
Hari ini Nisa tidak masuk kerja, karena Fajar sudah mengijinkannya untuk beristirahat di rumahnya. Sepanjang hari dia habiskan waktunya untuk tidur dan merenung, dia harus segera menata hatinya.
Berusaha melupakan Austin dan kembali tegar seperti sebelumnya, ia masih mempunyai nenek dan adik yang harus dia tanggung masa depannya.
Sudah hampir seminggu ini ia mematikan ponselnya, ia tidak ingin Austin menghubunginya, tapi sekarang dia harus belajar move on.
Ketika ponselnya baru ia hidupkan banyak puluhan pesan masuk dari Austin, tapi ia abaikan tanpa membacanya.
Setelah itu ia segera menghubungi adiknya, karena sejak kepergiannya ke pulau K dia belum ada mengabari adiknya.
Beberapa saat kemudian ia beranjak tidur, ia ingin sekali tidur panjang dan melupakan semuanya. Berharap besok pagi keadaannya akan berubah menjadi lebih baik.
kring
kring
Ponsel Nisa berdering nyaring, tapi karena rasa kantuknya ia abaikan begitu saja. Sudah enam kali terdengar panggilan di ponselnya itu, tetapi ia masih enggan untuk membuka matanya.
Ponselnya berdering lagi mau tidak mau dia membuka mata, di lihatnya jam diatas nakas sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sepertinya dia tertidur cukup lama hampir enam jam.
Dia meraih ponselnya dan melihat siapa yang sudah menggangu tidurnya, sejujurnya dia malas bangun dan mau tidur sampai pagi.
Di lihatnya nomor ponsel tanpa nama tertera di layar ponselnya, ia tidak tahu nomor siapa itu yang pasti bukan nomornya Austin. Walaupun dia sudah menghapus dari daftar kontak di ponselnya tapi ia masih menghafalnya.
"Iya hallo." Nisa menjawabnya dengan malas.
"Nis kamu lagi di mana ?" tanya si penelpon diseberang sana.
"ini siapa ?"
"Aku Aldo, Nis."
"Mau apa Al, aku sudah tidak ada urusan lagi dengan kalian."
__ADS_1
"Austin pingsan Nis."
"Aku sudah tidak perduli Al kalau pingsan kamu bawa saja ke rumah sakit, udah dulu ya aku tutup teleponnya."
"Nis tunggu sebentar tolong dengerin aku untuk kali ini saja, selama seminggu ini Austin seperti orang gila Nis. Dia sudah tidak punya semangat hidup lagi, setiap hari dia pergi ke Bar untuk mabuk-mabukan dan pulang hingga dini hari. Kerjaan di kantor pun dia tinggalkan, apa kamu tidak kasihan melihat dia seperti itu. Kalau kamu memang mau putus, kalian bisa putus baik-baik tanpa harus menyakiti."
Nisa hanya bisa diam mendengar penjelasan Aldo di telepon, apa benar Austin juga menderita seperti dirinya. Hingga dia tega menyakiti dirinya sendiri dengan mabuk-mabukan setiap hari.
Ada sebersit perasaan sedih di hatinya dan rasa tidak percaya, bagaimana bisa seorang Austin yang kaya raya bisa seperti itu gara-gara patah hati. Bukannya orang kaya selalu menganggap enteng tentang cinta kalaupun putus bisa cari perempuan lain lagi.
"Nis, Nisa ?" terdengar suara Aldo dari ujung telepon membuyarkan lamunannya.
"Kamu masih dengar gue kan Nis ?"
"i-iya Al."
"Kamu mau kan ke sini, untuk kali ini saja Nis. selesaikan masalah kalian baik-baik."
"Baiklah Al, tolong kirim alamatnya, aku akan kesana."
Nisa bingung mau kesana atau tidak, kalau ia tidak datang Austin pasti akan terus menyakiti dirinya sendiri, tapi kalau ia menemui Austin sekarang, itu berarti ia sudah mengingkari janjinya pada seseorang yang meneleponnya tadi sore.
