Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Menikah lagi ??


__ADS_3

Malam itu Nisa dan keluarganya sedang bercengkrama di ruang keluarga, setelah mereka baru menyelesaikan malam malamnya. Austin tampak duduk disamping istrinya dan memainkan ponselnya, sedangkan ibu mertuanya terlihat serius menonton drama korea di televisi. Kalau tuan Michael jangan ditanya lagi, beliau selalu lengket dengan cucunya itu.


"Austin boleh tidak aku bicara, kebetulan ada Mama dan Papa disini." Nisa mencoba memulai pembicaraan.


"Kenapa sayang ?" Austin yang sedari tadi sibuk main game di ponselnya, kini ia menatap istrinya itu.


"Sebenarnya masalah ini mengusik pikiranku akhir - akhir ini." Nisa tampak diam sejenak, sepertinya ia sedang menyusun kata - kata yang tepat untuk ia lontarkan.


"Ada apa sayang, jangan membuatku penasaran." Austin nampak tidak sabar menunggu istrinya yang sedang diam itu.


Nisa menarik napas panjang lalu ia hembuskan kemudian ia mulai berbicara. "Austin, Papa dan Mama. Kalian pasti sudah tahu kalau rahimku sudah tidak sempurna lagi dan kalian juga pasti menginginkan seorang anak laki - laki sebagai penerus keluarga ini, jadi aku tidak keberatan kalau Austin menikah lagi untuk mendapatkan seorang keturunan."


"Apa kamu bilang, jadi kamu rela jika aku bersama wanita lain. Hah, pikiran mu itu terlalu picik." sentak Austin tiba - tiba, ia menatap tajam istrinya kemudian ia berlalu pergi meninggalkannya.


Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibanting dengan keras. Hingga Nisa tampak sedikit terlonjak, seketika ia memegang dadanya yang sedari tadi jantungnya berdetak tak beraturan.


"Kenapa dia jadi semarah itu." gumam Nisa ia tampak terkejut karena sejak mereka menikah, baru kali ini ia melihat suaminya seemosi itu hingga sampai membanting pintu.


"Ma, apa Nisa ada salah bicara. Nisa cuma mengeluarkan segala uneg - uneg di hati Nisa." kali ini Nisa bertanya pada ibu mertuanya itu tentang kesalahannya yang membuat suaminya semarah itu, ia berharap ibu mertuanya itu mempunyai jawabannya.


"Tentu saja kamu bersalah." Tuan Michael yang sedari tadi menjadi pendengar sambil bermain dengan Aline, kini ia mulai berbicara.


"Kamu tahu Nak, kami sudah banyak membuatmu menderita. Papa tidak masalah kalau penerus keluarga papa harus seorang wanita, kamu tahu mantan presiden kita dulu juga seorang wanita bahkan banyak pemimpin perusahaan juga seorang wanita."


"Tapi pa..." Nisa belum menyelesaikan perkataannya tapi ayah mertuanya itu sudah menyelanya.


"Kita akan bersama sama mendidik anak ini menjadi penerus keluarga Gunawan, Papa yakin Aline akan tumbuh menjadi wanita yang kuat seperti kamu. Bukannya kamu juga ahli dalam memimpin perusahaan, bahkan tanpa Papa sangka kamu juga bisa mendirikan sebuah perusahaan sendiri."

__ADS_1


"Benar Nak, Mama juga sudah sayang sama kamu seperti anak mama sendiri. Jadi jangan pernah berpikir yang macam - macam." kali ini nyonya Celine yang menimpali.


"Terima kasih Ma." Nisa memeluk ibu mertuanya itu.


"Ya sudah sana. Bujuk suamimu, sepertinya dia sangat marah padamu." ujar Tuan Michael seraya menggendong Aline.


"Benarkah Pa, Austin semarah itu ?"


"Tentu saja Nak. Anak itu merasa, kamu sudah mencampakkannya." ujar Tuan Michael kemudian ia berlalu pergi dengan membawa Aline bersamanya.


"Baiklah Ma, aku keatas dulu."


"Iya buruan, daripada kamu nanti tidur di luar." ibu mertuanya itu tampak meledeknya.


