CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 50 Tertangkap Basah


__ADS_3

Rasya menatap gadis yang sedang asik makan nasi ayam geprek dengan lahap. Terus terang ia pun lapar, belum sempat untuk makan siang.


"Kamu jorok amat sih Sa, sebelum makan tuh cuci tangan yang bersih, pake sabun³!"


"Yaelah dok di situasi seperti ini kata tersebut tidak berlaku. Dengan mengucapkan lafadz Bismillah saja semuanya aman. Dokter ga lapar? Sini dok masih ada sebungkus lagi." Rasya hanya diam. Suara perut Rasya sampai ke telinga Resa.


"Beneran nih ga mau makan. Entar keburu habis lo...atau dokter mau disuapi?" Resa beranjak dari tempat duduknya hendak menyuapi Rasya.


Sementara Rasya sedang menghubungi seseorang.


"Aku terjebak di dalam lift tolong minta bantuan secepatnya, ditunggu ya!" Ia menelpon perawat yang ada di ruangan poli kandungan.


"Apaan sih Sa. Aku ga lapar!" Ucapnya ketus namun matanya melihat nasi campur ayam geprek yang ada di tangan Resa. Ia menelan salivanya, tergiur dengan menu makan siang saat ini.


"Beneran nih ga mau? Sayang atuh sudah di depan mulut kok ga dimakan. Ga apa-apa kok ini aman tidak ada racun di dalamnya. Emmm...." Resa mengedipkan matanya.


"Ya sudah kalau kamu maksa." Akhirnya Rasya membuka mulutnya. Rasya mengikuti Resa untuk duduk bersila dan makan bersama.


Kegiatan makan mereka habiskan sambil mengobrol satu sama lain sehingga tercipta rasa bahagia terukir di hati Resa, pengalaman yang sangat mengesankan bisa makan berdua di dalam lift yang rusak. Mereka saling bertukar pikiran, canda dan tawa mewarnai suasana untuk menghilangkan kebosanan dalam mengisi waktu agar tidak sia-sia.


"Sa di matamu ada semut!" Rasya iseng ingin mengerjai Resa. Ia berharap Resa menyadari kalau telapak tangannya kotor, jadi tidak mengucek matanya. tapi di luar dugaan tangan Resa reflek mengucek matanya dengan telapak tangan yang masih ada sisa sambal geprek, alhasil matanya?


"Aaargh mataku dokter mataku pedih. Ya Allah bagaimana ini? Dok tolongin aku dok mataku pedih, perih, panas" Teriak Resa panik.


"Bagaimana caranya?" Rasya jadi ikutan panik melihat itu ia tidak tega.

__ADS_1


"Kamu kan dokter masa masih tanya bagaimana cara mengatasi hal ini. Ya Allah dok.....aaargh.....air dok aku butuh air!" Resa menutup matanya dengan telapak tangan yang masih bersih. Air matanya keluar perlahan. Mata yang satu lagi terpejam. Rasya masih bingung untuk menolong Resa.


Rasya kesal pintu lift belum juga terbuka, bagaimana ia menolong Resa kalau begini keadaannya. Matanya menangkap sebotol air mineral yang masih utuh, tapi masalahnya tangan sebelah kanannya juga kotor. Ia pun mencuci tangannya terlebih dahulu, tapi rasa panas di telapak tangannya tidak cepat hilang, walaupun demikian ia bisa menggunakan tangan kirinya untuk menolong Resa. Mereka saling berhadapan. Rasya mengusap mata Resa secara perlahan dengan tangan kirinya.


"Sini biar aku yang mengusapnya." Rasya menitikkan air ke kelopak mata Resa. Mata yang memerah membuat Rasya merasa bersalah karena keisengannya Resa harus menanggung rasa sakit karena cabe rawit setan. Ia mengucek mata dengan telapak tangan yang masih kotor.


"Bagaimana masih sakit?"


"Masih dok" Air matanya tak berhenti keluar. Rasa pedih, panas menjadi satu.


"Biasanya kalau seperti ini mataku direndam di dalam air dingin."