Flashback on
Tadi sore setelah Nisa menghidupkan ponselnya, tak berapa lama ia menerima panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Sebenarnya ia malas menjawabnya tapi ia takut kalau yang telepon itu adiknya. Biasanya adiknya sering menelpon dirinya menggunakan ponsel teman-temannya sekolah ketika dia kehabisan pulsa.
"Hallo, Assalamualaikum." jawab Nisa.
"Apa ini dengan Anisa Rahman, karyawan De'Rose Cafe ?" ujar seorang laki-laki dari seberang telepon.
"ya tuan saya sendiri, maaf ini dengan siapa ?"
"Saya Michael Gunawan Papanya Austin."
__ADS_1
"i-iya tuan, ada yang...... " Nisa belum melanjutkan perkataannya tapi tuan Michael sudah menyelanya.
"Mulai sekarang kamu jahui anak saya, dia akan menikah dengan Felicya. Wanita miskin seperti kamu tidak cocok menjadi bagian keluarga kami, kalau kamu masih menggoda anak saya, saya tidak akan jamin keselamatan adik dan nenek kamu di kampung. Berjanjilah jangan menemui Austin lagi !!"
"i- iya tuan saya berjanji." ujar Nisa tampak gugup, ia mengkhawatirkan keluarganya di kampung.
Setelah sambungan telepon terputus Nisa langsung terduduk lemas, segera dia menelepon adiknya untuk menanyakan keadaannya.
Flashback off
Nisa menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu ia segera mengganti bajunya. Setelah itu ia bersiap-siap pergi karena ojek langganannya sudah menunggunya di depan.
Nisa memutuskan untuk pergi menemui Austin di Bar tersebut, ia ingin mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik. Sehingga di kemudian hari tidak akan ada perasaan dendam dan saling menyakiti.
Nisa menginginkan kehidupan yang normal seperti sebelum ia mengenal Austin, walaupun ia harus mengorbankan perasaannya. Karena ada adik dan neneknya yang harus ia lindungi.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, Nisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah Bar. Tempat yang sering ia dengar tapi tidak pernah ia kunjungi sebelumnya, kalau bukan karena Austin mungkin ia tidak akan pernah melangkahkan kakinya ke sana.
Pertama kali ia menginjakkan kakinya di Bar tersebut, nampak suasana tempat yang temaram dengan sedikit pencahayaan. Banyak meja dan kursi yang di penuhi oleh tamu yang sedang menikmati minumannya, terlihat ada beberapa perempuan sexy yang berlalu lalang.
Entahlah Nisa tidak terlalu fokus dengan tempat itu, ia segera menelepon Aldo dan mengabarkan kalau ia sudah sampai di tempat tersebut.
Tak berapa lama Aldo menghampiri Nisa yang terlihat duduk di meja bar yang di depannya ada seorang bartender yang sedang meracik minuman. Kemudian Aldo mengajaknya ke sebuah ruangan VIP disana.
Ketika baru masuk kedalam ruangan tersebut betapa kagetnya Nisa melihat keadaan Austin yang sedang tak sadarkan diri, dengan posisi duduk dan kepalanya bersandar di sofa.
Seorang Austin yang biasanya berpenampilan rapi dan menawan. Kini terlihat sangat menyedihkan dia tampak sedikit kurus dengan pakaian yang berantakan, rambut acak-acakan dan sedikit bulu di rahangnya yang mungkin sudah seminggu ini tidak di cukur.
Nisa segera menuju ke lemari pendingin yang ada di ruangan tersebut, dia mengambil sebotol air mineral dingin lalu membuka penutupnya. Lalu ia melangkahkan kakinya ke arah Austin dan mengguyurkan air mineral tersebut ke atas kepala Austin hingga mengenai baju kemejanya.
"Nis kamu apa-apaan sih ?" protes Aldo.
Tampak Austin mulai tersadar dan membuka mata, ia melihat gadis yang sudah ia rindukan itu sedang duduk di sampingnya. Dengan sekejap dia langsung memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Nisa membiarkan saja dirinya di peluk, mungkin itu adalah pelukan terakhir menurutnya. Beberapa saat kemudian Austin mulai merenggangkan pelukannya dan seketika ia jatuh tak sadarkan diri.