Cerita Cinta Nisa

Cerita Cinta Nisa
Berduka


__ADS_3

Sore itu langit tampak mendung dan rintikan hujan mulai membasahi tanah dan itu tak membuat Austin beranjak meninggalkan pusara anak laki - lakinya itu, meski para pelayat sudah dua jam yang lalu meninggalkan makam tersebut. Kini tinggal Austin dan Wira yang masih setia menemaninya.


Tampak sebuah nisan bertuliskan King Fajarsyah Gunawan tertancap disebuah gundukan tanah yang masih basah dengan dipenuhi taburan bunga.


"Tuhan, apa begitu banyak dosaku sehingga engkau mengambil anak yang baru satu tahun ini bisa kumiliki. Apa aku tidak layak menjadi seorang ayah, bahkan kini istri dan bayiku sedang berjuang untuk hidup." Austin tampak menangis, menumpahkan segala kesedihannya karena anak laki - laki satu satunya itu telah pergi untuk selamanya karena sebuah kecelakaan.


"Tuan lebih baik kita pulang, karena hari mulai gelap. Tuan muda King pasti juga tidak menyukai kalau anda seperti ini." Wira mencoba membujuk bossnya itu.


Beberapa saat kemudian Austin mulai beranjak dari pusara anaknya, ketika hujan deras mulai mengguyurnya.


"Apa kita langsung pulang tuan ?" Wira melihat bossnya itu dari balik kaca spion.


"Kita ke rumah sakit saja. Aku mau menemani istriku, dia pasti sedang kesakitan sekarang." Austin tampak berkaca kaca, ia ingin segera memeluk istrinya yang sedang dalam keadaan koma itu.


"Baik tuan, nanti saya akan mengambilkan pakaian ganti untuk anda." ucap Wira kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Nisa sedang dirawat.


Ditempat lain tampak seorang laki - laki tua sedang duduk di meja kerjanya, ia terlihat sangat sedih. Air matanya terus mengalir membasahi wajah tuanya. Mungkin seumur hidupnya baru kali ini ia menangis, menangisi seorang bocah yang baru menginjak usia tujuh tahun yang baru satu tahun ini bersamanya.


Seandainya kekayaannya bisa untuk menukar nyawa cucunya, mungkin dia akan melakukannya. Tuan Michael tampak sangat menyesal, seandainya saja waktu bisa ia putar. Mungkin dulu dia tidak akan menentang hubungan Austin dan Nisa, sehingga ia bisa menemani King dari lahir dan melihatnya tumbuh menjadi bocah yang menggemaskan.


Apa ini karma baginya, karena ia dulu pernah tidak menginginkan cucunya itu. Sehingga kini Tuhan benar - benar mengambilnya.


"Maafkan Opa Nak, maaf." tuan Michael menciumi foto King yang baru beberapa hari lalu ia ambil melalui kamera ponselnya.


☆☆☆


Disebuah ruangan ICU tampak seorang wanita terbaring lemah masih tak sadarkan diri dengan infus tertancap di punggung tangannya serta ventilator di hidung untuk membantunya bernapas. Terlihat begitu sunyi hanya suara dari Monitor pemantau detak jantung yang berbunyi teratur.


"Dok, bagaimana keadaan istriku ?" Austin melihat istrinya itu dari balik kaca penyekat.

__ADS_1


"Masih sama seperti sebelumnya tuan, belum ada perkembangan." ucap dokter tersebut dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Apa perlu saya bawa keluar negeri dok ?"


"Lebih baik disini saja tuan, keadaannya begitu lemah. Itu akan sangat beresiko, lagipula peralatan medis disini sudah sangat lengkap."


"Tapi harus berapa lama lagi dok, dari kemarin dia tidak sadarkan diri ?"


"Benturan di kepalanya sangat parah tuan, hingga membuat beberapa jaringan otaknya rusak. Mungkin doa dan dukungan dari keluarganya bisa membuatnya tersadar kembali."


"Terima kasih dok." Kemudian Austin berlalu pergi, karena dari semalam ia menemani istrinya itu. Kini ia akan mencari tahu siapa yang dengan sengaja menabraknya.