"Mana ada air dingin di sini. Oke aku tuang aja airnya pake telapak tangan ya!" Rasya mencoba menuang air di telapak tangan kirinya. Kemudian menyuruh Resa menunduk merendam matanya.


"Bagaimana?" Tanya Rasya lembut. Resa menggeleng. Ia memejamkan kedua matanya yang basah. Kemudian ditutup kembali untuk menahan rasa perih.


"Maafkan aku Resa maafkan aku....aku salah sudah membuatmu seperti ini."


Tiba-tiba....


Ting


Pintu lift terbuka mempertontonkan dua orang yang sedang berpelukan secara live.


-

__ADS_1


-


Alhan dan Wafa berlari kecil menghampiri lift yang diduga ada orang yang terjebak di dalamnya. Ada beberapa orang yang sedang berkerumun di depan lift. Alhan dan Wafa menerobos kerumunan tersebut. Mereka sangat kaget ketika melihat adegan live yang dilakukan oleh dua orang yang bukan muhrim berada di dalam lift dalam keadaan sedang berpelukan.


"Apa yang sudah kalian lakukan di situ?"


Suara Alhan menyadarkan keduanya. Kaget bukan main. Seperti orang yang baru tertangkap basah tengah melakukan tindakan yang melanggar etika. Tapi memang menurut mereka pasti akan beranggapan seperti itu.


"Kalian? Dokter Rasya ternyata bersama istri ke sini. Haduh jadi terjebak di lift begini maaf ya dok. Oh ya ibu-ibu dan bapak-bapak sebaiknya tidak menggunakan lift dulu ya, liftnya rusak. Maaf semuanya!" Wafa segera mengambil sikap. Ia tidak mau klinik ini tercoreng karena kelakuan orang yang sudah dianggap kakak angkatnya itu dan ironisnya ia berbuat dengan adik sepupunya sendiri.


Alhan menatap tajam istrinya. Ia masih bingung mengapa Wafa berbohong dengan mangatakan mereka pasangan suami istri padahal mereka dua-duanya belum berumah tangga. Tapi Alhan pun langsung tanggap sebelum istrinya mengungkapkan alasannya.


"Dokter Rasya dan Resa ikut ke ruanganku sekarang!" Mata Alhan menyorot tajam keduanya. Namun Resa segera berlari keluar menuju ruangan Wafa yang ia cari adalah toilet. Wafa mengikutinya dari belakang. Ruangan Wafa dan Alhan berbeda. Namun letaknya berhadapan.


Cukup lama Wafa menunggu Resa di depan toilet dalam ruangannya. Wafa duduk sambil menatap nanar toilet yang di dalamnya terdapat adik sepupunya itu, entah apa yang dilakukan adiknya sampai berlama-lama di dalam. Resa keluar dengan wajah yang basah.


Wafa menatap lekat adiknya.


"Apa yang sudah terjadi di lift?" Wafa tidak mau berbasa-basi. Hal ini sudah ia anggap serius, bukan lagi main-main. Wafa tidak peduli mata adiknya memerah.


"Kak apa yang tadi kalian lihat itu hanya salah paham. Aku dan dokter Rasya tidak melakukan apa pun. Dokter Rasya tadi hanya memelukku karena ia merasa bersalah." Resa berusaha untuk jujur.


"Apa kamu bilang, dia hanya memelukmu karena merasa bersalah? Modus!"


"Aku mohon jangan marah pada dokter Rasya, kak. Dia hanya mengungkapkan maafnya dengan....dengan memelukku" Dengan suara rendah Resa memohon pada kakaknya agar tidak marah.

__ADS_1


"Terus kamu senang? Kamu tahu dengan memeluk itu suatu kesalahan yang sudah kalian lakukan. Kalian punya etika bukan? Orang tuamu selalu wanti-wanti agar kamu bisa menjaga diri, bukan malahan senang saat dipeluk dokter Rasya. Seharusnya kamu menolaknya tadi." Wafa begitu sangat marah. Ia kecewa dengan adik sepupunya itu.


__ADS_2