"Issshhh Mama." Nisa tampak malu, kemudian ia bergegas pergi ke kamarnya.


Kemudian Nisa melangkahkan kakinya dan mendudukkan badannya disamping suaminya itu. " Austin kamu marah ?" Nisa menatap lekat suaminya, tapi laki - laki itu sedikitpun tak bergeming matanya masih fokus dengan surat kabar tersebut.


"Austin maaf." ucap Nisa lirih ia tampak mengiba pada suaminya.


Austin menatap sejenak wanita di depannya itu, sebelum ia memulai berbicara. " Apa kamu sudah bosan dengan ku dan tidak mencintaiku lagi." Austin menatap manik istrinya itu untuk mencari jawaban atas kekesalannya.


"Bukan begitu Austin. Aku sangat mencintaimu, tapi..." Nisa belum menyelesaikan perkataannya tapi Austin sudah menyelanya.


"Kalau begitu kenapa kamu rela jika aku bersama wanita lain, apa kamu mau mencampakkan ku hah ?" Austin tampak marah ia meninggikan suaranya.


"Tidak seperti itu, yang kamu katakan itu salah." Nisa memegang lengan suaminya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


"Lalu ?" Austin menatap wajah istrinya, ia berusaha untuk menyembunyikan rasa kasihan terhadap wanita di depannya itu sebelum ia mendapat jawabannya.


"Aku bukanlah wanita yang sempurna lagi, meski rahimku masih ada tapi ovariumku hanya tinggal satu jadi kemungkinan untuk hamil lagi itu sangat susah."


"Siapa yang mau punya anak lagi, aku tidak menginginkannya." ucap Austin tegas matanya masih menatap istrinya.


"Tapi...." Nisa belum menyelesaikan perkataannya lagi - lagi Austin menyelanya.


"Kalaupun aku mau, kita bisa membuat bayi tabung. Tapi aku tidak menginginkannya, kamu tahu kenapa ?" Nisa hanya menggelengkan kepalanya ketika suaminya itu bertanya padanya.


Kemudian Austin menarik napasnya lalu membuangnya dengan kasar, lalu ia melanjutkan berbicara lagi.


"Kamu tahu, selama tiga bulan kamu mengalami koma. Selama itu pula aku menemanimu, sedikitpun aku tidak pernah beranjak dari sisihmu. Setiap hari aku habiskan waktuku disana, melihatmu dengan berbagai macam alat yang menempel di badanmu. Aku berusaha tegar padahal setiap hari aku diliputi rasa ketakutan ketika melihatmu tidak bangun - bangun. Itu membuatku jadi trauma, aku berharap aku tidak akan menginjakkan kakiku di tempat itu lagi."


"Austin maaf." Nisa memeluk suaminya itu.


"Jadi aku takkan membiarkanmu sakit lagi, aku bersyukur meskipun hanya mempunyai satu orang anak. Kita akan bersama sama mendidik anak kita menjadi anak yang baik dan berguna buat semua orang." ujar Austin seraya memegang kedua bahu istrinya dan menatapnya agar istrinya itu memahami keinginannya.


"Maafkan aku sudah membuat kamu seperti ini."


"Ssssttt. Kamu tidak bersalah ini semua sudah menjadi kehendak di Atas." Austin menempelkan jari telunjuknya di bibir Nisa agar istrinya itu berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Sejak kepergian anak kita, aku menyadari bahwa kematian itu sangat dekat dengan kita. Kapanpun itu kita bisa mengalaminya tidak perduli berapa usia kita, karena itu di sisa umurku ini aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu dan anak kita."


"Terima kasih Austin, aku janji akan menjadi istri yang baik buat kamu dan ibu yang baik buat anak kita."


"Kamu sudah menjadi istri dan ibu yang baik, aku yang belum baik menjadi seorang suami dan ayah. Aku selalu habiskan waktuku hanya untuk mencari uang dan uang tanpa memperdulikan keluargaku, hingga anak laki - laki kita menjadi korbannya."

__ADS_1


"Mulai sekarang waktuku akan lebih banyak buat kalian, aku janji." ujar Austin lagi dengan tegas kemudian ia memeluk istrinya dengan erat.


__ADS_2