
Saat tengah malam Nisa terbangun dari pingsannya. Ia mulai membuka mata, dilihatnya King tidur disampingnya. Lalu ia melihat ke sebelahnya lagi nampak Austin sedang tertidur pulas dengan memeluk dirinya. " Apa ini bukan mimpi" gumam Nisa. Kemudian ia balik memeluk Austin mencari kehangatan disana hingga akhirnya ia tertidur lagi.
Keesokan harinya
Mentari telah memunculkan sinarnya, masuk melalui celah-celah hordeng. Membuat Nisa harus terbangun, meski kantuk masih melandanya. Ia mengerjapkan matanya, mencari seseorang yang berada di sampingnya semalam. Tetapi tak seorangpun ada disana, hanya mimpi pikirnya. Lalu ia mengingat ingat kejadian kemarin malam sebelum ia tak sadarkan diri.
" King, dimana King." gumam Nisa.
Seketika dia turun dari ranjangnya untuk mencari anaknya itu, ia takut King dibawa pergi oleh tuan Michael.
" Mami." teriak King ia membuka pintu kamar ibunya yang diikuti oleh Austin di belakangnya.
" Sayang." Nisa memeluknya dengan erat.
" Mami ternyata om menyebalkan itu papanya King." seru King tampak bahagia.
" Ya kan pa." King melihat kearah Austin yang duduk diatas ranjang disebelah ibunya.
" Ya sayang, mulai hari ini kita akan selalu bersama sama. Papa janji tidak akan meninggalkan kalian lagi." ujar Austin tampak binar bahagia diwajahnya.
" Horeeee." teriak King bahagia seraya memeluk kedua orang tuanya.
Setelah King keluar untuk bermain, kini tinggal Nisa berdua dengan Austin. " Apa ini bukan mimpi ?" tanya Nisa masih tak percaya.
Tiba-tiba Austin mencium bibir Nisa dengan lembut,
" Apa ini juga mimpi ?" Austin balik bertanya.
" aissss kamu selalu cari kesempatan." cebik Nisa.
" hahahaha tapi enak sayang, mau mencoba lagi ?" tanya Austin wajahnya sudah mendekat mau menerkam.
" No." Nisa menjauhkan wajah Austin dengan tangannya.
" astaga mengganggu kesenangan saja kamu."
__ADS_1
" Kamu sudah punya istri masih saja genit ke wanita lain." sahut Nisa lalu beranjak pergi, tapi dengan cepat Austin menarik tangannya dan menjatuhkan kepangkuannya. Ia langsung melahap bibir mungil itu dengan rakus tanpa memberikan jeda untuk bernapas.
" Gila kamu, mau membuat ku mati kehabisan napas." ujar Nisa usai Austin melepaskan panggutannya.
" Ayo lah sayang, kamu tidak kasihan sama junior ku." seru Austin dengan suara parau, matanya tampak memerah dengan tubuhnya mulai memanas sepertinya ia menginginkan lebih dari itu.
Nisa merasakan ada sesuatu yang mengeras dibawah b*k*ngnya, Lalu ia cepat-cepat berdiri dari pangkuan Austin dan berlari ke kamar mandi.
Austin menghela napas frustasi, ia menatap nanar punggung itu yang berlalu pergi meninggalkannya.
" shit." umpatnya Ialu ia hempaskan tubuhnya keranjang dan memeluk guling disana untuk meredam keinginannya, ia merasa setiap kali berada disamping Nisa selalu bergairah dan ingin menerkam wanitanya itu.
Beberapa saat kemudian, dengan tanpa rasa malu Nisa keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja. Sehingga kulit putih mulusnya terpapar indah disana, ia berjalan menuju almari pakaian.
Austin yang melihatnya langsung menelan salivanya, kemudian ia beranjak untuk memeluk Nisa dari belakang. Ia mencium tengkuk wanitanya itu dengan lembut, digigit nya leher itu hingga meninggalkan beberapa bekas kemerahan disana.
" sayang kamu mau menggoda ku ya." ujar Austin nakal bibirnya masih asyik dengan aktivitasnya.
Karena merasa geli dengan cepat Nisa mendorong tubuh Austin agar menjauh. " Aku tidak mau melakukannya Austin, sebelum kita menikah. Oke." tutur Nisa penuh keyakinan.
