggoda.
" Aku sudah nikah."
" Whattt ...?" Ronald tampak kaget.
" Mami, minum." Teriak King ketika keluar dari playground tempat ia bermain.
" Anak loe ?"
" Ya." sahut Nisa ia menghampiri King yang terlihat kehausan.
" Sayang." Tiba-tiba Austin memeluknya dari belakang.
" Austin kapan kamu datang ?" Nisa berbalik.
" satu jam yang lalu, kata tuan Fachri kalian ada disini, apa kamu merindukanku ?" ujar Austin mendekatkan wajahnya.
" Austin ini tempat umum." cebik Nisa ketika Austin berhasil mendaratkan ciumannya. " itu kenapa wajahmu lebam begitu." tanya Nisa lagi ketika melihat wajah Austin sedikit lebam seperti bekas pukulan.
" Tuan Austin ?" seru Ronald mendekat untuk memastikan.
" Tuan Ronald anda disini."
" Kalian saling mengenal ?" tanya Nisa.
" Tentu saja kami sudah lama menjadi partners bisnis." ucap Ronald. " oh ya bagaimana kabar istri anda tuan Austin ?" tanya Ronald lagi, ia tampak bingung dengan hubungan Austin dan Nisa.
" Kami baru saja bercerai." sahut Austin santai.
" Benarkah, terakhir kita bertemu di Jerman kalian terlihat romantis."
" Kadang apa yang kita lihat, belum tentu sesuai dengan kenyataannya." sahut Austin tegas. " sayang ayo kita pulang aku sangat merindukan mu." ucapnya lagi ketika melihat Nisa tersenyum masam.
" oh ya tuan Ronald kami permisi dulu ya, senang bertemu anda." ujar Austin lalu ia menggandeng Nisa untuk menjemput King yang masih bermain didalam Playground.
__ADS_1
" Sebenarnya ada hubungan apa antara Nisa dan tuan Austin, gue harus cari tahu." gumam Ronald.
Setelah King selesai bermain mereka pergi ke Food court untuk makan siang.
" Sayang kamu kenal dimana playboy kurab itu ? tanya Austin dengan nada tidak suka.
" Siapa, Ron ?"
" Bahkan kalian mempunyai panggilan kesayangan."
" Kamu cemburu ?" sahut Nisa menggoda.
" Tentu saja, kamu jangan dekat-dekat lagi dengannya." perintah Austin ketus.
" Dia kakak kelasku dulu, lagi pula kita tidak pernah bertemu lagi setelah dia lulus."
" Tapi dari cara dia menatapmu, sepertinya menyukai mu."
" Darimana kamu tahu, seperti dukun saja."
" Aku ini seorang pria sayang, oh ya lusa kita akan menikah."
" What, secepat itu ?"
" Tentu saja mama sama papa sudah mempersiapkan semuanya."
" Tapi adikku belum tahu, aku takut dia..." Nisa belum menyelesaikan tapi Austin sudah menyelanya.
" Aku sudah bicara dengannya."
" Tentu saja."
" Apa gara-gara dia wajah kamu seperti itu ?" tanya Nisa penasaran.
" Kalian kakak beradik sama-sama bar barnya."
" Apa dia merestui kita ?" tampak Nisa kawatir.
" Tentu saja." sahut Austin dengan tatapan yang sulit diartikan.
Flash back on
Siang itu ketika Austin mendapatkan keputusan cerai dari pengadilan di kota S, dia langsung terbang ke pulau K untuk meminta restu pada Adi adiknya Nisa. Karena dia satu satunya wali dari Nisa.
Setelah tiba di pulau K, dia langsung menuju kantor Nisa. Ia yakin Adi berada di kantor tersebut, karena selama Nisa di Malaysia adiknya lah yang menghandle kerjaan kantornya.
" Di..." panggil Austin ketika bertemu Adi di parkiran kantor.
" Mau apa kesini ?" tanya Adi ketus.
" Gue mau bicara."
" bicaralah aku buru-buru."
__ADS_1
" Gue mau nikahi kakak loe."
