
"Austin apa benar itu mereka ?" Nisa mengucek matanya untuk meyakinkan penglihatannya.
"Apa sih sayang."
"Itu !" Nisa menunjuk ke arah Baby Shop dimana ada Wira dan Nindy yang tampak mesra dengan bergandengan tangan.
"Sepertinya ada yang sedang berkhianat." Austin bergegas melangkahkan kakinya masuk kedalam toko tersebut, namun baru beberapa langkah Nisa sudah menarik lengannya kembali.
"Austin tunggu dulu, apa maksud kamu berkhianat. Kamu dengan tuan Wira tidak sedang....." Nisa menghentikan perkataannya, ia hanya menautkan kedua jari telunjuknya di hadapan suaminya.
"Astaga sayang, memang kamu sedang mikir apa ?" Austin menyentil dahi istrinya pelan.
"Habis kamu bertingkah seperti seorang pria yang sedang memergoki kekasihnya berselingkuh."
"Suamimu ini masih normal sayang, dari kecil bahkan dari orok aku dan Wira sudah hidup bersama. Kami juga bersekolah di tempat yang sama, ia sudah seperti saudaraku. Sejak dulu dia tidak pernah tertarik dengan seorang wanita, mungkin pacaran saja tidak pernah."
"Bagaimana mau pacaran dia itu seperti robot." celetuk Nisa.
"Jadi kamu tidak mencurigaiku lagikan, suamimu ini laki - laki tulen sayang." Austin menggoda Nisa dengan mendekatkan wajahnya seakan - akan ia mau menciumnya.
"Austin, ini tempat umum jangan mesum seperti itu." Nisa menjauhkan wajah suaminya dengan tangannya, agar ia tidak bisa menciumnya di depan umum.
Kemudian Nisa menarik lengan suaminya untuk segera masuk kedalam Baby Shop tersebut.
Ehhmmm
Suara deheman Austin mengagetkan Wira dan Nindy yang sedang berdiri memunggunginya. "Tuan, anda disini ?" Wira tampak salah tingkah, ia segera melepaskan genggaman tangan Nindy dan sedikit menjauh dari wanita tersebut.
"Bu." Melihat bossnya itu Nindy langsung berjalan kearah Nisa dan segera memeluknya.
"Bisa kamu jelaskan semua ini !" Austin sudah menatap tajam pada Wira.
"Austin bagaimana kalau kita cari tempat yang enak buat duduk, kamu tidak kasihan sama anak kita sepertinya ia sedang haus." Nisa menatap suaminya kemudian anaknya, bocah kecil itu tampak bengong tidak mengerti dengan pembicaraan beberapa orang dewasa di depannya.
"Iya sayang, iya." Kemudian Austin mendorong stroller anaknya dan melangkah keluar dari toko tersebut yang di ikuti oleh Wira dan Nindy di belakangnya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di salah satu Food Court di Mall tersebut. "Tuan, apa anda mau kalau tempat ini di tutup sementara untuk umum. Biar anda dan nona Nisa bisa nyaman berada disini." ujar Wira setelah mereka duduk disana.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Wira, sekarang kau harus menjelaskan semuanya !" tatapan Austin sama tajamnya seperti tadi.
"Sebenarnya kami sudah menikah tuan." ucap Wira dengan tegas.
__ADS_1
"Apaaaa." Nisa dan Austin tampak sangat terkejut, sedangkan Nindy ia terlihat malu.
"Benar tuan. Saya tidak mau dia meninggalkan saya, apalagi harus mencarinya bertahun tahun itu sangat melelahkan."
"Kamu sedang tidak menyindirku kan ?" Austin memicingkan matanya pada Wira.
"Maaf tuan, saya tidak berani seperti itu." ucap Wira dengan santai dan wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Tapi kamu memang sedang menyindirku." Austin tampak geram.
"Baguslah kalau tuan sudah menyadari, saya hanya tidak mau ribet menjalani hidup." ucap Wira tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Kau ?" Austin mendengus kesal.
"Austin." Nisa langsung menarik lengan suaminya agar mendekat dengannya, ia takut dua pria itu akan baku hantam di tempat umum.
"Baiklah aku memaafkan mu, karena istri mu adalah orang kepercayaan istriku."
"Terima kasih tuan." ucap Wira tampak smirk kecil di bibirnya.
"Lagipula kenapa kalian menikah tanpa memberitahukan ku, aku bisa membuatkan mu pesta yang sangat meriah. Apa Jangan - jangan kamu sudah membuatnya hamil." Austin memicingkan matanya.