Ketika baru keluar dari ruangan ICU, Austin di kejutkan oleh Adi yang sudah menatap tajam padanya.


Brukkkk


Austin terjatuh ke lantai ketika adik iparnya itu sudah melayangkan pukulan ke arahnya, tampak darah mengalir dari sudut bibirnya.


"Selama hampir enam tahun ponakanku aman bersamaku, tapi tiba - tiba kamu datang dan mengambilnya. Sekarang apa, sedikitpun kamu tidak becus menjaganya." Adi melayangkan lagi pukulannya hingga Austin terhuyung kebelakang, beruntung ada Wira yang segera berlari menolongnya.


"Tuan jaga sikap anda, bagaimanapun juga beliau adalah kakak ipar anda." Wira mencoba menenangkan Adi yang sudah dipenuhi emosi.


"Biarkan saja Wir, aku memang yang salah sudah tidak becus menjaga anak dan istriku." Austin terlihat pasrah, sepertinya semangat hidupnya mulai redup karena rasa penyesalannya.


"Selama ini anda sudah sangat maksimal tuan menjaga istri dan anak anda, semua ini adalah musibah yang bisa saja dialami oleh semua orang." Wira mencoba menumbuhkan harapan pada bossnya itu.


Adi nampak tertunduk, ia begitu sedih memikirkan kakaknya. Hanya kakaknya itu satu satunya keluarganya, kakak yang selalu memanjakannya menuruti semua kemauannya.


"Wir, apa kamu sudah mengetahui siapa yang melakukannya ?"

__ADS_1


"Nona Felicya tuan."


"Apa ?"


"Nona Felicya dalam keadaan depresi berat tuan, beliau di vonis HIV. Sebenarnya pagi itu beliau akan berangkat keluar negeri bersama orang tuanya, tapi entah kenapa tiba - tiba ia membatalkan dan sengaja mengikuti mobil yang membawa nona Nisa dan tuan muda King, kemudian beliau menabraknya dengan sengaja."


"Dimana dia sekarang, aku mau buat perhitungan dengannya ?" Austin tampak sangat emosi.


"Nona Felicya sudah tiada tuan, beliau seketika meninggal di tempat karena kerusakan mobilnya yang sangat parah."


Austin mengeratkan kepalan tangannya dan seketika ia meninju tembok rumah sakit tersebut, ia sangat menyesal dan tidak menyangka kenapa Felicya bisa tega melakukan itu.


"Tuan Austin Gunawan." tampak seorang perawat berjalan mendekatinya.


"Ada apa sus ?" kali ini Wira yang menjawab panggilan seorang perawat wanita itu.


"Mari ikut saya, apa anda tidak ingin melihat bayi kecil anda ?" perawat itu dengan tersenyum ramah mengajak Austin ke ruang perawatan bayi.


Austin segera mengikuti perawat itu yang juga ada Wira dan Adi mengikutinya dari belakang. Sampai di sebuah ruangan yang di lapisi kaca tampak seorang bayi perempuan mungil berada dalam inkubator.


"Bayi itu anak anda tuan." perawat itu menunjuk dari balik kaca, tampak seorang bayi mungil berada dalam inkubator.


"Bagaimana dengan keadaan anak saya sus ?" Austin tampak sedih melihat bayinya yang mungil karena berat badannya hanya dua kilo gram saja.


"Sebuah keajaiban tuan, dengan usia kandungan yang baru tujuh bulan. Anak anda lahir dengan selamat dan normal, hanya saja sistem pernapasannya belum cukup sempurna."


"Apa itu berbahaya sus." kali ini Adi yang bertanya ia tampak khawatir dengan keponakan kecilnya itu.


"Tidak tuan, kami akan merawatnya dalam inkubator sampai paru - parunya berkembang sempurna. Sepertinya bayi kecil itu mempunyai semangat hidup yang tinggi."

__ADS_1


Austin tampak terharu melihat bayi mungilnya itu, begitu lincah kaki kecilnya itu menendang nendang tanpa henti. Meski ada ventilator yang terpasang di hidungnya tapi tidak membuat bayi itu diam.


"Sayang." Austin tampak berkaca kaca, semangat hidupnya mulai kembali lagi. Ia akan kuat demi putri kecilnya itu.


__ADS_2