Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
three months later


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Nisa belum juga sadar dari komanya, selama itupun Austin tidak pernah beranjak dari sisihnya. Bahkan pekerjaan kantor pun kini ia tinggalkan, tubuhnya begitu tampak kurus dan penampilannya sangat berantakan.


Ia merasa separuh jiwanya telah pergi, setelah anak laki lakinya itu meninggalkannya kini istrinya itupun masih harus berjuang untuk hidup.


"Tuan anak anda begitu aktif dan sangat sehat ini sebuah keajaiban." seorang dokter spesialis anak sedang mengecek kesehatan bayi mungil itu, setelah satu bulan didalam inkubator.


Austin memberinya nama Aline yang berarti sangat berharga. Karena ia lahir dengan selamat ditengah musibah.


"Jadi hari ini cucu saya sudah bisa di bawa pulang dok ?" nyonya Celine tampak bahagia ketika melihat cucu perempuannya itu.


"Tentu saja nyonya." dokter itu dengan telaten mengganti bajunya Aline.


Setelah di pakaikan selimut tebal bayi itu langsung di gendong oleh nyonya Celine. "Kita lihat Mami ya Nak." ucap nyonya Celine kemudian keluar dari ruangan tersebut yang diikuti oleh Austin dan tuan Michael.


Setelah masuk ke ruangan dimana Nisa dirawat, nyonya Celine meletakkan bayinya itu disisih ibunya. "Sayang ayo bangun. Lihatlah, anak kita sangat merindukan mu." ujar Austin ia tampak sedih karena sedikitpun tidak ada respon dari istrinya itu.


Ketika Aline menangis dengan nyaring tampak Nisa menggerakkan jari jarinya." Ma, lihat Ma. Nisa menggerakkan jarinya." Austi berteriak Kemudian ia segera keluar untuk memanggil dokter.


"Dok bagaimana keadaan istriku, dia tadi menggerakkan jarinya ?" Austin tampak senang karena ia merasa ada secercah harapan.


"Sepertinya dengan kehadiran bayinya saraf otaknya mulai terangsang tuan, tapi untuk seumuran bayi anda apa lagi lahir secara prematur tidak akan baik untuk kesehatannya jika terlalu lama disini."


"Baik dok kami akan segera membawa pulang dan besok kami akan kembali lagi." ujar nyonya Celine, kemudian setelah itu beliau segera pergi meninggalkan ruangan tersebut karena cucunya sudah mulai kehausan.


☆☆☆


Tiga bulan berlalu sejak kecelakaan tragis itu, Austin sudah bisa menerima kenyataan bahwa anak laki - lakinya itu telah tiada. Ia berusaha tegar meski istrinya itupun sampai sekarang belum juga bangun dari tidur panjangnya.


"Mami, King sudah tidak takut lagi. Mami sekarang pulang saja, kasihan adik bayi dia merindukan Mami." tampak King kecil sedang duduk disebuah taman dengan ibunya.


"Mami mau disini bersamamu Nak."


"Pergilah Mi." King tampak tersenyum kemudian ia hilang bersama kabut yang menyelimutinya.


"King, sayang." Nisa berteriak hingga nampak peluh keringat di dahinya, matanya tampak mengerjap ngerjap dan dengan pelan ia membuka matanya.


"Sayang." Austin yang sedang tertidur di kursi sampingnya tampak kaget mendengar teriakan Nisa.


"Sayang kamu sudah bangun." Austin menggenggam tangan istrinya dengan erat, ia tampak sangat bahagia.

__ADS_1


"Austin." Nisa tersenyum ketika melihat suaminya itu.


"Iya sayang ini aku." Austin mengecup seluruh wajah istrinya itu dan segera memeluknya, ia begitu merindukannya.


"Aku dimana ?" Mata Nisa melihat keseluruh ruangan tersebut.


"Sebentar ya aku panggilkan dokter." Kemudian Austin bergegas memanggil dokter yang jaga malam itu.


"Dok bagaimana keadaan istri saya ?" tanya Austin ketika dokter itu selesai memeriksanya.


"Sepertinya keadaan nona Nisa sudah sepenuhnya sadar, tapi besok pagi kami akan melakukan beberapa tes lagi dan saat ini jangan membuatnya stres dulu."


