CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 66 Mulai Kontraksi


__ADS_3

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa perubahan fisik Nurmala yang semakin membengkak itu lantaran berat badan berlebih. Kalau diperhatikan memang akhir-akhir ini Nurmala banyak makan. Sehingga gagal diet. Itu asumsi mereka. Di sisi lain Nurmala sangat pintar menyembunyikan perutnya yang buncit walaupun perutnya merasa tertekan dan sesak. Sehingga asumsi masyarakat terhadap dirinya biasa saja dan cenderung cuek.


Drug


Drug


Drug


Gedoran pintu kamar Nurmala sangat kencang. Begitu pintu dibuka Bu Danu menghambur memeluk Nurmala. Tangis Bu Danu pecah.


"Ada apa bu?" Tanya Nurmala bingung, tidak biasanya ibunya bersikap seperti ini.


Nurmala mengusap kepala ibunya dengan lembut. Ia membiarkan ibunya untuk menangis. Nurmala melepas pelukan ibunya secara perlahan. Nurmala tersenyum sambil memberi minuman pada ibunya.Ia membimbing ibunya untuk duduk di bibir kasur.


Bu Danu meneguk air zam-zam dari gelon dengan pelan. Matanya sembab, hidungnya memerah. Sepertinya ibunya sudah cukup lama menangis.


"Sekarang ceritakan ada apa bu?" Tanya Nurmala lembut. Ibunya bergeming, pundak Nurmala jadi sandarannya. Air mata ibunya masih mengalir, membuat Nurmala semakin bingung.


"Nenekmu, Nur." lirih bu Danu. Air matanya madih mengalir.


"Ada apa dengan nenek, nenek sakit?" Tanya Nurmala khawatir. Bu Danu menggeleng pelan.


"Lantas kenapa bu?" Tanya Nurmala masih bingung.


"Nenekmu meninggal barusan. Nenekmu meninggal mendadak. Beliau tidak pernah mengeluh sakit. Nenekmu wanita hebat diusianya yang senja, ia tidak pernah membuat anak-anaknya khawatir." Bu Danu menangis lagi. Ia begitu terpukul dan berduka kehilangan ibu kandungnya.


Nurmala memeluk ibunya kembali. Ia pun ikut meneteskan air mata. Di saat kondisinya tengah hamil tua justru neneknya meninggalkannya untuk selamanya. Perasaan sedih menyelimuti keluarga Nurmala.

__ADS_1


"Ibu dan ayah akan pulang ke Tasik malam ini karena jenazah nenek akan dimakamkan besok pagi."


"Pergilah bu. Jangan khawatirkan aku."


"Tapi kamu sedang hamil tua, Nur. Kalau kamu ikut juga ga mungkin. Perjalanan lumayan jauh. Khawatir kamu lahiran di jalan."


"Kalau begitu tinggalkan aku. Titipkan aku pada Allah saja." Bu Danu tercengang. Nurmala tersenyum terlihat matanya masih berair.


Ya benar mengapa harus dikhawatirkan. Bu Danu merasa lega ketika Nurmala mengatakan hal seperti itu. Dengan menitipkan anak-anak atau bahkan rumah agar tetap aman maka Sang Pencipta makhluk adalah pilihan tepat yang akan menjaga selama-lamanya.


"Kalau begitu biarkan ibu dan ayah saja yang pergi. Kamu di sini ditemani Tiara saja. Kalau ada tanda-tanda mau melahirkan secepatnya ke klinik." Bu Danu bergegas keluar kamar menuju ruang tamu. Di sana sudah ada pak Danu yang sudah siap untuk berangkat.


"Ingat Nur jaga adikmu dengan baik dan satu hal lagi yang harus kau ingat, kamu masih dilarang bertemu Herdi sebelum anakmu lahir. Jangan pernah kau mengecewakan ayahmu lagi. Dan kamu Tiara jaga kakakmu dengan baik. Kamu harus jadi adik siaga di rumah ini. Jangan kemana-mana. Kalian mengerti!?"


"Siap ayah, aku mengerti." Jawab mereka hampir bersamaan.


