
Villa yang di tempati Alhan masih terlihat utuh tidak ada yang rusak, air pun sudah surut. Beruntung bagi Alhan tasnya bisa di selamatkan karena saat itu Alhan menyimpannya di atas lemari pakaian yang terbuat dari kayu. Air yang masuk tidak sampai ke lantai 2, hanya sampai tangganya saja, hampir saja air itu meleber menyentuh lantai atas. Di villa teman-teman panitia sudah menunggu di lantai atas karena lantai tersebut yang masih terlihat bersih.
"Maaf menunggu lama. Jadi rapat dadakannya?"
"Iya pak ini sedang dibahas. Kejadian semalam membuat para peserta lari kocar-kacir dan mungkin hanya sebagian saja yang kembali itu pun hanya mengambil barang - barang miliknya saja. Beruntung tidak ada korban yang parah. Kita kesulitan meminta peserta untuk kembali ke sini karena kita tidak memiliki kontak mereka. Oiya untuk data sekolah masih aman, kita butuh nama-nama peserta karena hak mereka belum dibagikan, menurut kalian bagaimana teknisnya?" penjelasan ketua panitia cukup gamblang.
"Kalau data peserta masih ada saya rasa masih aman. Kita tinggal meminta nomor rekening para peserta ke sekolah masing-masing via email atau tahap awal minta nomor hp pesertanya saja dulu kita buatkan grup sementara di WhatsApp. Kita kirim informasi ini melalui email ke sekolah masing-masing saya pikir ini lebih praktis." Ujar Alhan penuh solusi. Mereka manggut - manggut tanda setuju.
"Oke deal. Pak Herman tolong hubungi pihak sekolah yang bersangkutan. Terus tolong untuk panitia dan pemateri sekarang saja honornya dibagi biar ga mumet. Dan mumpung kita sedang berkumpul"
"Nah kalau ini aku semangat" ujar pak Iqbal yang dibalas dengan gelak tawa mereka.
Alhan menunggu jawaban dari Wafa, entah mengapa ia begitu kangen pada wanita itu sehingga ia mencoba untuk menghubunginya namun ga diangkat-angkat juga. Ia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di ponsel yang ia pegang. Sedang sibukkah isterinya itu sehingga ia tidak sempat untuk menerima panggilannya bahkan membaca pesannya. Alhan menghela nafasnya dalam.
"Kanapa Pak? Duh iya penganten baru apa kabar ini! Kasihan banget nih teman kita ini belum merasakan malam pertama" Ledek pak Iqbal.
"Wah mantap pak Alhan demi tugas negara rela ninggalin isteri di malam pertamanya. kalau aku sih mikir-mikir" Ujar pak Herman. Sementara yang lain tertawa.
__ADS_1
"Kalian ini seneng amat temannya merana. Untung saja aku ga jadi ajak dia buat malam pertama di hotel engga tahunya ada kejadian seperti ini. " Alhan bersyukur sekali Wafa menolak ikut saat itu, Sehingga isterinya tidak ikut mengalami hal tragis tadi malam. Bisa saja kejadian semalam memberikan rasa trauma yang mendalam pada beberapa orang yang mengalaminya.
-
-
Nurmala masih menunggu Alhan di teras villanya. Beberapa teman sudah bersiap untuk kembali ke rumahnya masing-masing.
"Bu Nur kita pulang bareng yuk! Kita iuran sewa grab biar lebih hemat kita kan searah. Kebetulan yang searah ada 6 orang, gimana mau bareng engga?" Salah satu peserta menawarkan untuk pulang bersama. Menunggu Alhan yang tak pasti akhirnya Nurmala pun mengiyakan. Tadinya Nurmala mau ikut pulang bersama Alhan minimal sampai jalan utama kota selanjutnya mau naik minibus. Tapi karena teman-temannya mengajak akhirnya ia memilih pulang bersama mereka.
-
Sesampainya di klinik Wafa langsung menuju ruang persalinan. Ia langsung menangani pasien yang sudah pembukaan penuh. Tak berlangsung lama bayi pun keluar dengan selamat.
"Alhamdulillah bayinya laki-laki Bu." Tangis bahagia mewarnai ruangan itu. Sepertinya bayi tersebut sangat menunggu kehadiran bidan Wafa sehingga saat bidan Wafa datang bayi pun keluar dengan mudah dan lancar.
Selesai menangani pasien Wafa langsung pulang karena ia ingat kalau Minggu sore suaminya akan pulang. Tidak lupa ia mampir ke toko buah-buahan untuk membeli apel, pisang dan jeruk yang disukai suaminya.
__ADS_1
Tepat pukul 16.00 wib Wafa pulang disambut bunda mertuanya.
" Alhan mana sayang kok engga bareng?"
" Wafa tadi engga sempat bertemu langsung dengannya bun, sepertinya ia sibuk banget. Tapi mas Alhan sehat kok Bun. Insyaallah sore ini pulang. Wafa ke atas dulu ya Bun, badan Wafa lengket nih, mau mandi bau asem" Sambil mengendus tubuhnya seraya tertawa. Wafa meletakkan buah-buahan di atas meja makan setelah membersihkan dan menatanya terlebih dahulu.
Wafa menyiapkan dirinya untuk menyambut suaminya, hal ini sesuatu yang pertama kali yang harus ia lakukan. Sudah wangi dan rapi Wafa beranjak menuju dapur, ia memastikan ada makanan untuk disiapkan khawatir suaminya belum makan.
Sore sudah terlewati namun suaminya belum datang juga. Kemana dia? Dia ingat sejak siang tadi ponselnya belum ia buka, ia setengah berlari ke lantai atas untuk mengambil ponselnya. Benar saja suaminya berkali-kali menghubunginya dan menulis pesan singkat untuknya.
"Sayang angkat dong teleponnya!"
" Kamu sedang sibuk ya sayang"
Wafa membaca chat - chat yang lainnya dengan cepat. Akhirnya Wafa membaca chat yang ditulis terakhir kalinya.
"Duh maaf sayang, mas tidak bisa pulang sore ini. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga. Kemungkinan malam pulang."
__ADS_1
Ada rasa kecewa di raut wajahnya. Ia merasa sia-sia sudah mempersiapkan segalanya. Selintas ia mengingat kebersamaan Alhan dengan mantannya di rumah sakit dan dugaan berlanjut di sekitar hotel walaupun belum terbukti ada pertemuan lanjutan namun Wafa yakin mereka pasti bertemu kembali karena berada di lingkungan yang sama. Ia melihat kembali sebuah foto yang masih bertengger di atas meja kerja Alhan diraihnya foto tersebut ia bermonolog dalam hati.
"Aku harap kamu tidak mengecewakanku mas. Sungguh aku tidak bisa menerima ini semua. Jika terbukti kalian masih ada perasaan dan pertemuan terlarang aku tidak bisa memaafkan mu mas. Tolong jangan pernah sakiti aku...hik...hik ..hik."