CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 21 Nasehat Wafa


__ADS_3

Alhan membanting setir mengerem mendadak, Ia menghindari seekor kucing yang melintasi jalan. Beruntung mobilnya tidak menabrak apapun. Kucing itu selamat, berlari ke seberang jalan.


"Astaghfirullah" Lafadz istighfar ia ucapkan berulang-ulang sampai hatinya tenang. Ia menghela nafas panjang, lalu melajukan mobil kembali dengan kecepatan sedang.


.


Dengan jarak tempuh sekitar dua jam akhirnya Alhan sampai di sebuah danau. Suasananya cukup sepi, sehingga ia berkesempatan untuk berteriak mengeluarkan emosi yang berkecamuk dalam diri. Sesekali ia melempar kerikil ke tengah danau.


Danau Cinta yang hanya dikunjungi banyak pasangan itu akan ramai pada pagi, sore bahkan malam hari. Tempat itu tidak hanya dijadikan tempat singgah namun terkadang dijadikan tempat romantis untuk momen tertentu bersama pasangan. Alhan belum pernah datang ke danau tersebut bersama kekasihnya yang dulu mau pun saat bersama Nurmala. Ia ingin suatu saat setelah menikah dapat mengajak isterinya ke Danau Cinta untuk menciptakan momen yang paling berkesan dalam kisah hidupnya.


Sepasang mata mengikuti gerak -gerik Alhan sampai ia berada tepat di belakangnya tanpa Alhan sadari. Ia hanya diam seperti layaknya bodyguard yang setia menjaga majikannya.

__ADS_1


"Penghianaaaaat!!" Teriak Alhan melempar batu kecil ke tengah danau, nafasnya naik turun. Ingin rasanya ia menuntut keadilan namun pada siapa? Di sisi lain ia tidak percaya pada ucapan Nurmala, namun itu jelas diucapkannya dengan kesadaran.


Kalau saja cincin yang ia akan berikan pada Nurmala itu tidak tertinggal di jari Wafa tentu ia sudah mendapatkan tambatan hatinya. Ia menyesali kebodohannya. Tak terasa matanya berkaca-kaca. Ia menoleh saat terdengar suara deheman dari seseorang.yang sangat familiar.


"Kamu! Mau apa kamu ke sini? Ucapnya ketus. Wanita yang kini berada di sampingnya memakai baju setelan cardigan berwarna Milo yang dipadukan dengan hijab senada bersikap sangat tenang. Kedua tangannya masuk ke dalam kantong celana. Matanya menatap lurus ke depan.


"Kebetulan aku lewat danau ini tadi ada pasien yang melahirkan dekat sini" Jawabnya benar adanya.


" Aku lihat mobil bapak memasuki tempat ini dan kebetulan aku mau memberikan sesuatu milik bapak, ini...."Wafa merogoh tas kemudian mengambil cincin milik Alhan yang sempat dipermasalahkan.


"Buat apa? Aku tidak membutuhkan cincin itu lagi. Kalau saja kamu tidak telat memberikan cincin itu padaku tentu kekasihku tidak akan menerima pinangan orang lain. Kamu tahu? Dia meninggalkan aku Fa demi lelaki lain yang lebih dari pada aku. Aku tidak tahu apa istimewanya lelaki itu, apa dia kaya dan punya segalanya? Dia pengusaha Fa. Sedangkan aku hanya seorang guru honor yang gajinya kecil. Apa semua wanita berpikir seperti itu Fa? Uang....uang dan uang. Segalanya dinilai dengan uang. Sungguh aku kecewa Fa....aku kecewa" Wafa bergeming. Telapak tangannya masih menggenggam cincin itu Wafa mencoba untuk menjadi pendengar setia. Dia sama sekali tidak tersinggung ketika Alhan menyalahkannya. Wafa hanya diam tidak berkata apa pun selain mendengarkan. Dia melihat betapa rapuhnya Alhan di hadapan seorang wanita karena wanita. Mungkin inilah yang dinamakan patah hati yang tidak pernah dialami wafa selama ini. Karena memang Wafa belum pernah berpacaran. Walaupun banyak yang menginginkan Wafa untuk menjadi kekasihnya, namun Wafa menolaknya secara halus karena memang ia tidak berminat untuk pacaran inginnya ada orang tulus mencintainya dan berkomitmen dalam berumah tangga, dan tentunya tidak akan ada patah hati seperti yang dialami Alhan saat ini walaupun tentunya akan banyak masalah yang diujikan setelah pernikahan

