
Hari ini Austin dan teman-temannya akan liburan ke villa milik keluarganya Aldo, Mereka membawa kendaraan masing-masing dan janjian bertemu di sana.
Nisa yang memakai setelan celana jeans pendek yang di padu padankan dengan kaos putih yang di masukkan tampak santai tapi elegan.
Kaki putihnya yang di biarin terlihat karena celana pendeknya dan rambut yang di ikat ekor kuda hingga terlihat leher jenjangnya yang mulus, semakin membuat penampilannya terlihat anggun.
Austin sangat terpesona melihat penampilan Nisa, karena biasanya dia melihat Nisa dengan seragam kerjanya yaitu kemeja dan celana panjang.
"Kamu cantik sekali sayang." Austin nampak terpesona dengan penampilan gadisnya itu.
Nisa hanya tersenyum, kemudian ia masuk ke dalam mobil dan di ikutin juga oleh Austin.
"Aku kira kamu tidak dapat ijin sayang dari boss kamu itu." ujar Austin, ia nampak tidak suka kalau sudah membicarakan apapun yang berhubungan dengan Fajar.
"Beliau sedang keluar kota dan mengijinkan aku libur weekend ini."
"Kenapa kamu tidak berhenti saja dari sana sayang, aku bisa carikan kamu kerja di tempat lain. Atau kita menikah saja."
"Aku cuma lulusan sekolah menengah atas, mau kerja apa coba. Lagipula aku sudah nyaman kerja di sana. Mas Fajar orangnya baik banget."
"Baik karena ada maunya." cebik Austin.
"Jangan mulai deh, lagipula kamu mau ngajakin nikah tapi sampai sekarang nggak pernah ngenalin keluarga kamu."
"Iya nanti, aku kenalin ya." sahut Austin sambil mengusap puncak kepala Nisa.
Setelah hampir satu jam lebih mengendarai mobilnya akhirnya mereka sampai. Melihat mobil Austin, Tommy segera menghampiri. "Baru sampai bro ?" ucapnya.
Bukannya menjawab, Austin justru melempar kunci mobil ke arah Tommy. "Ada minuman di bagasi, tolong di bawa masuk bro."
"Oke." sahut tommy.
"Kalian langsung masuk saja, pilih kamar sendiri di lantai dua." ucapnya lagi.
Kemudian Austin menggandeng tangan Nisa dan mengajaknya masuk ke dalam villa, lalu mereka menaiki anak tangga menuju lantai dua, di sana nampak ada enam kamar yang saling berhadapan.
"Sayang kamu kamar paling ujung itu ya, aku yang di sebelahnya." Ujar Austin sembari menunjuk kamar yang berada tak jauh di depannya itu.
"Baru sampai kalian ?" Aldo menghampiri mereka bersama dengan seorang wanita cantik. "Kenalin ini pacar gue, Santy."
__ADS_1
"Nisa." Nisa menyambut uluran tangan Santy.
"Kamu Austin kan ?" Santy mengulurkan tangan ke Austin dengan centil.
Austin menatap Santy sebentar, kemudian berlalu pergi ke kamar Nisa tanpa menghiraukan wanita itu.
"Maaf ya San, Al." Nisa menatap wajah mereka bergantian, kemudian pergi menyusul Austin.
Nisa yang sudah berada di dalam kamar langsung meminta penjelasan pada kekasihnya itu atas sikapnya tadi.
"Austin kok kamu gitu sih, tidak enakkan sama mereka terutama Aldo." tegur Nisa.
"Kenapa sih sayangku cerewet banget, sudah biasa aku seperti itu Aldo juga tahu. Aku malas lihat cewek centil kayak gitu."
"Kamu kenal dia, kok dia tahu namamu ?"
"Kamu cemburu ? Austin mencoba menggoda dengan mendekatkan wajahnya ke arah Nisa seakan-akan mau menciumnya.
Nisa tampak gelagapan melihat Austin semakin mendekatinya, "Austin stop, ayo kamu ke kamarmu sekarang." Nisa menarik tangan kekasihnya itu dan segera menyuruhnya keluar.
Austin keluar kamar dengan tertawa senang, karena sudah berhasil menggoda wanitanya itu hingga menampakkan kemerahan di wajahnya.
Ketika asyik menikmati indahnya bunga yang ada di taman, sekilas Nisa terkejut melihat seekor Anjing jenis Herder yang terlihat mengepak-ngepakkan kakinya ke tanah seperti sedang kesakitan.
