Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Kecewanya Nisa


__ADS_3

"Tom apa Nisa sudah menerima cek itu, bagaimana keadaannya apa baik-baik saja ?" cecar Austin ketika Tommy datang ke rumah keesokan harinya.


Tommy memberikan ponselnya dan memutar rekaman suara Nisa, yang kemarin sore dia rekam diam-diam atas perintah tuan Michael.


"Tom tolong katakan pada Austin, aku akan menggugurkan bayi ini dan mulai sekarang anggap aku dan bayi ini sudah mati." Terdengar isi rekaman suara Nisa.


Austin sangat murka ia langsung membanting ponsel itu ke lantai, hingga hancur menjadi beberapa bagian. Sedangkan Tommy hanya bisa pasrah melihat ponsel kesayangannya rusak.


"Apa dia sebenci itu sama aku Tom, hingga dia tega membunuh anaknya sendiri, buah cinta kami ?"


"Itulah kenyataannya bro, lebih baik kamu lupakan dia dan menata hati kamu untuk belajar mencintai Felicya." ujar Tommy meski hatinya sakit ketika mengucapkan kata-kata itu.


Dia harus berusaha menerima jika Felicya, wanita yang ia cintai akan segera menikah dengan sahabatnya sendiri.


Setelah Tommy pergi, Austin melayangkan tinjunya ke dinding yang ada di kamarnya dan berteriak kencang dengan segala umpatannya bercampur isak tangis. sepertinya dunia ini sudah tidak adil dengannya, ia benar-benar terpuruk saat ini.


Nyonya Celine tampak sangat sedih, selama dua puluh lima tahun ia membesarkan anaknya. Baru kali ini ia melihat anaknya begitu hancur karena seorang wanita.


"Pa, Mama tidak tega melihat Austin seperti itu." ujar Nyonya Celine ketika menghampiri suaminya yang sedang membaca koran harian.


"Sudahlah Ma nanti juga dia akan baik sendiri dan saat itu tiba dia akan berterima kasih pada Papa karena sudah membawanya ke jalur yang benar." ucap tuan Michael santai.


Ada raut kesedihan di wajah nyonya Celine, apalagi kalau ingat dengan calon cucunya. Setelah mendengar Nisa hamil, sebenarnya nyonya Celine sangat senang karena ia akan mempunyai seorang cucu.


Walaupun bukan dari rahim Felicya yang selama ini ia harapkan menjadi menantunya, tapi kebahagiaan itu sirna akan keegoisan suaminya, yang selalu menganggap reputasi lebih penting di atas segalanya.


Sementara itu Nisa sekarang sudah tinggal di rumah Fajar, Fajar ingin melindungi Nisa dan anak yang di kandungnya dari keluarga Gunawan yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatannya.


ceklekk

__ADS_1


Suara pintu terbuka, dari pagi Fajar sudah berulang kali mengetuk pintu kamar Nisa tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalam kamar tersebut. Karena kawatir lalu ia mengambil kunci cadangan.


Nisa sebenarnya sudah bangun dari subuh, tapi ia enggan untuk bangun. Ia benar-benar tidak mempunyai semangat untuk hidup. Sepanjang malam ia habiskan untuk menangis, bahkan ia sempat berfikir untuk menghabisi nyawanya sendiri, tapi niat itu ia urungkan ketika mengingat nenek dan Adiknya di kampung.


Fajar membuka pintu kamar itu, di lihatnya Nisa sedang duduk meringkuk dengan kedua tangan memeluk lututnya. Sangat terlihat menyedihkan bagi Fajar, sosok Nisa yang ia kenal sangat tegar dan ceria kini seperti mayat hidup. Kulitnya putih pucat seakan tak teraliri darah.


"Nis...?" Fajar mendekat membawa nampan berisi makanan.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini, air mata mu terlalu berharga untuk menangisi baj****n itu."


"Kamu harus bangkit demi anak kamu, Mas akan selalu bersamamu." ujar Fajar kemudian dia membawa nampan berisi makanan itu ke hadapan Nisa.


"Ayo makan, mau Mas suapi ?"