"Baik dok terima kasih." ucap Austin ketika dokter itu akan meninggalkan ruangannya.


"Austin dimana bayiku ?" Nisa memegang perutnya yang sudah rata.


"Ada sayang, besok Mama akan membawanya kemari."


"Lalu King dimana ?"


"Besok kita akan bertemu dengan anak - anak kita sayang, sekarang kamu istirahat ya. Mau aku temani ?"


Keesokan paginya


"Pagi sayang." sapa Austin ketika ia baru keluar dari kamar mandi dan segera menghampiri istrinya yang sepertinya baru saja bangun tidur.


"Austin apa kita bisa pulang dari sini, aku sangat merindukan anak - anakku." Nisa tampak mengiba pada suaminya itu.


"Kita tunggu hasil pemeriksaannya ya sayang."


"Tapi aku merasa sangat sehat Austin."


Tak berapa lama kemudian seorang dokter masuk kedalam ruangannya. "Selamat pagi tuan dan nyonya."


"Dok, apa saya boleh pulang ?"


"Tentu saja nyonya, anda sudah terlalu lama berbaring disini." dokter itu nampak bercanda.


"Memang saya sudah berapa lama disini ?"

__ADS_1


"Tiga bulan sayang."


"Selama itu, kenapa kamu tidak bilang. Apa bayiku sudah besar ?"


"Tentu saja sayang, dia sangat lucu dan menggemaskan."


"Benarkah ?"


"Iya dia seperti mu, sangat lincah dan tidak bisa diam."


"Aku tidak seperti itu Austin, lalu King apa dia baik - baik saja ?"


"Nanti ya sayang di rumah kita akan bertemu dengan anak - anak kita." Austin mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya.


Beberapa saat kemudian Nisa dan Austin meninggalkan rumah sakit. Setelah sampai rumah Nisa bergegas menuju kamar King, tapi kamar itu masih tampak rapi dan tidak ada sosok anaknya disana.


"King dimana kamu sayang." Nisa memanggil manggil anaknya itu.


"Austin dimana King ?" Nisa menghampiri suaminya itu yang sedari tadi memperhatikannya.


"Sayang sini, ada yang mau ku bicarakan." Austin menuntun istrinya itu untuk duduk di sofa yang ada di ruang keluarganya.


"Ada apa, apa tentang King dimana dia ?"


Austin memegang kedua bahu istrinya itu dan menatap manik matanya dengan lembut. "King, anak kita sudah tiada sayang. Anak kita meninggal dalam kecelakaan itu."


"Anakku, itu tidak mungkin. Kamu pasti bohongkan, papa itu tidak benarkan ?" Nisa bertanya pada ayah mertuanya itu yang sedang duduk di hadapannya.


"Benar Nak, maafkan papa. Ini semua salah papa, papa pantas menerima hukuman." lagi - lagi pria tua itu tampak menyesali perbuatannya dimasa lampau.


"King, anakku." Nisa menangis histeris, dia tidak bisa membayangkan akan kehilangan anak kesayangannya.


"Sayang kamu harus tegar ya Nak, tidak semua yang kita miliki akan kita miliki selamanya. Kamu harus belajar mengikhlaskannya." kali ini nyonya Celine berusaha menenangkan anak menantunya itu dengan merengkuhnya kedalam pelukannya.


Tak berapa lama setelah Nisa merasa tenang, nampak seorang wanita dengan seragam pengasuh membawa seorang bayi kecil berusia tiga bulan tampak menggemaskan dengan pipinya yang gembul.


"Sayang, apa kamu tidak ingin menggendong bayi kita yang lucu ini." Austin menggendong Aline dan membawanya duduk disamping Nisa.


Nisa yang masih tampak sedih dengan mata yang sembab, seketika ia langsung merengkuh bayi mungil itu dan mendekapnya dengan erat.

__ADS_1


Aline merasa nyaman dalam pelukan ibunya, ketika melihat wajah ibunya bayi kecil itu tampak tertawa menggemaskan dan itu membuat raut wajah Nisa tampak sedikit bahagia.


__ADS_2