CINCIN YANG TERTINGGAL

CINCIN YANG TERTINGGAL
BAB 62 Sisi lain Wafa 2


__ADS_3

Alhan meraih kedua tangan Wafa lalu mencium kedua telapaknya.


"Hari mulai sore. Jadi ke rumah kakek?"


"Sepertinya kita harus pulang. Lain kali kita ke rumah kakek. Karena besok aku harus masuk kerja." Wafa mengingatkan.


"oooh yaaa aku lupa kalau kamu masih kerja." Alhan tersenyum miring.


"Bagaimana kalau kita ke suatu tempat sebelum pulang? Aku ingin menghabiskan cuti ini berdua dengan mu. Bersama istriku yang membuatku candu." Ujarnya penuh harap.


Wafa menunduk malu. Ia tersadar kalau mereka masih di rumah sakit. Ia menatap tajam suaminya.


"Mas kita masih di rumah sakit. Kita masuk ke dalam dulu untuk memastikan ibu yang tadi sudah melahirkan atau belum." Pupus sudah harapan Alhan. Beginikah nasib menikahi seorang bidan? Harus berbagi hati dengan orang lain. Ia terlihat lesu.


"Mas kenapa, kamu ga apa-apa kan?"


"Oooh ya....tidak apa-apa aku baik-baik saja." Alhan mengusap tengkuknya, seraya tersenyum getir.


" Ayo kita ke dalam!" Alhan meraih tangan istrinya lalu menggandengnya.


-


Suaminya bu Rena masih berdiri cemas. Sepertinya proses persalinannya belum selesai. Beberapa menit kemudian terdengar suara jeritan bayi yang lahir dari ruang operasi, bayi itu lahir dengan cara caesar dengan selamat begitupun dengan ibunya. Bayi laki-laki dengan bobot 5 kg itu mulai dibersihkan. Alhan tercengang melihat bayi lahir dengan bobot berlebih.


"Fa itu bayi baru lahir? Seperti sudah berumur satu bulan saja." Ujar Alhan setengah berbisikl menggeleng tak percaya.


"Mas bisa lihat sendiri bukan?"


"Luar biasa ciptaan Allah ya Fa. Aku juga ingin segera punya anak dari rahimmu." Wafa menoleh ke samping, ia tersenyum pada suaminya yang begitu mendambakan kehadiran seorang anak.


"Aamiiin kita terus berdoa ya mas, semoga saja keinginan kita segera terwujud"

__ADS_1


"Aamiiin sayang."


Wafa melihat bayi mungil itu, seraya menggendongnya. Sementara itu bu Rena, ibu dari bayi tersebut masih tahap observasi setelah melakukan SC selama satu jam. Jadi bu Rena belum bisa ditemui.


"Bapak selamat atas kelahiran putra bapak, semoga menjadi anak yang sholeh, berbakti pada kedua orang tua dan paling terpenting selalu disehatkan baik bayi dan ibunya." Ujar Alhan.


"Iya pak....maaf kami tidak bisa memberikan apa-apa selain doa. Salam saja buat ibu semoga cepat pulih dan sehat kembali. Kami tidak bisa lama karena perjalanan kami masih jauh." Ujar Wafa menambahkan perkataan suaminya.


"Alhamdulillah kami dipertemukan dengan bapak dan ibu bidan. Kalau tidak ada kalian, entahlah. Kami hanya berharap ada keajaiban saat itu, ternyata Allah mendatangkan kalian di keluarga kami. Terima kasih bapak ibu hanya Allah yang dapat membalasnya."


"Kami hanya perantara saja pak selebihnya Allah yang mengatur pertemuan kita. Oiya diberi nama siapa anak bapak?" Tanya Wafa.


"Saya memberi nama bayi itu Gerry Mistella Reda" Kata bapak dengan lima orang anak itu.


Nama yang unik bukan? Nama yang mengandung arti bahwa bayi itu lahir saat gerimis telah reda.


"Maaf bu bidan mau tanya untuk biaya administrasinya saya harus membayar berapa?"


"Bapak punya uang berapa?"


Wafa tersenyum. Ia mendorong uang yang disodorkan padanya.


"Biaya rumah sakit sudah lunas pak. Ada orang baik yang mau melunasi administrasi rumah sakit jadi bapak tidak perlu membayar sepeser pun. Simpan saja uang bapak untuk keperluan dede bayi." Penjelasan Wafa membuat kedua alis Alhan mengkerut.


