
" Sayang sepertinya nanti malam aku pulang terlambat, kamu tidur duluan ya jangan menungguku." ujar Austin ketika Nisa mengantarnya keluar.
" Apa aku boleh jalan-jalan sama King. Aku ingin membelikannya beberapa pakaian, sepertinya anak kita cepat sekali besar."
" Boleh sayang, asal sama supir dan beberapa pengawal yang menjagamu." sahut Austin seraya mencium seluruh wajah istrinya, kemudian ia masuk kedalam mobil.
" Wir, apa kamu sudah menyelidiki hubungan istriku dan Ronald dimasa lalu." tanya Austin ketika mobilnya mulai melaju.
" Sudah tuan, nona Nisa adalah cinta pertamanya tuan Ronald. Karena beliau di tolak berkali kali makanya beliau menjadi playboy hanya untuk menarik perhatian nona Nisa waktu itu." ujar Wira.
" Baiklah Wir, terus awasi dia."
" Baik tuan." sahut Wira dari balik kemudinya.
Mobil Austin terus melaju kencang menuju Airport, karena hari ini dia ada meeting diluar kota.
Siang harinya Nisa bersama king berjalan jalan di salah satu Mall milik suaminya, tapi ia sedikitpun tidak menggunakan nama suaminya. Ia ingin diperlakukan seperti pengunjung lainnya.
Nisa terlihat memilih beberapa pakaian anak, disalah satu outlet khusus anak-anak. Setelah itu ia menemani anaknya itu bermain di playground.
" Sayang, mami beli minum dulu ya jangan keluar sebelum mami datang. oke."
" Baik mi." ujar bocah berusia enam tahun itu kemudian ia masuk kedalam playground tempat ia bermain.
Ketika Nisa melangkahkan kakinya untuk mencari stand minuman yang ada di Mall itu, ia tampak terkejut ketika ada seseorang menarik tangannya dari belakang dengan kasar.
" Hei wanita ******." seru Felicya.
Salah seorang pengawal yang mengikutinya ingin mendekat, tapi Nisa mengisyaratkan dengan matanya agar pengawal itu tetap berdiri di tempatnya.
" Ada apa nona Feli ?"
" Wanita kampungan berani sekali kamu merebut suamiku." teriak Felicya.
" Maaf nona, dari awal Austin adalah milikku. Sejauh mana dia pergi, pasti akan kembali pada pemiliknya."
" Kamu yakin dia sepenuhnya milikmu ?" ujar Felicya dengan pandangan mengejek.
" Apa kamu tidak penasaran dengan kehidupan Austin dengan para wanitanya selama di Jerman ?" lanjut Felicya lagi.
" Saya tidak perduli dengan masa lalu suami saya." ujar Nisa lalu berjalan meninggalkan Felicya yang masih tidak bergeming dari tempatnya.
" Bagaimana kalau masa lalu itu berlanjut ke masa depan." teriak Felicya.
" Maksud kamu ?" Nisa yang sudah berjalan beberapa langkah langsung berhenti.
" Awasi saja suamimu itu." ujar Felicya kemudian berlalu pergi dengan senyuman menyeringai.
Nisa sedikit tersentak dengan ucapan Felicya, tapi ia segera mengondisikan pikirannya. Ia yakin suaminya tidak akan menghianatinya, kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi mencari minuman untuk anaknya.
__ADS_1
Matahari sudah tenggelam keperaduannya, menunjukkan hari sudah mulai gelap. Sedangkan Nisa dan anaknya baru saja keluar dari pusat perbelanjaan lima lantai itu. Sepertinya hari ini sangat menyenangkan baginya bisa menghabiskan weekend bersama anaknya.
Nisa menyadari suaminya adalah seorang CEO di perusahaan besar, sehingga weekend pun dia harus bekerja dan dia tidak akan menuntut banyak hal dari suaminya itu.
Sesampainya dirumah, Nisa langsung membersihkan diri dan segera beristirahat. Menemani King yang sedang aktif aktifnya membuatnya sangat kelelahan.
Ketika ia akan memejamkan matanya, sepintas ia mengingat perkataan Felicya di Mall tadi. Tapi ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu, ia tidak akan membiarkan mantan istri dari suaminya itu memprovokasi dirinya.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, tampak Austin dan Wira baru keluar dari Airport setelah melakukan kunjungan ke cabang perusahaannya diluar kota.
" Wir, apa yang dilakukan istriku seharian ?" tanya Austin ketika dalam perjalanan menuju rumahnya.
