
Dengan percaya diri Nurmala berjalan menuju sekolah tempat ia mengajar. Balutan hijab yang ia kenakan pertama kali di sekolah memberikan kesan positif bagi yang melihatnya. Kecantikan Nurmala semakin bertambah walaupun lebih berisi namun tak terlihat kalau pada kenyataannya tubuh Nurmala tengah berbadan dua. Senyuman yang tak biasa memberi keramahan pada setiap orang yang berpapasan dengannya. Sungguh balutan hijabnya membawa perubahan besar dalam dirinya.
"Wah ...wah....wah...Bu Nur sekarang makin cantik. Mimpi apa aku semalam lihat Bu Nur dengan tampilan yang sangat berbeda seperti ini." Menatap takjub. Tatkala melihat teman seprofesinya baru pertama kali mengenakan hijab. Saat ini Nurmala mengenakan seragam Pemda dengan hijab warna senada. Nurmala menanggapi omongan pak Dodi dengan senyuman.
"Aku hanya ingin berubah ke arah lebih baik pak" Ujarnya kalem. Sambil membuat teh manis yang terletak di depan pintu masuk kantor
"ck ..ck. .ck....bagus itu. Semoga bisa istiqomah ya Bu!" Puji pak Dodi sambil mengaduk kopi
"Terima kasih bapak"
Nurmala beranjak dari sana menuju tempat duduknya yang terletak di belakang meja Bu Neni. Ia langsung mengoreksi hasil ulangan kemarin yang belum sempat ia nilai.
Satu persatu guru - guru berdatangan. Bu Neni datang dengan membawa bekal nasi beserta lauk pauk sebagai menu sarapan bersama pagi ini. Karena kebiasaan di sekolah para guru perempuan selalu membawa bekal dari rumah untuk bancakan di sekolah sambil ngerumpi tentang apa pun yang jelas bahasannya yang sedang hits bulan ini.
"Aih ada guru baru rupanya. Gitu dong Bu Nur pake hijab biar kelihatan lebih cantik dan menawan tapi ingat kecantikan ibu jangan disalah gunakan untuk yang ga bener ya Bu. Itu tidak sesuai dengan pakaian yang ibu kenakan. Coba kalau berhijab dari dulu pasti pak Han senang dan tak akan meninggalkan sekolah ini. Bu Nur sih kelamaan mikir jadi pak Han ninggalin Bu Nur deh, kasihan ...." Kata Bu Neni tersenyum miring mulai beraksi dengan lidah julidnya. Nurmala menatap Bu Neni dengan tajam. Ia selama ini diam dengan tingkah laku Bu Neni yang sok tahu.
"Apa maksud Bu Neni ya? Saya berhijab atau tidak berhijab tentu bukan urusan ibu. Aku harap ibu tidak lagi mengkritik orang lain. Cobalah ibu kritik diri sendiri ibu sudah benar apa belum? Ibu memang sudah lama berhijab tapi kata-kata ibu selalu menusuk hati orang. Jadi aku harap ibu juga bisa menjaga hati dan lidah. Karena keduanya harus sesuai dengan pakaian yang ibu kenakan. Kalau ibu tidak tahu apa-apa tentang kebenaran lebih baik Bu Neni diam dari pada Bu Neni mempermalukan diri sendiri telah menuduh tanpa ada bukti.' Cukup menohok tapi mengena dalam hati. Nurmala berlalu begitu saja melewati meja Bu Neni sambil membawa perangkat kelas karena bel pertama sudah berbunyi menandakan jam pertama sudah dimulai.
Tak terasa proses *** hari ini berjalan dengan lancar berhasil dilewati Nurmala dengan sangat baik. Selepas jam terakhir Nurmala dipanggil kepala sekolah di kantornya yang terletak di samping ruang tata usaha.
__ADS_1
"Ini Bu Nur saya harap Anda bisa datang pada pelatihan Jumat ini. Cek in bisa Jumat malam karena acara di mulai hari Sabtu pukul delapan pagi." Nurmala menerima surat tugas dari kepala sekolah untuk menghadiri pelatihan kurikulum terbaru saat ini.