"Alhamdulillah terima kasih bu bidan. Kami sangat bersyukur sekali bisa bertemu dengan bu bidan. Terima kasih bu bidan tolong sampaikan pada orang baik yang sudah melunasi biaya administrasi kelahiran putra saya."


"Terima kasihlah pada dokter Rasya, beliau sudah banyak membantu proses persalinan istri bapak. Dan berterima kasihlah pada Allah yang telah memberi kemudahan dan kelancaran proses persalinan tersebut. Baik bapak semoga semuanya berjalan dengan lancar, maaf kami tidak bisa mengantar keluarga bapak pulang. Assalamualaikum."


"Walaikumussalam." Bapak itu menatap punggung pasangan yang sudah berjasa pada keluarganya. Air matanya mengembun. Ternyata di dunia ini masih ada yang peduli padanya dan baik padanya. Semoga Allah memberikan ridho, keberkahan dan kebahagian pada keduanya, aamiin.


-

__ADS_1


Sisa-sisa gerimis tadi siang merembes jalanan kota. Sehingga jalanan aspal masih terlihat basah dan licin. Sepanjang perjalanan Alhan hanya diam. Mukanya berubah jadi datar. Tak biasanya seperti itu. Kecuali sebelum mereka menikah, Alhan memang orang yang arogan di mata Wafa. Bulan-bulanan ia dibenci oleh pria yang sekarang berstatus menjadi suaminya itu. Dan sekarang ia berhadapan dengan muka datar suaminya, ia memberanikan diri untuk bicara.


"Mas tumben diam saja? Biasanya cerewet."


Ciiiiiit


Alhan menghentikan mobilnya setelah Wafa bicara. Ia menyorot tajam. Ada kemarahan terbit di wajahnya. Ia meihat Wafa yang sedang duduk di samping pengemudi dengan tenangnya.


" Mas kok berhenti mendadak?" Wafa menoleh, ternyata suaminya sedang menatapnya tajam memendam kemarahan.


"Mas ada apa?"


"Katakan dengan jujur siapa orang baik yang sudah membayar seluruh administrasi rumah sakit tadi?" Tanya Alhan dengan menekan sabar. Masih menatap tajam istrinya.


Wafa memutus tatapan itu. Ia menatap lurus ke depan.


Ia menelan salivanya dengan susah.


"Kalau memang benar itu kamu kenapa tidak meminta izin dulu padaku? Padahal aku ada di sana. Kamu anggap apa aku ini? Sopir kamu atau bahkan bodygard kamu sehingga tidak merasa penting untuk diberitahu? Ingat ya Fa kamu adalah istriku sekarang. Sekecil apapun yang kamu lakukan suami kamu berhak tahu."


"Maaf mas kalau aku bertindak tidak memberitahumu. Aku punya prinsip selagi aku memiliki harta sendiri maka untuk menolong orang yang tidak mampu orang lain tidak boleh tahu."


"Oooh jadi kamu masih menganggapku orang lain? Pantas saja kamu lebih mementingkan pasien kamu dari pada aku suamimu!" Alhan mengusap wajahnya dengan kasar.


Wafa menunduk ia tidak menyangka suaminya akan semarah ini. Bulir air mata tak kuasa ia pertahankan untuk tetap berada di singgasananya. Akhirnya lolos juga. Air mata itu keluar begitu saja saat suaminya membentaknya terus menerus. Ia mencoba memberanikan diri untuk meluapkan isi hatinya yang selama ini dipendam.


"Kamu tahu mas perasaanku saat kamu meninggalkanku pada malam pertama? Kau lebih memilih tugas negara bukan? Dan apakah kamu tahu perasaanku ketika aku tahu ternyata kamu bersama dengan mantanmu? Apakah kamu memikirkan perasaanku, engga kan? Jadi aku harap kamu juga mengerti dengan posisiku saat ini. Aku tidak hanya milikmu tapi aku juga milik banyak orang, tenagaku dibutuhkan masyarakat. Seharusnya kau tahu segala resikonya sebelum kau menikahi aku." Wafa mengusap air mata di pipinya dengan kasar. Dia sedikit lega walaupun hanya sedikit yang mampu ia utarakan.


Dreeert


Dreeert

__ADS_1


Dreeert


Panggilan dari sahabatnya memekik untuk diterima. Alhan mengusap tanda hijau. Ia menarik nafas pelan untuk menetralkan emosinya.


__ADS_2