CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB. 53 Drama pagi hari


__ADS_3

Di dalam kamar mandi Resa bergeming. Ia bingung mau ngapain. Matanya mengedar dalam kamar mandi. Telapak tangan kanannya dikepal kemudian ia ketuk-ketuk keningnya.


"Ingat...ingat....ingat Resa apa yang sudah terjadi semalam? Hah ya semalam Kak Rasya mengucapkan ijab kobul." Resa bermonolog. Mulutnya menganga, ia menggelengkan kepalanya.


"Berarti benar aku adalah istrinya." Senyum Resa mengembang. Begitu ia sudah ingat keberadaan Rasya bersamanya, ia pun bergegas untuk segera menyiram tubuhnya dengan shower. Sambil terus tersenyum di bawah guyuran shower.


Dor


Dor


Dor


"Resa kamu masih hidup di dalam? Cepetan mandinya , gantian!" Rasya menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Resa tersentak.


"Apa katanya? Aku masih hidup atau ngga? Kalau engga cinta dan kalau bukan suami sendiri sudah kulakban mulutnya. Huh!" Ujarnya bermonolog.


Segera ia mengambil handuk, ia mencari baju ganti di kamar mandi ternyata nihil, ia lupa mengambil baju bersih miliknya. Mau memakai baju yang tadi ia pakai terlanjur basah kuyup.


"Resa kamu dengar tidak? Kalau kamu tidak buka pintunya akan ku dobrak. Satu.....dua....ti...." Kembali Rasya sudah mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi.


Baru saja Rasya mau bertindak, pintu sudah terbuka dengan munculnya Resa di tengah pintu.


"Ish kakak apaan sih mau dobrak pintu segala, kalau pintunya rusak apa kakak mau ganti? Pikir dong kak sebelum bertindak!" Rasya bergeming melihat Resa hanya terlilit handuk putih dengan rambut yang basah.


Resa melihat aura yang meresahkan dari mata suaminya yang menatapnya tanpa berkedip.


"Hey biasa aja tatapannya! kenapa, kakak baru lihat orang cantik ya? Ck...ck...ck.....kasihaaaan!" Resa yang menyadari tatapan horor suaminya merasa risih.


Ia beranjak dari tempatnya melewati Rasya yang masih berdiri seperti patung, lantas secepatnya mencari baju ganti di dalam tas ranselnya dengan cepat.


"Kakak kondisikan itu mata, cepat masuk ke kamar mandi sebelum Pintunya tertutup kembali! Kak Rasya....kak Rasya." Dengan mendekap baju ganti Resa beranjak mendekat menuju Rasya berdiri. Kemudian memukul bahunya. Rasya terhenyak. Resa mendorong Rasya masuk kamar mandi.


"Katanya mau berjamaah cepatlah, segara mandi terus ambil air wudhu buang pikiran negatifmu itu!"

__ADS_1


"Iiish apaan sih Resa. Tanpa kamu dorong pun aku mau masuk!"


"Diamlah. Segera mandi ga pake lama. Dan ingat jangan ngintip, Paham!" Resa langsung mengunci pintu kamar mandi.


"Ya ampun Resa kenapa pintunya dikunci di luar sih?" Rasya berteriak protes.


Resa terkikik. Dia segera memakai pakaiannya tanpa khawatir ada yang mengintip.


Lima belas menit kemudian terdengar gedoran dari dalam kamar mandi.


"Resa cepat buka pintunya, aku sudah beres nih!" Dengan cepat Resa membuka pintunya.


Melihat penampilan Rasya hanya terlilit handuk setengah badan Resa bergeming.


"Kenapa, baru lihat orang ganteng? Kondisikan matamu buang aura negatifmu sekarang!"


"Huh...plagiat!" Resa bersungut. Rasya tergelak.


"Jangan ngintip. Aku mau ganti baju!" Ujar Rasya. Ia segera mengenakan bajunya.


Mereka masih dalam posisi imam dan makmum.Selesai mengucapkan salam di rakaat terakhirnya mereka tidak langsung beranjak. Mereka berdoa dengan hikmat. Doa yang dipandu Rasya tergulir dengan lancar dan mampu membuat air mata Resa menetes.


Rasya membalikkan badannya kemudian tersenyum manakala tangan nya diraih istrinya untuk dicium. Tangan kiri Rasya mengusap kepala Resa dan mengecupnya.


"Sayang aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kita beranjak. Biasanya aku lakukan ini di mushola setelah sholat berjamaah. Aku ingin pembiasaan yang baik bisa diterapkan pula di rumah kita." Rasya kembali tersenyum.