"Di Anyer" Gumam Nurmala pelan. Ia menghembuskan nafasnya pelan. Semoga sanggup menjalaninya mengingat kandungannya yang menginjak 4 bulan.
"Baik bapak saya siap!" Ujarnya mantap.
Setelah menerima surat tugas ia menuju ruang guru untuk mengambil tasnya kemudian langsung pulang. Ia tidak ingin berlama-lama di ruangan itu hanya untuk menghindari omongan yang tak diinginkan.
-
-
Nurmala memesan makanan yang ia inginkan. Kemudian memilih duduk di dekat jendela.
Minuman yang ia pesan terlebih dahulu sudah tersaji di mejanya.
Tiba-tiba saja di hadapannya sudah duduk seorang laki-laki yang sangat ia rindukan.
"Herdi...." Lirihnya. Herdi tersenyum tidak pernah menyangka akan bertemu dengan kekasihnya di tempat ini. Ingin rasanya ia memeluk wanitanya dengan kerinduan yang membuncah. Namun ia tahan. Awalnya ia sempat ragu dengan wanita yang ada dihadapannya khawatir salah orang karena menggunakan pakaian yang sangat berbeda dari biasanya. Namun setelah Nurmala mengenalinya ia yakin kalau wanita yang duduk di hadapannya itu adalah wanita yang selama ini ia rindukan
__ADS_1
"Nur kamu sekarang berbeda. Kamu terlihat semakin cantik. Aku tahu kita tidak boleh ada pertemuan tapi ternyata tanpa sengaja kita bertemu di sini." Ujar Herdi sangat senang bisa bertemu dengan wanitanya. Nurmala tidak menanggapi.
"Mas ..mas tolong pesanan saya dibungkus saja ya!" Seru Nurmala pada pelayan yang melewati mejanya.
"Baik Bu" Pelayan itu mengiyakan sambil mengangguk.
"Maaf mas Herdi untuk saat ini kita tidak usah ada pertemuan dulu. Mas harus bersabar jika ingin meraih masa depan kita. Tolong hargai keputusan orang tuaku, mas."
"Tapi Nur....." Herdi tidak melanjutkan ucapannya ketika Nurmala mengangkat tangannya.
"Cukup mas. Tolong hargai keputusan yang sudah disepakati. Kalau kita berjodoh kita pasti bertemu lagi. Berdoalah untuk masa depan kita. Aku tunggu janjimu mas. Mas tidak usah khawatir kami akan baik-baik saja. Permisi." Nurmala berlalu begitu saja tanpa memperdulikan perasaan Herdi yang begitu merindukannya. Bukan Nurmala tidak rindu. Justru dengan pertemuan ini bisa membuat Nurmala merasa sakit hati bila teringat masa lalu yang kelam yang membuat ia ternodai sebelum waktunya walaupun mereka khilaf melakukannya atas dasar saling menyukai dan saling mencintai.
Nurmala menuju kasir untuk membayar makanannya. Keinginannya untuk makan langsung di tempat itu batal total karena pertemuan tak disengaja dengan kekasih yang sangat ia rindukan.
"Belum saatnya mas, belum waktunya kita bersama. Bersabarlah mas kita pasti akan dipertemukan kembali. Kita akan bahagia bersama anak kita" ujar Nurmala bermonolog dalam hati sambil mengusap perutnya yang sedikit menonjol. Bulir air mata yang awalnya menggenang di pelupuk mata akhirnya lolos juga. Isak tangisnya tak tertahankan. Sambil makan rujak ia menangis sehingga rasa rujak pun seperti rasa nano-nano.
Di luar gerimis mulai turun seolah tahu isi hati Nurmala saat ini. Kesedihannya, kegundahannya disambut gerimis yang mulai deras. Ia berharap bisa melalui drama kehidupan ini dengan kesabaran dan kekuatan. Ia menyadari kehidupannya ke depan pasti akan ada ombak yang menerjang kehidupannya sehingga ia harus menyiapkan benteng yang mampu menopang derasnya ombak kehidupan tersebut.
-
__ADS_1
-