
Nurmala menatap sendu laki-laki yang berdiri dekat sofa kamar perawatan. Ia berharap Alhan mau mengikuti kemauannya. Sudut bibir Alhan ditarik seraya menggelengkan kepala.
"Nur dengar, aku bukan siapa-siapamu lagi. Sekarang kamu punya masa depan akupun sudah punya masa depan. Kita hanya masa lalu yang tidak mungkin dapat bersatu lagi. Hubungi suamimu yang kaya raya itu, yang pengusaha itu, dia punya segalanya, dia pasti akan membiayai semua biaya rumah sakit ini. Jangan aku. Aku hanya seorang guru yang mungkin akan kurang di matamu jika aku yang membayar semuanya. Dengar ya Nur, jangan harap kamu bisa kembali denganku karena bagiku kesetiaan seorang istri adalah yang utama. Jadi kuharap jadilah kamu istri yang setia untuk suamimu. Permisi!" Alhan beranjak dari tempatnya berdiri namun langkahnya terhenti ketika Nurmala mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin shock.
"Aku belum menikah Han...." ucap Nurmala dengan bibir bergetar. Alhan menatapnya tajam.
"Apa kau bilang, belum menikah?" Nurmala mengangguk lemah, seraya menunduk sambil menahan tangis.
"Bagaimana bisa Nur, sementara ada janin yang sedang tumbuh di dalam rahimmu. Lelucon macam apa ini, hah!" Nurmala memejamkan matanya, ia kaget bukan main ternyata Alhan tahu segalanya.
Alhan tahu dirinya telah berbadan dua. Pantas saja Alhan meminta suster untuk menghubungi suami Nurmala jadi Alhan menganggap kalau Nurmala sudah menikah.
"Apa laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab?" Nurmala menggeleng pelan. Alhan mengusap wajahnya kasar.
"Han...ayahku sedang menghukumku untuk tidak menikah sebelum anak ini lahir. Dan aku dilarang untuk bertemu dengan calon suamiku selama aku hamil. Han ini hukuman terberat bagiku. Aku tidak mudah melewati semua ini. Sesuatu yang kuanggap akan menjadi sebuah kebahagiaan tapi ternyata aku merasa menderita. Saat kehamilan aku sendirian tanpa ditemani oleh suami seperti pasangan pada umumnya. Aku tahu perbuatan yang sudah kulakukan sangat fatal sehingga aku pun sudah melukai hatimu. Aku minta maaf. Aku mohon Han saat ini tidak ada yang bisa aku hubungi selain kamu yang ada di sini. Hpku ketinggalan di villa dan aku tidak hapal dengan nomor keluargaku bahkan nomor calon suamiku. Bahkan pakaian ku saja tidak ada satu pun. Yang aku kenakan hanya pakaian rumah sakit. Jadi aku mohon Han aku meminjam uangmu untuk membayar rumah sakit ini. Aku akan ganti secepatnya, aku janji Han" Jelasnya pilu.
Alhan bergeming.
__ADS_1
Dalam hati Alhan masih ada rasa kemanusiaan. Ia tidak tega melihat Nurmala yang sedang terpuruk sendirian di rumah sakit ini. Ia masih memiliki rasa empati yang begitu besar.
"Han lupakan saja apa yang aku katakan barusan. Aku hanya menunggu pertolongan dari orang lain siapa tahu Tuhan mempertemukan ku dengan orang baik seperti mu. Terima kasih Han kamu sudah mau menolongku sampai di sini. Maaf kalau aku mendrama situasi ini." Nurmala menghela nafas dalam.
"Baiklah aku akan memberikan pinjaman untuk membiayai rumah sakit ini. Ingat ini hanya pinjaman. Kamu harus mengembalikan secepatnya. Dan bajumu aku sudah membelikanmu sebelum aku mengetahui kalau kamu hamil. Kalau aku tahu sebelumnya aku ngga sudi memberikan perhatian seperti ini. Dan itu juga harus kamu bayar. Ingat tidak ada yang gratis di dunia ini." Alhan dengan mode galak.
Sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin disampaikan pada Nurmala, karena Alhan terlanjur kesal jadi yang keluar adalah kata-kata yang menusuk jiwa Nurmala. Namun Nurmala tidak merasa sakit hati, ia masih bersyukur Alhan masih seperti dulu yang peduli pada sesama.
"Terima kasih Han. Secepatnya aku akan membayar pinjaman itu."
-
"Wafa....Nak Wafa...sini lihat berita itu. Ya Allah Fa itu bukannya tempat Alhan pelatihan?" Wafa terdiam mematung sambil melihat pemberitaan yang ditayangkan secara live pada salah satu stasiun televisi. Matanya mengembun ketika berita itu menjelaskan korban jiwa yang mengalami peristiwa itu.
"Bun aku izin ya, aku akan memastikan keadaan Mas Alhan di sana. Semoga semuanya baik-baik saja. Aku tahu rumah sakitnya aku akan ke sana. Bunda tidak usah ikut, bunda istirahat saja, ya!" dengan cekatan Wafa bertolak ke rumah sakit terdekat dengan hotel tempat Alhan menginap. Pantas saja hp suaminya tidak bisa dihubungi ternyata di sana tengah terjadi sesuatu. Begitu pun dengan sinyal. Dengan kejadian itu sinyal menjadi buruk.
Wafa melajukan mobilnya dengan pelan. Badai semalam telah memporak-porandakan benda-benda di sekelilingnya. Banyak pohon yang tumbang sebagian bangunan hancur dihempas air dan angin luar biasa dahsyat, kejadian semalam menelan sedikit korban jiwa. Selama perjalanan Wafa berdoa semoga suaminya baik-baik saja, bisa selamat dari peristiwa tersebut.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit ia tidak langsung turun ketika mengetahui seseorang yang sangat ia kenal sedang menuntun seorang perempuan cantik berhijab menaiki sebuah taxi. Ia menatap perempuan itu dari kejauhan, sepertinya perempuan itu tidak asing baginya.
"Bukankah dia Nurmala? Jadi Alhan bersama Nurmala di rumah sakit ini?" Netra Wafa mengembun.
Ia teringat dengan foto yang masih tersimpan di atas meja kerja suaminya. Ia beranggapan suaminya masih berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.
Sampai di saat sedang genting seperti ini mereka berdua berada di rumah sakit yang sama, terlihat mereka biasa saja bahkan terlihat sehat. Entah apa alasan suaminya ketika ia harus bercerita. Apakah nanti Alhan akan jujur atau mungkin menutupi kebenaran yang membuat luka di hati Wafa. Sesak rasanya. Ini kah yang dinamakan cemburu...Olala mengapa sakit begini rasanya? Wafa memperhatikan gerak - gerik Alhan yang masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia mengikuti kepergian suaminya.
Alhan memasuki hotel yang ia singgahi semalam. Pelatihan yang sebenarnya belum selesai dilaksanakan terpaksa harus dihentikan. Alhan ingin mengambil barang-barang yang masih tertinggal di dalam villa mudah-mudahan masih bisa diselamatkan.
Ternyata mobil yang ditumpangi Nurmala pun berhenti di sebuah hotel yang sama. Nurmala berjalan sangat pelan menuju villa yang ia tempati semalam.
Wafa hanya diam menahan pedih di hatinya. Perlahan ia keluar dari mobilnya, seperti detektif ia mengikuti langkah suaminya dari kejauhan. Begitupun netranya tidak lepas juga memperhatikan Nurmala yang berjalan seperti siput. Wafa mengenakan maskernya untuk menutupi sebagian wajahnya agar tidak dikenali oleh siapa pun.
Nurmala sudah sampai di villanya ternyata ia hanya mengambil tas miliknya yang sudah basah, tidak sedikit para peserta yang balik lagi ke villa hanya sekedar ingin mengambil barang-barang yang dibawanya dengan harapan barang tersebut bisa diselamatkan.
Dan ternyata Nurmala tidak langsung pergi, ia sedang menunggu seseorang. Siapa orang yang sedang ia tunggu? Mau apa dia? Apa yang akan Wafa lakukan ketika melihat secara live suaminya bersama sang mantan?
__ADS_1