
Kasdun menatap nanar laki-laki tampan yang sepertinya sudah terlihat akrab dengan keluarga Tiara. Apalagi begitu tahu laki-laki itu memiliki pekerjaan yang menjadi impian para emak-emak di kampungnya. Hati Kasdun sedikit menciut haruskah sampai di sini perjuangan Kasdun yang selama ini sudah membara. Seakan bisa meredup karena kehadiran laki-laki yang bersama Tiara.
Sementara lihatlah dirinya hanya seorang sopir angkot dari keluarga sederhana yang hanya memiliki cinta dan tanggung jawab. Apakah Tiara mau dengan keadaan Kasdun yang seperti itu? Kalau performance Kasdun memang tidak kalah tampan dengan laki-laki itu hanya namanya saja yang memang tidak sesuai dengan wajahnya yang manis dan tampan.
Emaaaak tidak adakah nama yang lebih bagus selain Kasdun. Nama Aliando, Tomi, Dimas misalnya. Kasdun tepekur seolah menyalahkan orang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Ah buat apa menyalahkan emak? Apalah arti sebuah nama jika tidak berakhlak. Setidaknya nama Kasdun sudah memberikan yang terbaik dalam hidupnya menjadi penolong bagi orang yang membutuhkan dan Kasdun sangat bersyukur dilahirkan oleh emak. Emak yang sudah berhasil mendidik seorang Kasdun menjadi manusia yang bermoral.
Pintu pagar yang terbuka lebar membuat Kasdun dengan mudah masuk ke halaman yang cukup luas, dengan aneka bunga yang begitu indah menentramkan mata dan hati.
Entah kekuatan dari mana kaki Kasdun melangkah mendekati tiga orang yang sedang bercengkrama di teras rumah. Hanya untuk sekedar menyapa, mengenal atau mungkin mengetahui hubungan laki-laki itu dengan Tiara. Ya Kasdun ingin memastikan orang yang ia cintai bukan milik siapa-siapa.
"Assalamualaikum...!" Kasdun tersenyum dengan sedikit keberanian yang ia miliki ia menyalami ketiga orang yang ada di hadapannya.
"Walaikumussalam..." Jawabnya serempak.
"Cari siapa ya?" Tantenya Tiara yang tidak mengenal Kasdun menanyakan perihal maksud Kasdun datang ke rumah itu.
"Saya mencari....." Matanya tertuju pada Tiara namun kalimatnya menggantung karena Tiara menyelanya.
"Kasdun, kamu ke sini? Oh ya pasti kamu ke sini mau bertemu ka Nurmala, iya kan? Tapi sayang ka Nurmalanya belum pulang. Kamu mau nagih upah karena sudah menolong ka Nurmala kan? Nanti saja deh kamu datang lagi. Kamu datang di saat yang ga tepat." Sela Tiara merasa tidak suka dengan kehadiran Kasdun.
Deg
Ada nyeri di hati Kasdun ternyata Tiara menganggapnya sama dengan orang lain yang menolong dengan pamrih. Padahal tidak ada sedikitpun dalam hatinya untuk meminta bayaran setelah menolong orang apalagi yang ia tolong adalah guru yang sangat ia kagumi.
Kasdun menelan salivanya dengan susah payah. Entalah nyalinya ciut ketika berhadapan dengan Tiara bersama lelaki itu. Lelaki yang begitu tampan, tampil mempesona. Yang sering Tiara panggil Blu.
"Oooh jadi mas ini yang sudah menolong keponakan tante? Mari sini gabung duduklah. Tiara buatkan minuman buat tamu kakakmu!"
"Ih tante kenapa disuruh duduk sih? Biarin dia pulang, kak Nurmala juga ga ada."
"Tiara sekarang! Lagi pula kakakmu bentar lagi datang." Tante tidak menghiraukan omongan Tiara yang tidak suka Kasdun merusak moment bersama Blu.
Tiara dengan muka cemberut masuk ke dalam rumah untuk membuatkan Kasdun minuman. Dengan tangan jahilnya Tiara menambahkan kopi dengan ladaku merica bubuk.
"Silakan diminum mas Kasdun. Kopi buatanku sangat enak." Dengan seringai licik dibibirnya. Kasdun tahu itu.
"Waduh maaf Tiara saya tidak suka kopi." Kasdun tersenyum. Dahi Tiara berkerut tak percaya laki-laki yang menyebalkan menurutnya tidak menyukai kopi, sudah susah payah mencari ide untuk mengerjainya namun hasilnya nihil.
"Saya lebih suka air biasa saja." Tambah Kasdun.
__ADS_1
"Oooh air biasa nanti aku ambilkan air dari toilet." Ujar Tiara ngasal.
