
"Apa senyum-senyum begitu. Cowok ga jelas!" Tiara berjalan menuju jalan raya. Kasdun mengikutinya dari belakang.
"Notik tunggu dong!" Tiara menghentikan langkahnya.
"Apa kamu bilang, notik? Aaarggh kamu tuh ya sudah kubilang jangan pernah panggil aku notik lagi. Aku punya nama!"
"Oh iya namamu lebih indah. Kita pulang bareng ya Tiara cantik." Kasdun tersenyum, dia selalu sabar menghadapi perempuan yang sejak pertama kali mencuri hatinya itu. Walaupun ia selalu mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari Tiara namun ia merasa tertantang untuk mendapatkan cintanya.
"Ga perlu. Aku bisa pulang sendiri." Tiara menolak dengan sengit. Mereka berdiri di halte depan klinik.
"Ternyata Allah maha mengerti dengan keinginan hambanya." Kasdun mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Tiara melirik, ia tidak mengerti apa yang dikatakan Kasdun. Tapi ia tidak perduli. Ia langsung menyetop angkot yang melintas, keduanya masuk ke dalam.
"Kamu kok ngikut?" Bisik Tiara pada Kasdun yang duduk di sampingnya, karena angkot yang ditumpanginya hampir penuh.
"Aku hanya ingin memastikan kamu pulang dengan selamat."
Tiara bungkam. Ia menghela nafasnya. Ada getaran yang entah ia rasakan ketika berada di samping Kasdun. Yang pasti hatinya jadi tidak menentu. Ia merutuki kebodohannya bisa satu angkot dengan Kasdun.
"Hati oh hati diamlah!" Mohon Tiara dalam hati ketika perasaannya bermain musik. Entahlah kalimat terakhir yang Kasdun ucapkan mampu menyentuh hatinya yang paling dalam. Tenyata masih ada laki-laki yang mengkhawatirkannya.
"Tanganmu dingin, kamu sakit?" Bisik Kasdun yang tidak sengaja menyenggol tangan Tiara karena sopir ngerem mendadak. Kasdun tersenyum. Ada perasaan hangat yang menjalar di dalam tubuhnya. Ia menjadi lebih bersemangat menjajaki hati Tiara yang menurutnya unik.
"Kiri pak!" Tiara turun setelah angkot berhenti. Kasdun mengikutinya dari belakang.
"Biar aku aja yang ongkos." Kasdun mengambil uang dari kantong celananya.
Tiara langsung melesat menuju gang. Kasdun setengah berlari mengikuti Tiara. Hampir saja ia mengerem mendadak ketika Tiara menghentikan langkahnya.
"Ngapain kamu ngikutin aku sampai sini?" Tiara membalikkan badannya. Kasdun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Aku...aku hanya ingin tahu rumah kamu. Dan memastikan kamu sampai rumah dengan selamat."
"Kalau begitu pergilah! Aku sudah sampai rumah." Usir Tiara. Terlihat Kasdun celingukan.
"Kamu engga menyuruhku masuk buat minum teh atau kopi gitu?"
"Tidak PERLU. Pulang sekarang!" Usir Tiara lagi penuh penekanan. Kasdun tersenyum.
"Baiklah tuan putri yang cantik. Abang Kasdun pulang dulu. Besok datang lagi menjemputmu. Terima kasih untuk waktumu hari ini." Kaadun mengedipkan matanya. Tiara jadi merinding.
×××××××××
Nurmala sudah sampai di sebuah rumah yang cukup mewah berlantai dua. Herdi sudah mempersiapkan rumah tersebut sejak empat bulan yang lalu untuk di tempati sebagai istana cintanya.
"Nur sementara kamu tinggal di sini bersama Panji. Mas sudah siapkan asisten rumah tangga yang akan membantumu mengurus rumah. Besok dia mulai kerja mengurus rumah ini. Khawatir kamu kerepotan dalam pengasuhan Panji, aku akan siapkan baby sitter juga."
"Emmm ga perlu mas. Panji biar aku saja yang urus. Jadi ga perlu babby sitter segala. Asisten rumah tangga menginap atau pulang pergi?"
"Yang penting bukan wanita cantik yang rese dan genit. Aku ga mau ayahnya Panji kepincut babu." Kelakar Nurmala posesif. Ia mengatakan hal ini karena banyak majikan yang digoda asistennya sehingga rela meninggalkan istrinya.
