
Ada rasa kasihan pada mantan kekasihnya itu. Entah apa yang sudah terjadi padanya sampai ia ditemukan Kasdun di pinggir jalan dalam keadaan pingsan. Alhan menyorot tajam pada suster yang sudah melarang penanganan bagi Nurmala.
"Jadi kau yang melarang Kasdun membawa ibu hamil masuk ke klinik ini?" Suara Alhan masih pelan.
"Iya pak karena dia tidak bisa membayar administrasi." Jelas suster tanpa merasa bersalah. Alhan menghembuskan nafasnya pelan.
"Pak tolong bu Nurmala, saya khawatir beliau kenapa-napa. Saya janji setelah ini saya coba cari pinjaman untuk membayar administrasi yang dibutuhkan." mohon Kasdun pada Alhan.
"Tidak perlu!" Seru Wafa setelah sampai di depan ruangan suaminya. Ia berniat menemui suaminya untuk membicarakan masalah yang terjadi malam ini. Tiga orang yang terlibat obrolan saat itu menoleh ke arah Wafa.
"Bu Nurmala sudah ada di tempat yang aman, siapa namamu?"
"Saya Kasdun bu. Ibu makasih sudah berkenan menolong guru saya."
"Oooh itu guru kamu. Kamu anak yang baik sudah menolong dan membawa ibu Nurmala ke tempat ini. Kamu tenang saja gurumu sudah aman beliau sekarang berada di ruang bersalin. Sebentar lagi akan ditangani oleh dokter. Dan kau ikut ke ruangan saya!" Wafa menunjuk suster Merry.
Deg
Deg
Suster Merry merasa terkejut. Perasaannya jadi tidak menentu. Melihat tatapan tajam dari seorang bidan yang terkenal ramah, baik dan tutur katanya lembut berubah menjadi wanita berwajah horor seperti sedang memendam kemarahan. Ia mengikuti Wafa dari belakang dengan langkah cepat, karena Wafa sendiri berjalan dengan cepat.
"Duduk!" Titah Wafa dingin. Setelah sampai di dalam ruangannya. Merry duduk dengan pelan. Ia masih bingung dengan keberadaannya di ruangan Wafa.
Wafa menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Kemudian ia duduk di kursi kebesarannya.
"Kamu tahu kenapa kamu berada di ruangan ini?"
__ADS_1
"Ya karena bu bidan yang minta." Jawabnya polos.
"Bagus."
"Terus apa kamu tahu mengapa saya memintamu datang ke sini?"
Merry menggeleng pelan.
"Tidak bu bidan."
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" Wafa tanya seperti itu lantaran ia baru lihat wanita yang duduk di depannya dan terasa asing baginya.
"Baru dua hari bu bidan." jawabnya jujur.
"Baru dua hari?" Wafa terkesiap. Benar dugaannya. Orang yang sudah lama bekerja di klinik ini tidak akan bertindak gegabah dalam mengambil kebijakan apalagi itu menyangkut nyawa seseorang.
"Kamu tahu peraturan dan kebijakan klinik ini?" Lanjut Wafa menahan emosi.
"Kamu tahu apa tentang klinik ini? Atau ada yang sudah memberitahumu tentang klinik ini?" Wafa khawatir ada oknum terselubung yang sengaja memanfaatkan karyawan baru untuk menjelekkan nama Klinik Sehat Medika.
"Tidak ada bu." Jawab Merry benar adanya.
"Kalau begitu baca dengan teliti peraturan dan kebijakan klinik sehat medika!" Wafa meyodorkan sebuah kertas yang sudah ditanda tangani pemilik klinik ini.
"Apa yang kau lakukan benar-benar di luar kebijakan klinik ini. Kamu baru lulus kuliah bukan?"
Merry mengangguk. Wafa menggebrak meja. Merry tersentak kaget.