"Tiara yang sopan sama tamu. Tamu adalah raja, gih ambilkan!"
"Duh tante....kapan Tiara ngobrol sama Blu nya kalau Tiara masih disuruh ambil minuman? Blu maaf ya, ini ada iklan lewat dulu. Sebentar lagi." Tiara jelas tidak enak hati pada sahabatnya yang lama tak bersua.
"Iya Tiara santai saja."
Oeeeeeek
Oeeeeeeek
Terdengar suara Panji menangis menagih asupan nutrisi dari ibunya. Karena Nurmala belum datang dengan terpaksa Tiara memberikan susu formula yang ia beli tadi pada Panji untuk sementara waktu.
"Maaf ya, tante tinggal ke dalam dulu." Begitu mendengar tangisan Panji, tante masuk ke dalam juga.
"Iya tante." Jawab mereka hampir bersamaan.
Kini hanya tinggal mereka berdua yang duduk saling berhadapan.
"Dengan...."
Deg
"Bakal calon suami?" Tanya Kasdun dalam hati. Sepertinya ia akan kehilangan semua pengorbanannya selama ini. Kasdun nyengir.
"Berarti saya keduluan dong ya?" Kasdun tampak kecewa. Blu tertawa renyah.
"Jangan dianggap serius mas."
"Maksudmu?"
"Maksudku Tiara itu bakal calon istriku tapi belum tentu Tiara bersedia." Papar Blu seolah memberi ruang untuk Kasdun bertarung memperebutkan hati Tiara. Kasdun memicingkan matanya. Lantas senyumnya mengembang.
"Jadi itu artinya mas Blu memberikan kesempatan untuk saya bisa memenangkan hatinya Tiara?"
"Kenapa tidak? Kalau Tiara itu jodoh saya maka saya tidak akan melepasnya. Namun sebaliknya kalau ternyata dia jodoh mas Kasdun saya ikhlas memberikannya padamu. Yang penting Tiara bahagia, itu saja."
"Baik saya setuju." Kasdun menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman. Walaupun ia menyadari kemungkinannya tipis mengingat Tiara begitu membencinya.
__ADS_1
Blu dari awal memperhatikan interaksi Tiara dan Kasdun terjalin komunikasi yang tidak sehat. Terlihat sekali Tiara membenci Kasdun, entah penyebabnya apa sehingga Tiara begitu membencinya.
Tiara kembali ke teras sambil membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan. Tiara memicingkan matanya ketika melihat dua pria tampan tertawa renyah. Sungguh cepat sekali mereka berbaur dan tampak akrab.
"Dun mau main ke rumahku? Rumahku tidak jauh dari sini." Tawar Blu.
"Ooooh jadi kalian tetanggaan?" Simpul Kasdun. Berarti ada kemungkinan mereka bisa sering bertemu.
"Enggalah kan Tiara rumahnya bukan di sini. Dia hanya terdampar di rumah ini." Sambung Blu tertawa
"Blu....!" Tiara melotot.
"Ra saya pulang ya!"
"Ih kamu kok pulang sih, kan kita belum ngobrol banyak."
"Lain kali saja. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Oiya saya minta nomor hapemu nih tulis!" Blu menyerahkan ponselnya ke Tiara.
Tiara menyerahkan ponsel milik Blu setelah mengetik nomor hapenya dengan nama "Tiara Cantik Loh". Blu tertawa melihat nama itu.
"Kamu boleh miscall sekarang!"
"Dun, saya duluan ya....Ra jangan lupa ngobrol!" Blu tertawa yang membuat Tiara gondok, Blu....blu engga peka banget sih jadi orang. Ini malah menyarankan buat ngobrol berdua sama Kasdun. Dasar laki-laki
Kasdun memperbaiki posisi duduknya.
"Notik coba sih kalau bertemu dengan saya jangan jutek mulu."
"Ih sebagai apa? Yang ada saya tuh mual kalau ngobrol sama kamu."
"Mual? Kamu hamil?"
"Iiish sembarangan kamu ya! Kasdun yang terhormat sebaiknya kamu pulang juga deh...Kak Nurmala sepertinya terjebak macet, Jadi kemungkinan rada telat datang. Lebih baik kamu pulang saja."
"Loh siapa yang mau bertemu bu Nurmala sih yang ada aku kena semprot suaminya kalau aku datang untuk menemui bu Nurmala. Aku ke sini buat kamu notik."
"Hah!"
Nah kalau para readers mendukung siapa nih? Blu berpasangan dengan Tiara kalau disingkat jadi BT
__ADS_1
Atau Tiara pilih Kasdun saja jadi kalau disingkat jadi TK. Alasannya?