"Mulai saat ini dan seterusnya kita tengah memasuki mahligai rumah tangga, yang semakin lama semakin banyak cobaan dan ujian datang menghampiri kapal kita yang mulai melaju di tengah lautan. Itu sebagai bentuk memperkuat keimanan kita."


"Istri yang sholehah dan cerdas sangat diperlukan dalam mendidik anak-anaknya. Tidak perlu seorang istri ikut bekerja mencari uang, percayakan sepenuhya pada seorang suami. Jika memang suami sudah mapan. Aku ingin anak-anakku hanya kita yang mendidik secara langsung di rumah bukan asisten rumah tangga bukan pula kakek dan neneknya."


"Ibu adalah guru terbaik di rumahnya. Ia akan membimbing dan mendidik anak-anak di saat ayahnya tidak ada di rumah."


"Dalam rumah tangga yang terpenting adalah membangun komunikasi yang aktif. Dengan komunikasi akan terjalin hubungan yang harmonis, kejujuran, kepercayaan satu sama lain dan kesetiaan. Itu semua akan selalu membersamai dalam kehidupan rumah tangga."


"Namun diingat badai di lautan itu pasti akan datang. Maka kita harus bentengi hati kita dengan iman. Agar rumah tangga yang kita lalui langgeng selamanya."

__ADS_1


"Aaamiiin." Resa mengamini.


"Semua yang dilakukan seorang istri yang taat pada suaminya adalah ibadah dan mendapatkan pahala. Begitupun seorang ibu. Pahalanya berlipat-lipat. Bagaimana seorang ibu harus berbagi kasih sayangnya untuk anak dan suaminya. Namun semua itu butuh proses. Aku tidak menuntut secara instan kamu bisa melakukan semuanya, karena awal berumah tangga itu proses adaptasi dengan pasangannya." Rasya tersenyum melihat istrinya menyimak dengan serius.


"Ada yang ditanyakan sayang?" Rasya bertanya begitu agar ada komunikasi timbal balik. Resa hanya terpaku menatap suaminya.


"Resa kok kamu diam? Ada yang ditanyakan tidak?" Resa terhenyak ketika bahunya ada yang menyentuh. Lalu tersenyum. Ia semakin terpesona dengan suaminya ternyata suaminya bukanlah laki-laki sembarangan.


"Tidak ada kak." Ujarnya mantap.


"Kalau tidak ada pertanyaan kakak tutup tausiah pagi ini.


Nanti disambung lagi lain waktu ya! Assalamualaikum." Rasya mengakhiri pembicaraannya.


"Walaikumussalam kakak sayang." Resa langsung melipat sajadah dan mukena.


"Oiya sayang setelah sarapan kita siap-siap ke rumah orang tuaku ya! Mereka semua belum ada yang tahu kalau kita sudah menikah." Ujar Rasya mengingatkan.


Resa terdiam, ia takut dirinya tidak sesuai ekspektasi menantu ideal orang tuanya.


"Kamu kenapa, kok diam? Kamu mau kan aku ajak menemui mertuamu hari ini?" Rasya mendekat, ia merapikan rambut Resa yang semrawut setelah mukenanya dilepas.


"Mau tapi.....orang tua kakak galak ga sih?"


"Kamu terdiam karena memikirkan hal itu? Lihat suamimu! Biasanya orang tua sama anak tidak akan berbeda. Menurutmu aku gimana?"


"Emmmmh kamu nyebelin kak. Tapi baik juga sih orangnya. Cuma yang pikiran aku sekarang aku menikahi orang yang luar biasa."


"Maksud kamu apa?"


"Kamu punya segalanya kak. Kemapanan karir yang luar biasa, ilmu agama yang mumpuni. Sedangkan aku? Kuliah saja belum beres sudah nikah. Apa kata dunia?" Rasya tergelak. Benar-benar istrinya selalu membuatnya terhibur.


"Memangnya istriku ini sudah pernah bertanya pada dunia? Jangan pernah menilai sesuatu sebelum kamu mengalaminya. Buang jauh-jauh prasangka buruk kehidupan yang akan kita lalui. Tersugestilah dengan pikiran positip yang akan membawamu pada kebahagiaan, kamu paham?"


"Emmmh Resa...." Rasya meraih kedua tangan istrinya, lalu menatapnya. Resa mengerutkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Bolehkah aku meminta hakku pagi ini?"


__ADS_2