Nisa pelan-pelan mendekatinya tanpa rasa takut, padahal dia tahu Anjing jenis itu biasanya sangat galak apalagi pada orang yang belum di kenalnya.
"Hei kamu kenapa ?" Nisa berjongkok dengan wajah ibanya.
"Apa aku boleh melihatnya ?" tanya Nisa lagi, ia mengarahkan tangannya ke kaki anjing tersebut.
Anjing itu cuma diam pasrah melihat Nisa, seakan-akan tahu kalau Nisa orang baik yang akan menolongnya. Entahlah mungkin melihat Nisa dengan mata bulatnya yang polos, sehingga tidak hanya manusia saja, tapi seekor anjingpun percaya kalau dia orang yang baik.
"Kamu ketusuk duri ya." Nisa mencoba mencabutnya, setelah itu ia mengambil plester dalam kantong celananya dan merekatkan pada kaki anjing tersebut.
Anjing itu sudah tidak kelihatan sakit lagi justru dia mengangkat kaki satunya ke arah Nisa.
"Hei kamu mau mengucapkan terima kasih ya, namaku Nisa." kata Nisa sambil mengacak lembut kepala anjing itu.
__ADS_1
Tommy yang dari kejauhan melihat interaksi antara Nisa dan Anjing kesayangannya itu tampak terkejut, biasanya Bruno anjingnya itu selalu galak pada semua orang apalagi dengan orang yang belum dia kenal. Bahkan pada Felicya wanita yang Tommy cintai itupun, anjing itu sangat tidak Ramah.
"Hei kamu apakan Bruno ?" Tommy menghampiri Nisa.
"Jadi namanya Bruno." Nisa tertawa lebar mengingat perkataan Austin di Apartemen tempo hari.
"Dia pacar kamu ?" tanya Nisa meledek sambil mengelus kepala Bruno yang mendekatinya.
"Bukan, sepertinya dia akan menjadi pacar kamu." Celetuk Tommy.
"Kamu lihat, dia lebih memilihmu dari pada aku tuannya yang sudah bertahun-tahun memeliharanya."
Nisa tertawa nyaring sampai terdengar oleh Austin dan Aldo yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
"Memang kamu kasih apa Bruno, sampai dia jinak sama kamu ?" Tommy tampak curiga.
"Rahasia, ya kan Bruno." Sahut Nisa sembari melihat Bruno, kemudian ia berdiri meninggalkan Tommy dengan rasa penasarannya.
Nisa berjalan ke arah Aldo yang sedang sibuk memasang alat pemanggang barbeque. Sedangkan Austin yang posisinya memunggungi Nisa terlihat sedang menelpon seseorang, terdengar samar-samar di telinga Nisa obrolan Austin di telepon.
"Iya Fel gue janji, maaf ya." Ujar Austin lalu menutup teleponnya.
" Astaga cewek bar-bar kamu ngapain Bruno sampai bisa jinak kayak gitu, gue aja yang kenal Bruno dari orok tidak berani dekat-dekat takut jadi santapan dia." ujar Aldo.
Nisa hanya tersenyum malas pada Aldo tanpa mau menanggapi perkataannya, dia masih memikirkan kata-kata Austin di telepon barusan.
Austin yang mendengar celetukan Aldo langsung kaget dan berbalik menatap Nisa.
"Sayang kamu dari tadi di sini ?" ujar Austin.
"Aku ke atas dulu ya mau mandi." sahut Nisa kemudian ia berlalu meninggalkan Austin yang masih bengong melihat kepergiannya.
☆☆☆
Malam haripun tiba, mereka berlima pada sibuk dengan pesta barbeque nya sampai larut malam. Biasanya setiap kali mereka mengadakan liburan Felicya juga sering ikut tapi kali ini dia tidak ikut serta, karena sedang menemani Mama Austin liburan ke luar negeri.
Malam semakin larut Nisa pun pamit ke kamar untuk tidur, melihat Nisa beranjak dari duduknya Austin segera mengikutinya dari belakang. Sampai lantai atas Austin langsung menarik tangannya. "Sayang kamu kenapa sih dari tadi banyak diam ?"
"Nggak apa-apa aku cuma capek, aku masuk dulu ya." pinta Nisa kemudian ia berlalu masuk ke dalam kamar dengan raut wajah kecewa. Dia merasa ada sesuatu antara Austin dan Felicya yang ia tidak ketahui.
__ADS_1