" Tadi setelah menjemput tuan muda King di sekolah, beliau langsung menuju Mall xx tuan."
" Apa saja yang mereka lakukan disana ?" tanya Austin tampak penasaran.
" Nona berbelanja baju anak-anak tuan dan menemani tuan muda King bermain di playground."
" Itu saja ?"
" Sepertinya nona juga bertemu dengan nona Felicya secara tidak sengaja."
" Apa yang dilakukan wanita itu disana, apa dia menyakiti istriku ?" tanya Austin sedikit emosi.
" Sepertinya mereka hanya berbicara tuan."
" Sepertinya tentang kehidupan anda di luar negeri dulu tuan, tapi sepertinya nona Nisa tidak menanggapinya."
" Kamu awasi Felicya terus jangan biarkan dia mendekati istriku lagi." ujar Austin dengan menekankan kata katanya.
" Baik tuan saya mengerti."
☆☆
Keesokan harinya
Matahari mulai beranjak dari peraduannya, memancarkan sinarnya melewati cela-cela horden yang tak tertutup rapat. Hingga membuat Nisa mengerjapkan matanya beberapa kali, meski rasa kantuk masih melanda ia terpaksa membuka matanya.
Nisa melihat suaminya masih terlelap disampingnya, dengan tangan kekarnya yang masih memeluk erat dirinya. Ia memperhatikan wajah laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu dengan intens, kadang ia masih tak percaya kalau mereka sudah menikah.
Nisa memindahkan tangan suaminya yang melingkar di perutnya itu dengan pelan, agar ia tak membangunkannya. Tetapi karena merasakan ada pergerakan disampingnya, Austin langsung membuka matanya.
" Sayang sudah bangun ?" tampak Austin mengusap usap matanya untuk menghilangkan rasa kantuknya.
" Maaf ya semalam aku ketiduran."
" Tidak apa-apa." sahut Austin.
" Kamu pulang pukul berapa ?"
__ADS_1
" Sekitar jam dua belas, bagaimana jalan jalannya apa kamu senang." tanya Austin.
" Sangat senang, King benar-benar sangat aktif sedikitpun tidak punya rasa lelah."
" Kalian ngapain saja ?"
" Belanja baju, main di playground dan pergi makan."
" Itu saja ?" tampak Austin mengernyitkan dahinya.
" Iya."
" Kenapa kamu tidak cerita kalau bertemu Felicya." gumam Austin.
" Apa kamu sudah mulai betah tinggal disini ?" tanya Austin lagi, ia masih mendekap istrinya itu.
" Kadang aku merasa bosan kalau mama meninggalkanku ke salonnya." ucap Nisa tampak ia memainkan bulu-bulu halus di dada bidang suaminya itu.
" Kenapa kamu tidak mencoba ikut mama."
" Aku tidak suka melihat pria-pria gemulai disana, mending kamu suruh aku ke boxing gym."
" No, kamu sudah ada pengawal. Aku tidak mau kamu melakukan hal berbahaya lagi, lebih baik simpan tenagamu untuk olahraga kita." ujar Austin kali ini ia sedikit menjauhkan tubuh istrinya itu agar bisa melihat wajahnya.
Nisa tampak mengerutkan dahinya, " memang apa olahraga kita ?"
" Kamu mau tahu ?"
" Hmmm."
Austin tampak gemas melihat istrinya itu, tak menunggu lama ia sudah melahap bibir mungil itu dengan rakus.
" Austin aku mau mandi." rengek Nisa ketika suaminya itu sudah melepaskan panggutannya.
" Baiklah kita akan mandi berdua." ujar Austin ia segera beranjak dari ranjangnya dan langsung membopong tubuh istrinya itu ke kamar mandi.
" Austin aku mau mandi sendiri." teriak Nisa.
" Katanya kamu mau tahu olahraga kita, ayo kita lakukan di kamar mandi." ujar Austin setengah tertawa.
Sepertinya mereka akan memulai pemanasan di pagi hari sebelum melanjutkan rutinitasnya kembali.
Satu jam kemudian mereka baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono melekat di badannya.
" Sayang hari ini aku free. Kamu mau kemana, nanti aku akan temani." ujar Austin ketika mereka sedang bersantai di sofa kamarnya.
" Sepertinya aku dirumah saja, olahraga bersamamu sangat melelahkan." cebik Nisa tampak ia bersandar di bantalan sofa.
" Itu baru pemanasan sayang." celetuk Austin dengan tertawa.
__ADS_1