" Akhhhhh." Nisa yang melihat dirinya di kaca langsung berteriak.
" Ada apa sayang ?" Austin buru-buru keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang memperlihatkan perut seksinya.
" Akkkkhhh. kamu kenapa tidak pakai baju." Teriak Nisa lagi, ia tampak menelan salivanya melihat tubuh Austin begitu proposional ditambah tetesan air sisa mandinya membuatnya makin seksi.
" Astaga sayang kenapa masih malu bukannya kamu sudah beberapa kali melihatnya, lebih dari ini bahkan." goda Austin.
Nisa hanya mencebikkan bibirnya." Kamu kenapa berteriak tadi." lanjut Austin.
" Nih lihat, kau apakan leherku." ujar Nisa memperlihatkan banyak bekas merah disana.
" Hahahaha itu karya dari seorang Austin Gunawan sayang, bagaimana bagus kan ?"
" Bagus dari mana, ini seperti macan tutul tau." cebik Nisa.
__ADS_1
" Itu namanya tanda kepemilikan sayang, itu artinya kamu milikku. Lain kali aku buat satu badan biar tidak ada lagi yang melirikmu lagi." goda Austin ia tersenyum usil.
Nisa langsung menoyor kepala laki-laki yang ada di belakangnya itu. " dasar mesum."
" Hahahaha..." Austin tertawa lebar merasa puas sudah menggoda wanitanya itu.
Siang harinya mereka makan bersama antara keluarga Austin dan tuan Fachri. Awalnya suasana yang terasa canggung, langsung terasa hangat ketika Nisa melontarkan sedikit kekonyolannya. Begitu lah Nisa, sifatnya yang kadang ceplas ceplos membuat orang yang ada di dekatnya cepat akrab.
Orang tua Austin nampak begitu terharu karena perlakuan Nisa pada mereka yang penuh perhatian, bahkan Nisa juga yang melayani mereka makan.
" Mami, King senang banget. Papa King sudah pulang, nanti papa mau kan antarin King ke sekolah.
King mau kasih tahu teman-teman kalau King punya papa." ucap King disela-sela mereka makan.
Kedua orangtua Austin nampak berkaca-kaca begitu juga dengan Austin, mereka merasa menyesal telah menelantarkan bocah dengan pipi gembul yang menggemaskan itu.
" Iya sayang nanti setiap hari papa yang antar King ke sekolah." ucap Austin seraya mengusap lembut puncak rambut anaknya itu.
" Papa jangan rusak rambut King, nanti King tidak tampan lagi." ujar King polos ia tampak merapikan rambutnya kembali.
Semua yang ada di meja makan itu tergelak melihat tingkah bocah kecil itu." Astaga, papa sama anak sama saja. Narsis." Sahut Nisa geleng-geleng kepala.
☆☆
" om, tante terimakasih ya sudah mau menerima kami." ucap Nisa membuka obrolan ketika mereka berada diruang keluarga.
" Harusnya kami yang berterimakasih nak karena kamu sudah memaafkan kami, bahkan kamu sudah membesarkan cucu kami seorang diri dengan sangat baik." ujar Tuan Michael tampak merendah.
" Ada adik saya yang selalu melindungi saya dan King, begitu juga dengan kak Fachri dan kak Fajirah yang selalu ada buat kami." ujar Nisa tersenyum menatap ke arah Fachri dan Fajirah yang duduk di sofa sampingnya.
" Itu sudah tugas kami sebagai kakak Nis, sesuai amanat mendiang kak Fajar sebelum ia meninggal kami harus selalu menjaga mu. Kami merasa punya hutang budi sama kamu karena kamu telah menggantikan tugasku sebagai adik untuk merawat kak Fajar selama ia sakit." ucap Fachri tampak berkaca-kaca.
Austin merasa sangat cemburu, membayangkan Nisa dulu selalu berada di samping Fajar. Tuan Michael yang menyadari raut wajah anaknya itu tampak merasa bersalah.
" Kamu dan King mau kan nak pulang bersama kami ke Indonesia ?" pinta tuan Michael seraya menatap Nisa.
__ADS_1
" Maaf om, tante saya tidak bisa." sahut Nisa terlihat ada kesedihan dimatanya.