" Kamu yakin bisa menjaga mbak Nisa dan tidak meninggalkannya lagi ?"
" Tentu saja dengan nyawaku kalau perlu."
" Buktikan, nanti malam datanglah ketempat ini." sahut Adi seraya memberikan sebuah kartu nama lalu pergi meninggalkan Austin yang masih tidak mengerti.
Setelah mengamati kartu nama tersebut tampak Austin memicingkan matanya. " Astaga ini bocah." gumamnya.
Malam harinya Austin mendatangi alamat sesuai kartu nama yang diberikan oleh Adi, ia memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah ruko berlantai tiga dengan papan nama bertuliskan King Muay Thay Studio.
" Bahkan nama anak gue ia pakai buat tempat ini." gumam Austin ketika melihat papan nama tersebut.
Setelah tiba di tempat itu, Austin langsung masuk menuju meja resepsionis yang berada di ujung ruang fitnes yang sudah penuh oleh pengunjung. Kemudian ia diarahkan naik ke lantai dua, sampai disana Austin melihat beberapa samsak serta peralatan muay thai lainnya dan juga beberapa orang yang sedang berlatih.
" Anda tuan Austin Gunawan ?" tanya seorang pria.
" ya saya sendiri."
" Mari ikut saya, boss kami sudah menunggu anda diatas."
Austin mengikuti pria tersebut naik ke lantai tiga ruko itu. Sampai disana ia melihat sebuah arena kecil yang biasa digunakan untuk sparing atau tanding.
" Bersiaplah." seru Adi ketika melihat Austin datang.
" Kak Austin." nampak seorang wanita cantik keturunan bule terkejut saat melihat Austin.
" Kamu mengenalnya ?" tanya Adi penasaran.
" Tentu saja dia partners bisnis kakakku di Jerman." sahut wanita itu yang bernama Rosi, ia tampak kagum ketika melihat Austin dan itu membuat Adi tidak suka.
Kini Adi dan Austin sudah berada di dalam arena tanding, mereka hanya menggunakan tangan kosong tanpa peralatan atau pelindung.
Mereka mulai memasang kuda-kuda, Adi maju duluan ia mengarahkan pukulannya tepat di wajah Austin tapi Austin langsung menangkis pukulan tersebut. Dengan cepat Adi menendang perut Austin dengan lututnya, hingga Austin langsung terjatuh tapi tak lama ia berdiri lagi. " ini bocah boleh juga, perasaan lima tahun yang lalu dia terlihat kurus kering kayak teri tapi sekarang sangat berbeda." gumam Austin.
Hingga beberapa saat mereka masih bertarung menggunakan semua gerakan yang mereka kuasai baik itu memukul, menendang,menyikut maupun upper cut knee yaitu tendangan menggunakan lutut.
Mereka terlihat mulai kelelahan tapi tidak satupun yang mau mengalah, pada akhirnya Adi mengejab dengan keras rahang Austin hingga Austin tampak terhuyung kebelakang tapi dengan cepat Austin menguasai diri dan langsung melakukan tendangan roundhouse atau memutar hingga Adi terhempas ke lantai. Austin mau memitingnya untuk memastikan kemenangannya tapi ia tidak tega melihat keadaan adi yang sudah sangat kelelahan.
Adi terlihat kesusahan untuk bangun tapi Austin langsung membantunya untuk duduk dan memeriksa keadaan calon adik iparnya itu.
" Kau lah pemenangnya." ucap Adi dengan napas tersengal.
Setelah memastikan Adi baik-baik saja Austin langsung bergegas untuk keluar dari tempat itu.
" Kak Austin.." panggil Adi.
Austin yang sudah berada di depan pintu, ia membalikkan badannya kembali.
" Tolong jaga mereka dengan baik." ucap Adi tampak memohon.
" Tanpa loe suruhpun, gue akan menjaganya dengan sepenuh hati." sahut Austin kemudian berlalu keluar meninggalkan Adi yang masih kelelahan dan nampak beberapa lebam di wajahnya terkena jab dan hook dari Austin.
__ADS_1
Flash back off