-


-


Kepergian kedua orang tua Nurmala ke rumah almarhum nenek tiga hari yang lalu menyisakan kedukaan yang mendalam. Rumah semakin sepi saja hanya ada mereka berdua. Di luar tampak hujan begitu deras. Suara petir bertalu-talu melambangkan kebesaran Allah.


Sesekali Nurmala meringis merasakan kontraksi yang mulai muncul setelah kepergian kedua orang tuanya ke Tasik.


"Tiara....emmmh. Tiara....." Nurmala menggigit bibir bawahnya, menarik nafas kemudian ia keluarkan perlahan untuk mengurangi rasa sakit yang semakin sering menyerang.


"Tiara....Tiara....!" Nurmala mencari Tiara sampai ke kamarnya. Namun nihil adiknya tidak ada di sana. Nurmala meringis sambil memegang perutnya yang terasa kencang. Di saat kontraksinya mulai reda, Nurmala segera bergegas untuk pergi ke klinik malam itu juga. Sebelum pergi ia menulis pesan untuk Tiara yang ia simpan di atas meja belajarnya.

__ADS_1


Hujan yang lebat tidak membuat dirinya patah semangat untuk segera datang ke klinik. Bermodalkan payung dan jas hujan ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju jalan raya. Hawa dingin menyeruak mampir sampai ke dalam tubuhnya. Kalau saja hapenya tidak disita oleh ayahnya, ia tidak akan kesulitan untuk sampai ke klinik karena bisa memesan taksi online untuk mengantarnya sampai tujuan.


Jalanan begitu sepi padahal baru pukul 20.00 wib. Karena hujan yang mengguyur kotanya, banyak masyarakat yang enggan untuk keluar rumah padahal jam segitu biasanya para pemuda banyak yang nongkrong di pinggir jalan.


Kalau saja keadaannya tidak sedang hamil, tentu saja ia akan meminta bantuan para tetangga yang memiliki mobil untuk mengantarnya ke klinik. Dia tidak ingin mempermalukan diri sendiri. Cukup tahu diri dan tidak ingin mempermalukan keluarganya.


Angin yang kencang sesekali menampar kulitnya. Wajahnya yang ayu sudah basah oleh guyuran air hujan. Ia mencoba menyetop mobil yang melintas di jalan namun tidak ada yang mau berhenti. Angkot pun sepi, kemudahan seolah tak berpihak padanya.


"Ya Allah aku yakin engkau maha mendengar dan melihat pengorbananku. Tolonglah kami, bantulah kami beri kami kemudahan agar kami bisa sampai ke klinik malam ini. Ya Allah .....iiisshh, tenang ya nak, sebentar lagi kamu akan lahir. Huuuuf sssht...... huuuuf sssht....huuuuf." Ia mengalami kontraksi kembali yang semakin sering muncul. Ia masih di pinggir jalan menatap jalanan yang mulai lengang. Badannya lemas, badannya menggigil dan akhirnya tumbang.


-


-


"Ka Nur....Ka Nur....Ka Nurmala di mana?" Tiara mencari kakaknya ke beberapa ruangan. Hujan telah reda hanya menyisakan gemericik air. Ia meletakkan tasnya. Tadi sore Tiara harus ke kampus menemui dosen pembimbing tanpa berpamitan pada kakaknya. Saat itu kakaknya tengah tidur di kamar sehingga ia tidak ingin mengganggunya.


Setelah selesai bimbingan di kampus ia bergegas pulang karena tidak ingin kakaknya kenapa-napa mengingat kakaknya sedang hamil tua, tinggal menunggu hari untuk melahirkan.


"Kemana sih kak, sudah malam begini kau tidak di rumah?" Ia bermonolog di dalam kamar Nurmala.


Ia bergegas masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang cukup basah karena sempat kehujanan tadi. Ia menyeduh susu jahe untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah itu ia ke kamar lagi untuk membereskan berkas yang akan ia revisi malam ini. Namun ia menemukan sebuah kertas yang tanpa dilipat berada di atas mejanya. Ia membaca dengan hati-hati.


BUAT TIARA


Kamu kemana saja De? Kakak sepertinya mau melahirkan, kakak sekarang pergi ke klinik.


Doakan agar kakak kuat menerjang hujan lebat di luar sana. Dan bisa melahirkan normal dengan mudah dan lancar, aamiiin.

__ADS_1


__ADS_2