
Nurmala sudah sampai di rumah makan Almira. Tempat itu adalah tempat favorit yang sering ia kunjungi bersama Alhan maupun Herdi. Netranya menyapu out door yang ada di rumah makan tersebut. Bernuansa alam karena terdiri dari beberapa gazebo yang menghadap persawahan sehingga setiap pengunjung akan merasa rileks dan nyaman. Ia memilih gazebo nomor 6 yang terletak di paling pojok, sesuai permintaan Alhan sebelum berangkat. Kebetulan tempat itu belum ada yang booking.
Nurmala duduk lesehan menghadap persawahan yang terhampar luas. Burung Pipit beterbangan tatkala orang-orangan sawah bergerak menari -nari di tengah hamparan padi.
Nurmala menolak ketika waiters menawarkan makanan melalui daftar menu.
"Sebentar ya mas, teman saya belum datang" Waiters pun pergi setelah meyerahkan daftar menu.
Nurmala membaca daftar menu yang tertulis di sana, ada ayam bakar, gerem asem, pecak bandeng, pecak belut, ikan nila bakar, ayam geprek,rabeg (masakan khas Banten )yang harganya lumayan terjangkau untuk ukuran tenaga honorer seperti dirinya. rumah makan itu terkadang dijadikan tempat pertemuan rapat, acara keluarga, dan lainnya sehingga harus memesan sehari sebelumnya karena pengunjung rumah makan ini tak pernah sepi pengunjung.
"Assalamualaikum sayang!" Alhan membuka sepatunya kemudian ia duduk berhadapan.
' Walaikumussalam " Nurmala tersenyum manis.
"Sudah pesan makanan?"
"Belum. Kan nunggu kamu" Alhan tersenyum kemudian memanggil waiters.
"Saya pesan pecak bandeng 1, sayur asem kemudian......minumannya lemon tea hangat, kamu apa say?" Alhan menanyakan menu makanan yang akan disantap Nurmala
"Kalau saya pesan ayam bakar, sayur asem dan minumannya jus alpukat. Tolong bawakan juga otak-otak bakarnya ya!"
"Baik tunggu sebentar ya!"
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan datang mereka mengobrol melepas rindu, karena memang akhir-akhir ini mereka jarang bertemu.
"Oiya aku punya sesuatu untukmu, terimalah" Alhan membuka tasnya kemudian ia memberikan paper bag kepada Nurmala
"Tadi saya mampir ke butik membeli gaun itu, tolong kamu pake saat acara lamaran, di situ ada hijab juga."
Deg
Besar harapan Alhan agar Nurmala bisa berhijab agar keluarganya menerimanya sebagai wanita pilihan sesuai kriterianya sebagai istri Soleha. Nurmala tahu itu namun ia belum siap untuk mengikuti kemauan Alhan. Nurmala hanya tersenyum getir.
Tak lama kemudian pesanan pun datang
"Kita makan dulu aja, selesai makan kita sambung lagi. Hemmmm sedap sekali sepertinya enak"
Selanjutnya Nurmala mengambil paper bag yang tadi diberikan Alhan untuknya mendorong paper bag itu di hadapan Alhan
"Maaf saya tidak bisa menerima ini."
"Aaapa maksudmu, kamu tidak suka dengan gaunnya? Bahkan kamu sendiri belum membuka paper bag ini." Alhan agak bingung.
" Bukan.....bukan tidak suka. Apa pun pemberianmu pasti sangat bagus dan pasti saya suka namun ada hal lain yang membuat kita harus berpisah" lirihnya. Lidahnya terasa kelu setelah menyampaikan alasannya.
"Berpisah?" masih dengan mimik bingung
__ADS_1
"maksud kamu apa, kita berpisah?"
"Maaf Mas saya tidak bisa menerima lamaranmu. Batalkan saja acara lamarannya. Saya tidak bisa" Lanjutnya, Nurmala menunduk lesu.
" iiiyaa tapi kenapa?"
" Aku..... aku...." Nurmala menghela nafas panjang.
"Apa karena tidak memberimu cincin tunangan?"
"bukan....bukan itu"
"Atau karena aku sering memaksamu untuk berhijab? Kalo memang seperti itu saya tidak akan memaksamu lagi yang penting kamu mau menikah denganku"
"Bukan....bukan itu."
"Lantas apa, tolong beri saya alasan yang masuk akal"
"Aku sudah bertunangan dengan orang lain " Nurmala memejamkan matanya. Ia tidak sanggup menatap wajah tampan Alhan.
Alhan terhenyak, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Nurmala, ia yang menganggap Nurmala adalah orang yang setia dan tulus mencintainya ternyata ia mencintai lelaki lain. Apa kurangnya Alhan di mata Nurmala? Tampang? Materi? Alhan punya segalanya, walaupun itu semua titipan. Titipan dari sang maha pencipta.
Ada perasaan lega setelah Nurmala mengungkapkan semuanya. Nurmala tidak boleh egois ia harus memilih salah satu lelaki yang ia cintai. Ia tidak ingin menyakiti Alhan lebih dalam lagi. Nurmala masih menunduk tidak kuasa untuk melihat reaksi Alhan. Ingin rasanya ia segera pergi dari hadapan Alhan saat itu juga.
__ADS_1