__ADS_1
"Nah....jadi benar dugaanku. Kamu sebenarnya masih polos, kamu sebenarnya belum tahu apa-apa. Kamu tahu tindakan yang telah kamu lakukan tadi pada ibu hamil yang sedang pingsan bisa membahayakan 2 orang nyawa sekaligus. Klinik ini tidak pernah mengambil kebijakan seperti yang kamu katakan pada laki-laki itu." Wafa sejenak diam, ia meneguk minuman zam-zam untuk menetralkan emosinya.Sementara Merry menunduk. Baru kali ini ia kena semprot oleh bidan senior yang dia sendiri tidak tahu status bidan itu apa dan siapa.
"Klinik ini tidak membutuhkan pekerja yang tidak berempati seperti kamu. Silakan kamu berkemas dan jangan lagi datang ke klinik ini. Karena klinik ini membutuhkan orang-orang yang memiliki jiwa penolong. Dan saya lihat jiwa seperti itu tidak ada pada hati kamu."
"Maksud ibu apa? Ibu memecat saya?"
"Ya saya pecat kamu sekarang juga tapi kamu jangan khawatir, peluh yang sudah kamu keluarkan akan kami bayar."
"Tidak bisa begitu dong bu. Yang berhak memecat saya hanya pak Alhan sebagai pemilik klinik ini. Bukan kah ibu hanya seorang karyawan di sini juga jadi kalau ibu ingin memecat saya harus seizin pa Alhan dong jangan main pecat saja." Ucapnya tidak terima dengan keputusan Wafa yang terkesan mendadak.
"Bidan Wafa juga berhak untuk memecat karyawannya yang tidak disiplin dan bersikap seenaknya. Secara langsung keputusan yang bidan Wafa ambil itu sudah benar dan sudah mendapat izin dari saya." Alhan masuk di saat yang tepat.
"Pak Alhan? Pak tolong jangan pecat saya, sungguh saya tidak tahu peraturan dan kebijakan klinik ini. Saya mohon pak beri saya kesempatan untuk tetap bisa bekerja di sini. Tolong pak saya butuh pekerjaan ini."
"Saya tahu kamu butuh pekerjaan ini makanya kamu bekerja di sini bukan? Tapi kesalahanmu itu fatal sus, membahayakan nyawa orang lain dan kamu tahu siapa wanita hamil itu? Itu temanku guru dari anak muridku yang kau marahi tadi. Dan kau itu tidak mencirikan seorang suster. Dan kau tahu siapa wanita yang duduk di kursi kebesarannya?" Dagu Alhan menunjuk Wafa.
"Dia bidan Wafa. Dia istriku. Jadi apapun yang menjadi keputusannya itu sudah menjadi keputuasanku juga. Kamu paham. Oiya silakan berkasnya ditanda tangani sekaligus hasil peluhmu selama 2 hari di sini." Merry menatap 2 lembaran kertas yang berada di atas meja.
Lembaran pertama tentang pemecatan karyawan secara tidak hormat dan yang satu lagi lembaran berkas tentang pengunduran diri. Wafa meminta Merry untuk memilih salah satunya. Sebenarnya Wafa tidak tega melakukan pemecatan pada karyawannya apalagi baru bekerja 2 hari. Maka Wafa dengan hati baiknya meminta Merry memilih salah satunya saja. Wafa berharap sepulang dari klinik ini Merry bisa berubah dan bisa diterima di tempat yang baru.
Matanya sembab. Tak menyangka dari ucapannya akan mengalami hal sebesar itu. Ia pun menandatangani lembar pengunduran diri agar ia masih bisa melamar pekerjaan di tempat lain. Menyesal tak ada gunanya, nasi sudah menjadi kupat tahu jadi ya telan aja walau pun rasanya asin.
-
-
Sesuai intruksi Alhan, Kasdun menjenguk Nurmala di ruang bersalin. Ia masih duduk di depan ruangan tersebut karena Nurmala sedang berada dalam penanganan dokter Rasya.
__ADS_1
Dokter Rasya menghubungi Wafa agar Wafa saja yang menindaklanjuti proses persalinan Nurmala. Tujuannya agar lebih nyaman dan aman.
Terus apakah Wafa mau mengingat Nurmala mantan nya Alhan?"