CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 61 Sisi Lain Wafa


__ADS_3

Alhan menyalakan lampu hazard mobilnya sebagai sinyal agar bapak tersebut mau mendekat. Benar saja seorang bapak mendekati mobilnya ia mengetuk kaca bagian kemudi. Alhan membuka jendela mobil.


"Tolong pak saya mohon istri saya mau melahirkan, dari tadi nyari angkot ga ada yang lewat. Saya mohon antarkan kami ke puskesmas terdekat."


"Baik pak, rumah bapak di mana?"


"Di ujung sana pak, cat warna biru."


"Bapak naik saja, sepertinya rumah bapak agak jauh dari sini." Titah Alhan. Walaupun jaraknya kira-kira 100 meter dari jalan raya.


Hujan masih mengguyur bumi. Suara petir pun bertalu-talu. Bapak itu duduk dengan perasaan tidak menentu. Mulutnya terlihat komat-kamit seperti sedang berdoa.


Alhan menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah sederhana bercat biru. Di luar masih hujan, dengan sigap Alhan dan Wafa memakai jas hujan yang selalu tersedia di dalam mobilnya.


"Mas tolong ambilkan peralatan medisku di bagasi mobil! Aku duluan masuk ke dalam memeriksa pasien."


"Iya sayang." Alhan dengan cekatan mengambil peralatan medis yang dibutuhkan. Sedangkan Wafa jalan beriringan dengan bapak tersebut.


Terlihat seorang ibu hamil tengah merintih kesakitan.


'Sebentar ya bu saya periksa dulu!"


"Mbak ini.....?" Bapak tersebut menatap Wafa dengan bingung. Ia memanggil Wafa dengan Mbak karena melihat Wafa masih muda.


"Istriku seorang bidan pak. Bapak tenang ya! Biar istri saya memeriksa istri bapak." Bapak itu hanya mengangguk.


"Bagaimana istri saya bu bidan? Apa benar mau melahirkan hari ini?"


"Masih pembukaan 2 jika kontraksinya bertambah dan rutin ini akan mempercepat proses kelahiran anak bapak. Maaf ini anak ke berapa pak?"


"Ini anak kelima, bu bidan." ucapnya malu-malu.


"Oh...ya....Masya Allah Alhamdulillah ya pak diberi rizki lagi oleh Allah!" Wafa terhenyak teryata Allah memberikan karunia yang lebih pada keluarga yang baru ia temui, walaupun secara realita kehidupan mereka sangat sederhana, namun mereka tidak pernah takut akan hidup susah karena semuanya sudah dijamin oleh sang Maha Pencipta.


"Kalau ibu dan bapak sudah punya anak belum?"


"Sedang proses pak, kami baru 3 bulan menikah." Alhan meraih jemari istrinya.


"Semoga dipercepat ya pak"

__ADS_1


"Aamiin."


"Oiya anak-anak pada kemana?" Wafa dan Alhan mengedar ke seluruh ruangan tidak tampak anak-anak di sana.


"Anak-anak saya ungsikan ke rumah mertua, bu bidan." Bapak itu tersenyum. Beberapa saat mereka terdiam. Wafa memperhatikan ibu hamil yang mondar-mandir sambil memegang perutnya sesekali ia meringis.


"Maaf bapak tadi mau membawa istri lahiran di mana?"


"Puskesmas saja bu. Kami tidak memiliki banyak uang. Kata bidannya sih terakhir kali periksa menyarankan untuk melahirkan di rumah sakit saja karena kandungan istri saya bermasalah. Janinnya sungsang dan berat badan janin berlebih. Terus waktu kelahiran anak keempat dicaesar. Jadi katanya harus dicaesar lagi. Terus terang saya bingung bu bidan." Terlihat peluh membanjiri pelipisnya padahal suasana saat itu masih turun hujan.


Wafa menghela nafasnya dalam. Kalau saja istri si bapak melahirkan sebelumnya tidak caesar tentu ia bisa membantu persalinan normal. Namun resiko yang akan terjadi bisa membahayakan keduanya maka sebaiknya lahir di rumah sakit saja. Ia jadi teringat dengan dr. Rasya yang bertugas di rumah sakit terbesar di kota ini. Ia pun menghubungi dr. Rasya atas izin suaminya saat itu juga.


Lama tak diangkat. Setelah menunggu lima menit akhirnya Rasya mengangkat ponselnya.


"Ya Fa ada apa?" Seru Rasya dari ujung sana.