"Pokoknya kamu tenang aja nanti aku diskusikan dulu denganmu jadi nanti kamu bisa pilih orang yang paling cocok jadi asisten rumah ini."
Nurmala tersenyum mendengar ucapan dari calon suaminya.
"Oh iya aku pulang dulu ya, besok pulang kerja ke sini lagi."
"Apa! kamu mau pulang mas?"
"Iya aku pulang dulu besok sepulang kerja aku ke sini lagi ya!" Ulang Herdi yang tidak mungkin jika menginap di rumah tersebut karena status mereka belum menikah.
"Terus aku di sini sama siapa? Mas yang benar saja, aku ini baru melahirkan masa sih aku ditinggal tanpa ada siapa pun di rumah ini? Kalau aku butuh sesuatu atau ada apa-apa gimana? Tempat ini asing bagiku, mas." Nurmala belum siap ditinggal berdua sama seorang bayi. Apalagi tinggal di rumah yang lumayan besar. Kekhawatiran menerpa hatinya.
__ADS_1
Herdi merasa bimbang, di sisi lain ia membenarkan komentar Nurmala namun ia juga khawatir jika dekat dengan Nurmala di satu rumah tanpa ada siapa pun, ia tidak bisa menahan kerinduan yang pernah mereka perbuat.
"Mas ini hampir malam aku mohon menginaplah temani aku di sini! Bukankah di sini masih ada kamar? Kita satu rumah tapi tidur di kamar yang berbeda, mas." Nurmala memelas. Ia pun menyadari hal ini akan menimbulkan fitnah bagi yang melihatnya. Ketakutan Nurmala lebih dominan dari pada dampak dari keputusan yang akan mereka ambil.
Herdi menghela nafas pelan.
"Baiklah sayang untuk malam ini aku tidur di sini. Tapi hanya malam ini ya! Besok Tiara kan mau ke sini, jadi untuk sementara mulai besok kamu dan Panji ditemani Tiara." Akhirnya Herdi mengalah.
"Kalau kamu butuh sesuatu, aku ada di kamar sebelah. Oiya aku ke kamar mandi dulu ya, aku sudah pesan go food untuk makan malam. Nanti uangnya ambil di atas meja televisi." Nurmala mengangguk, ia pun masuk ke kamar setelah mendengar Panji menangis.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum....."
Suara riuh dari luar mengusik ketentraman waktu istirahat Nurmala dan Herdi.
"Walaikumussalam...." Herdi tertegun ketika membuka pintu terdapat beberapa orang yang datang ke rumahnya.
"Maaf ini ada apa ya, malam-malam begini bapak-bapak datang ke rumah saya?"
"Begini mas, saya RT di blok R ini boleh kami masuk?"
"Oh ya silakan pak RT!" Herdi mempersilakan enam tamunya untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Sebelumnya kami mohon maaf kedatangan kami keroyokan begini. "
"Tidak apa-apa bapak. Saya yang seharusnya minta maaf karena belum sempat ke rumah bapak untuk melaporkan bahwa mulai malam ini kami tinggal di sini." Jelas Herdi. Pak RT manggut-manggut.
__ADS_1
"Iya berkaitan dengan itu, saya hanya ingin memastikan kejelasan status mas di rumah ini. Karena salah satu warga kami melaporkan mas ini masih lajang tapi tadi sore membawa seorang perempuan datang ke rumah ini dan belum kembali. Maaf pak jika kami lancang bicara seperti itu, karena kami tidak mau kecolongan lagi ada warga yang ngaku sudah menikah tapi pada kenyataannya belum. Mirisnya lelaki yang menjadi warga sini statusnya suami orang lain. Jadi demi keamanan bapak bisa menyerahkan bukti fotokopi KTP, Kartu keluarga, dan foto kopi buku nikah. Semua persyaratan tersebut harus dipenuhi oleh semua warga di blok R ini." Jelas pak RT yang membuat perasaan Herdi tidak karuan. Ternyata tinggal di perumahan tidak sebebas yang dipikirkan. Tempat yang ia tinggali sekarang peraturannya lumayan ketat, karena pernah terjadi kasus amoral pada warganya.