__ADS_1


Kekecewaan Alhan memang beralasan, dia tidak pernah mau mengungkap siapa dirinya pada orang lain selain Wafa yang memang sangat dekat dengan keluarganya. Orang lain hanya tahu Alhan sebagai guru honorer yang memiliki gaji di bawah rata-rata UMR. Alhan mencari calon istri yang tidak materialistis dan mau menerimanya apa adanya tanpa melihat kekayaan yang dimilikinya.


"Jangan menilai wanita semuanya sama pak. Ketahuilah banyak wanita yang memiliki harga diri yang tidak dinilai dengan uang. Silakan bapak menyalahkan siapapun atas kejadian yang sudah terjadi namun yakinlah semuanya itu karena kehendak Allah. Harusnya bapak bersyukur dia jujur sebelum pernikahan itu terjadi, kalau tidak? Kalau memang ia jodoh bapak, aku yakin walaupun ia sudah bertunangan ia pasti akan kembali dengan cara-Nya namun jika ia bukan jodoh bapak walaupun jungkir balik pun dia tidak akan bisa bersatu. Yakinlah Allah sudah menyiapkan wanita terbaik untuk bapak, wanita itu adalah orang yang sangat beruntung mendapatkan bapak." Wafa memanggilnya bapak lantaran untuk menghormati dan menghargai Alhan sebagai atasannya sejak dr. Ibrahim memberikan tanggung jawab pengelolaan Klinik Sehat Medika yang dialihkan pada Alhan sebagai anak tunggalnya. Alhan terhenyak nasihat Wafa begitu membuatnya tenang. Ia tidak menyangka orang yang selama ini sering membuatnya kesal bisa memberikan kenyamanan.


"Simpanlah ini untuk calon istrimu kelak". Wafa menyerahkan cincin itu kembali namun tangan Alhan tidak terulur untuk mengambilnya ia hanya memandangi cincin itu. Lalu ia menggeleng


"Tidak aku tidak membutuhkan cincin itu lagi biarlah cincin itu pergi bersama kenangan dan kekecewaanku padanya. Kalau kau suka ambilah cincin itu untukmu namun jika kau tidak suka berikan saja pada orang yang membutuhkan. Oiya cincinmu akan aku kembalikan nanti" Alhan langsung memakai kacamata hitamnya, ia menghentikan langkahnya sebelum beranjak pergi ia mengatakan sesuatu yang membuat perasaan Wafa mendadak adem.


"Dan ingat jangan panggil aku bapak ketika kita sedang berdua." Wafa membulatkan kedua bola matanya tak percaya. Kembali Wafa menggenggam cincin itu. Senyumnya tersungging dengan manis.


"Aku akan menyimpan cincin ini dengan kenangan yang terindah saat mengenalmu, Mas" Gumam Wafa lirih. Wafa pun beranjak dari tempatnya menyusul Alhan.

__ADS_1


Ternyata Alhan belum melarikan mobilnya ke jalan. Ia justru menunggu wanita yang sudah menjadi asistennya beberapa Minggu ini di klinik ayahnya. Ia menunggunya di dalam mobil. Terlihat Wafa tersenyum ke arahnya lalu membuka pintu mobil Wafa walaupun itu mobil inventaris klinik yang sering digunakan untuk urusan pekerjaan. Alhan ingin memastikan asistennya itu kembali ke rumah dengan selamat.


"


__ADS_2