"Jadi kalian sudah selama itu menikah, tapi aku sama sekali tidak tahu ?" Lagi - lagi Austin mendengus kesal.
"Sekali lagi saya minta maaf tuan."
"Nindy, kamu anggap aku siapa sampai moment penting pun kamu tidak mau berbagi denganku." Kali ini Nisa yang menimpali.
"Maaf bu, semua serba mendadak." ucap Nindy dengan mimik menyesal.
"Kalau begitu ceritakan, bagaimana awal mula kalian bisa memutuskan menikah." ujar Nisa lagi.
Nindy diam sejenak, kemudian ia menatap Wira, setelah mendapatkan anggukan dari suaminya ia mulai bercerita.
Flash back on
Setelah beberapa hari menemani Nisa yang sedang hamil muda, Nindy memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di pulau K. Siang itu Austin menyuruh Wira untuk mengantar Nindy ke bandara.
"Maaf tuan sudah merepotkan anda." ucap Nindy kepada pria di sampingnya itu yang masih fokus dengan kemudinya.
Wira hanya diam saja sedikitpun tak menghiraukan Nindy yang berada di sampingnya, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Anda tidak dengar tuan ?" Nindy agak meninggikan suaranya.
Wira masih tidak bergeming, pandangannya masih fokus ke depan.
"Kalau orang tanya itu di jawab, benar kata nona Nisa anda itu seperti robot." Nindy mendengus kesal.
Seketika Wira mendadak menghentikan mobilnya di tepi jalan, hingga membuat Nindy sedikit terhuyung. "Kamu jadi perempuan kenapa cerewet sekali." Wira menatap tajam perempuan yang ada disampingnya itu.
Melihat Wira menatapnya dengan intens, membuat Nindy merasa sedikit takut dan jantungnya juga berdebar debar. "Duh, apa dia marah. Meski marah kadar kegantengannya sama sekali tidak berkurang." gumam Nindy.
Wira semakin mendekatkan wajahnya, tidak perduli dengan reaksi wanita yang ada di sampingnya itu sedang ketakutan.
"Apa kamu mau menikah denganku ?" ucap Wira dengan tegas.
"What, dia sedang melamarku. Tidak, sepertinya aku sedang berhalusinasi." gumam Nindy.
"Maaf tuan saya tidak mengerti, maksud anda apa ya ?" Nindy semakin gugup ia sama sekali tidak bisa berpaling dari tatapan pria itu.
"Saya paling tidak suka mengulangi ucapan saya apalagi ada yang membantahnya. Jadi sekali lagi saya tanya, apa kamu mau menikah denganku ?" Wira masih belum mengalihkan pandangannya, ia semakin tajam menatap Nindy yang sudah berkeringat dingin.
"Astaga, dia sebenarnya sedang melamarku atau sedang mengancamku tidak romantis sekali. Tapi selama ini cowok yang dekat denganku selalu ditolak sama Ayahku, baiklah kalau pria ini bisa menaklukkan hati ayah aku akan menerimanya." gumam Nindy lagi.
"Orang tua saya pasti tidak akan menyetujui anda, Ayah saya sangat galak." ucap Nindy.
"Saya hanya butuh jawaban iya atau tidak !"
"i - iya, tapi anda harus berhadapan dengan ayah saya."
"Itu perkara mudah buatku." Kali ini tatapan Wira berangsur lembut menatap Nindy, ada senyum kecil di bibirnya.
"Dia sedang tersenyum padaku, apa ini bukan mimpi ?" gumam Nindy ia masih menatap Wira yang sekarang sudah mulai melajukan mobilnya kembali.
"Apa aku terlalu tampan, hingga kamu melihatku terus menerus." ujar Wira tapi pandangannya fokus ke depan.
"Ck. Anda terlalu percaya diri." Nindy mendengus kesal. Setelah itu keadaan menjadi hening dengan pemikiran masing - masing.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di bandara. "Terima kasih tuan sudah mengantar saya." Nindy sedikit membungkukkan badannya pada Wira kemudian dia berbalik badan dan meninggalkannya.
Ketika Nindy melangkahkan kakinya ke tempat check in, Wira langsung menarik koper yang dia bawa. "Tuan kenapa anda disini ?" Nindy tampak terkejut.
"Kita akan berangkat bersama." ucap Wira lalu ia menuju tempat check in tanpa memperdulikan Nindy yang masih kebingungan menatapnya.
__ADS_1