
Dreeet...... dreeet..... dreeeet
Suara ponsel Wafa meringkik, mengusik ketenangan di pagi hari. Matanya menyipit tangannya meraih benda pipih miliknya. Tertera sebuah panggilan dari dr Ibrahim. Ia langsung menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum pagi dok! Ada yang bisa saya bantu?" Lirihnya. Wafa menguap, benar-benar pagi ini rasa kantuk masih terasa. Semalaman ia begadang bersama Mila
" Nak Wafa siang ini istri bapak mengundangmu untuk makan siang bersama di rumah. Bisa?" Wafa kaget. Posisinya yang berbaring langsung duduk begitu tau dr. Ibrahim mengundang makan siang di rumahnya. Ini suatu penghormatan baginya seorang pimpinan klinik mengundangnya untuk makan langsung ke rumah kediamannya. Tanpa berpikir lagi Wafa mengiyakan ajakan tersebut dengan senang hati kemudian panggilan pun terhenti. Netranya mengedar ke seluruh ruangan mencari sosok sahabatnya yang semalam menginap dikontrakannya ternyata Mila sudah tidak ada di kamar. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian Mila datang menenteng dua bungkus nasi uduk.
"Waaah kamu tau aja Mil, kalo aku lapar. Kirain kamu pulang. Makasih ya!" Wafa langsung membuka bungkusan nasi uduk langsung memakannya dengan lahap. Tidak ada pembicaraan saat sarapan hanya suara sendok yang mengalun.
"Fa mau berangkat jam berapa ke Rangkas?" Mila yang sudah selesai sarapan membereskan kertas nasi dan membuangnya ke tempat sampah yang terletak di dapur.
"Ke Rangkas, ngapain?" Tanyanya bingung.
" Aih dasar mulai pikun padahal baru semalam direncanakan sudah lupa" Mila menepuk dahinya.
__ADS_1
"Kita tuh rencananya mau ke Rangkas hari ini, mumpung hari Minggu. Ngambil tas kamu yang ketinggalan di rumah nenekmu. Masa iya lupa."
"Aih....beneran aku lupa. Sorry aku ga bisa ke sana hari' ini. Ada panggilan mendadak siang ini. Dan aku rasa ini lebih penting."
"Memangnya mau ke mana sih? Ga ngajak-ngajak ih."
"Ke Cilegon tempatnya dr. Ibrahim. Kamu mau ikut?"
" Oooh kalau ke sana aku ga ikut. Ga diundang juga. Tapi aku titip salam aja buat si ganteng Alhan"
"Alhan? Astaghfirullah iya dia kan anaknya dr Ibrahim. Waduh bakal ada perang dunia lagi nih. Lagian kenapa tadi aku ga nolak undangan dokter ya. Haduh duh gimana atuh, apa aku batalkan saja ya?"
" Terus kamu?"
" Aku? Tinggalkan saja di sini. Biarkan aku berdoa saja semoga usaha orang tua Alhan ber-ha-sil" Mila tertawa renyah sambil terus menggoda Wafa..
"Ih Milaaaaaa!" Mila melesat ke kamarnya.
__ADS_1
Mobil sedan berwarna merah memasuki halaman sebuah rumah berlantai dua dengan taman asri penuh dengan tanaman yang tertata rapi sehingga indah dipandang mata. Wafa memarkirkan mobilnya di halaman parkir sesuai arahan pak satpam.
Wafa menekan bel yang terletak di sebelah pintu depan. Dia tidak pernah menyangka bisa berada di tempat ini.
"Assalamualaikum bi....pak dokternya ada?"
"Walaikumussalam ada non ..silakan ma...." BI Ijah tidak melanjutkan kata-katanya ketika Alhan datang.
"Siapa bi?"
"Kamu? Ngapain kamu ke sini? Oh ya aku tau kamu ke sini mau mengembalikan cincin punyaku ,kan? Mana sini!"
" Bertemu kamu lagi" Wafa menghela nafas dalam.
"Aku heran deh sama kamu. Setiap bertemu yang ditagih cincin cincin melulu, ngga bosan apa?"
" Biarin. Tolong aku mohon kembalikan cincin itu aku membutuhkannya. Aku ga mau rencana lamaran dengan kekasihku batal gara-gara cincinnya ada di kamu"
__ADS_1
"Tadinya aku mau ke Rangkas mengambil tas yang ketinggalan di rumah nenekku. Tapi ternyata dr. Ibrahim memintaku datang ke sini. Jadi batal deh ngambil cincinnya.jadi mohon bersabar" Wafa menjelaskan untuk menenangkan Alhan.