"Nisa bisa sendiri Mas." Nisa mengambil sepiring nasi beserta lauk pauk dan sayuran.


Nisa mulai memakannya, ia merasa apa yang di katakan Fajar memang benar. Buat apa ia memikirkan seseorang yang tidak perduli lagi dengannya. Masih ada Fajar dan keluarganya di kampung yang masih menyayanginya.


☆☆


Satu bulan telah berlalu, selama itu pula Fajar melarang Nisa untuk keluar rumah. Karena yang di takutkan Fajar benar terjadi, orang-orang suruhan keluarga Gunawan sedang mencarinya. Mereka mencari ke Cafe bahkan menggeledah kost Nisa yang dulu dia tempati.


Berkat dukungan dari Fajar, keadaan Nisa sekarang sudah jauh lebih baik, sudah ceria seperti dulu lagi. Dia belajar untuk melupakan masa lalunya bersama Austin dan menganggap bayinya adalah Anugerah dari Tuhan dan ia akan selalu menjaganya bahkan dengan nyawanya sekalipun.


"Maafin Ibu ya nak, dulu pernah tak menyayangimu bahkan ibu mau membuangmu. Tapi sekarang kamu segalanya buat ibu." ucap Nisa dengan mengelus perutnya yang sedikit membuncit lalu dia berusaha untuk tidur. Beberapa saat kemudian ia sudah terlelap.


tokk


tokk

__ADS_1


"Non, tuan Fajar Non tolong." terdengar suara bik Surti ART di rumah Fajar.


Nisa membuka pintu dengan mata yang masih mengantuk. "Ada apa Bik ?"


"itu Non, Tuan Fajar pingsan di ruang kerjanya"


Setengah berlari Nisa menuruni anak tangga seakan lupa kalau dirinya sedang hamil, setelah sampai di ruang tersebut ia melihat Fajar sedang terbaring di lantai tak sadarkan diri. Segera Nisa menelepon ambulan dan membawanya ke rumah sakit.


"Dok, bagaimana keadaan kakak saya ?" tanya Nisa setelah dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Sepertinya keadaan tuan Fajar semakin melemah, dia harus melakukan transplantasi hati segera. kalau tidak, nyawanya tidak akan bertahan lama." ujar dokter menjelaskan.


Nisa tampak shock, bagaimana bisa ia tidak tahu padahal hampir setiap hari mereka bersama. "Kalau boleh tahu sudah berapa lama beliau sakit dok ?"


Dokter melihat ke dalam catatan riwayat pasien.


"sekitar lima bulan yang lalu, tapi beliau bersikeras menolak melakukan transplantasi hati."


"Baik dok terimakasih, saya akan mencoba membujuknya".


Setelah itu Nisa masuk ke dalam ruang perawatan Fajar, di lihatnya Fajar sedang terbaring lemah di atas ranjang dengan selang infus yang menancap di tangannya.


"Mas kenapa sembunyikan semuanya dari Nisa ?" ujar Nisa lirih dengan menggenggam tangan Fajar, yang masih belum sadarkan diri.


"Kalau mas bersedia melakukan transplantasi itu, Nisa rela mendonorkan hati Nisa buat mas."


Nisa merasa sangat bersalah, ia terlalu sibuk memikirkan masalahnya sendiri hingga lupa memperhatikan kesehatan Fajar. Padahal ia tahu beberapa bulan terakhir ini, Fajar kelihatan kurang sehat.


Sedangkan di tempat lain tuan Michael terlihat sedang menghubungi seseorang. "Segera temukan wanita itu dan pastikan dia sudah melenyapkan bayinya, saya tidak mau anak itu lahir dan membuat masalah di keluarga Gunawan." perintahnya kepada orang yang di telepon itu.

__ADS_1


"Sudah satu bulan lebih wanita itu menghilang tanpa jejak, semoga dia sudah lenyap bersama anak yang di kandungnya itu." batin tuan Michael.


Sedangkan Austin sudah tinggal di luar negeri dan menikah dengan Felicya sesuai keinginannya ayahnya. Selain mengambil pascasarjananya, ia juga mengurus cabang perusahaan ayahnya di sana.


__ADS_2