"Kak Rasya ada di rumah sakit sekarang?"


"Iya kenapa? Baru beberapa jam ga ketemu sudah kangen lagi sama kakakmu ini?"


"Iiish apaan sih kak ga jelas pisan."


"Begini kak di tengah jalan aku bertemu pasien yang mau melahirkan. Rekomendasi dari bidannya harus dirujuk ke rumah sakit. Kakak bisa bantu untuk proses persalinannya?"


"Bisa." Jawab Rasya singkat.


" Oke kami ke sana sekarang!" Wafa langsung memutuskan kontak secara sepihak.


-


-


"Wafa....wafa...tunggu...yah...ya...diputus. Kebiasaan istrimu itu, Han. Sebelas dua belas. Suami isteri sama saja, sama-sama sering memutuskan panggilan secara sepihak." Gumam Rasya gemas sendiri.


Rasya kembali ke ruangannya setelah membantu persalinan SC 2 orang secara berturut-turut. Setelah ini jadwalnya agak longgar. Hanya tadi setelah Rasya mendapatkan telepon dari adik angkatnya, ia merasa harus menunggu pasien lagi untuk ditindak lanjuti.


-


-

__ADS_1


Hujan berganti gerimis kecil. Alhan memarkirkan mobilnya di parkiran setelah menurunkan tiga orang termasuk istrinya. Ia segera menyusul ke dalam rumah sakit. Wafa menghampiri resepsionis.


"Saya bidan Wafa adik dr. Rasya. Saya membawa pasien untuk ditindak lanjuti oleh beliau. Kami sudah buat janji dengan beliau agar dilakukan SC."


"Baik ibu silakan diisi prosedur administrasinya dan silakan membayar minimal 75% untuk proses persalinan SC." Jelas resepsionis berhijab warna putih.


Pasien sudah dibawa menuju ruang bersalin. Wafa menerima lembar fotokopi KTP untuk dijadikan data pasien.


"Bapak tenang saja semuanya saya yang urus."


"Tapi bu bidan...kami tidak memiliki uang sebanyak itu. Ini rumah sakit besar biaya SC sampai 25 juta itu bagi kami sangat berat. Saya pindah ke puskesmas saja ya bu?" Wafa menggeleng.


"Tidak usah dipindah. Percuma ke puskesmas juga pasti akan di rujuk ke rumah sakit Biarkan kami yang urus semuanya. Bapak hanya bantu doa. Nanti bapak bilang terima kasih kepada dr. Rasya, beliau yang akan membantu proses persalinan istri bapak sampai selesai, beliau sangat baik."


Dua mata menatap Wafa dari kejauhan. Dia tersenyum senang, istrinya bisa menolong orang yang kesulitan sampai mengantar pasien ke rumah sakit. Ia lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri.


Terlihat sahabatnya sedang mendekati istrinya.


"Kak aku titip bu Rena, aku mohon berikan yang terbaik untuk proses kelahiran anaknya!' kata Wafa menitipkan pasien yang bernama Rena.


'Iya kamu masih seperti dulu peduli sama orang lain. Ngomong-ngomong Suamimu mana, Fa? Wafa menoleh kekiri dan ke kanan.


"Aih iya aku lupa ke sini bareng suami." Wafa menepuk jidatnya. Rasya hanya menggelengkan kepalanya. Kebiasaan Wafa karena kesibukan dan kepeduliannya sampai lupa sekelilingnya. Setelah mengurus administrasi, Wafa berkeliling mencari suaminya. Namun nihil.


Wafa mencari sampai keluar di sebuah taman samping rumah sakit. Saat itu gerimis sudah mulai turun. Cuaca masih mendung.


"Aku di sini sayang." Secara tiba-tiba Alhan muncul di belakang tubuhnya. Wafa membalikkan tubuhnya dengan senyuman yang manis.


"Mas Han! Mengagetkan saja. Maaf tadi kutinggal. Kukira mas diculik."


"Apa! Diculik?" Wafa mengangguk.


"Yang benar saja? Tadi


penculiknya enggan menculikku."


"Kenapa? Karena aku sudah diculik duluan." ucapnya tenang sambil menatap istrinya dalam.


"Siapa yang berani menculikmu duluan?"

__ADS_1


"Kamu. Ya kamu satu-satunya orang yang sudah menculik hatiku sampai aku tak berkutik." Wafa kaget tak percaya dibuatnya ternyata suaminya bisa mengombal juga. Alhan tersenyum penuh arti.


__ADS_2