
Herdi memarkirkan mobilnya di pelataran rumah Nurmala. Ada guratan kebahagiaan di wajahnya yang tampan. Senyumnya selalu mengembang. Sesekali ia melihat wajah Nurmala yang sedang tersenyum pula. Kemudian ia membukakan sealbelt yang dikenakan Nurmala, hampir saja hidung mereka bersentuhan. Namun ia urungkan untuk menyentuh wanitanya karena ia sadar keberadaan mereka sekarang.
"Aku janji sebentar lagi aku akan mengajak keluargaku untuk melamar mu. Janin yang sudah tumbuh ini jangan dibiarkan tidak memiliki ayah." Herdi mengusap perut Nurmala yang masih rata. Setelah ia mengetahui Nurmala benar-benar sedang mengandung anaknya ia lebih bersemangat untuk selalu menjaga wanitanya agar tidak terjadi apa-apa. Setelah dari klinik mereka menyempatkan diri untuk berbelanja kebutuhan rumah Nurmala dan membelikan susu ibu hamil sebagai penunjang kehamilannya. Usia kandungan Nurmala saat ini berumur 3 bulan. Sebenarnya Nurmala sudah mengetahui dirinya mengandung anak Herdi itulah sebabnya Alhan harus ia lepas dari hatinya karena ia tidak ingin Alhan kecewa setelah mengetahui perbuatannya. Tadi sore Herdi mengajaknya ke klinik untuk memastikan keadaan Nurmala yang sering terlihat lelah dan lesu, selalu ada harapan agar tujuannya bisa tercapai.
Diluar dugaan ternyata Nurmala melihat Alhan yang berada di klinik tersebut dengan gagahnya tanpa memperdulikan keberadaannya bersama Herdi. Namun setidaknya hal itu tidak membuat Nurmala menjadi malu karena saat itu Alhan justru seperti orang asing yang sama sekali tidak mengenali Nurmala. Namun tetap saja ada rasa penasaran yang mengganjal hati, untuk apa Alhan berada di klinik tersebut? Apalagi ketika Nurmala melihatnya berjalan menuju lantai 2. Entah kapan rasa penasaran itu terjawab yang jelas saat itu Alhan terlihat sangat sehat.
"Turun yuk!" Ajak Nurmala lembut.
__ADS_1
"Oh iya. Sampai aku lupa kalau kita sudah sampai rumah. Sebentar aku bukakan pintunya." Herdi turun lalu mengitari mobilnya untuk membukakan pintu mobil yang ditumpangi Nurmala.
Mereka masuk ke dalam rumah sambil menenteng barang belanjaan. Terlihat rumah begitu sepi. Sepertinya orang rumah sudah tidur.
"Masuk yuk!" Ajak Nurmala
"Aku langsung pulang ya, jangan lupa jaga kesehatan dan diminum susunya!" Ujar Herdi penuh perhatian.
__ADS_1
"Baik sayang. Kamu hati-hati di jalan." Nurmala tersenyum melepas kepergian kekasihnya itu. Nurmala merogoh tasnya untuk mengambil kunci cadangan rumahnya yang terkunci dari dalam. Ia masuk perlahan tidak ingin orang rumah terganggu dengan kedatangannya yang cukup larut. Hampir semua ruangan lampunya dipadamkan. Ia menata kebutuhan dapur ke dalam kulkas. Sedang susu bumil ia akan bawa ke dalam kamar untuk disimpan di sana. Ia tidak ingin orang rumah tahu dirinya tengah berbadan dua. Tanpa ia sadari sejak tadi ada 4 mata sedang mengawasinya. Lampu tiba-tiba menyala.
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Nurmala menghentikan aktivitasnya. Netra menyapu sudut ruangan, tidak ada siapapun di sana. Dengan terburu-buru ia menuntaskan pekerjaannya sampai kulkas terisi penuh. Ia kemudian mencuci tangannya di wastafel dapur setelah merampungkan pekerjaannya dan menutup kulkas dengan rapat. Ia heran tiba-tiba lampu menyala sendiri karena itulah ia akan coba mengecek ruangan khawatir ada orang lain yang menyalakannya. Begitu terkejutnya Nurmala ketika ia membalikkan badan sudah ada dua orang yang sedang menatapnya tajam penuh amarah.